Oleh: Henri E. Prasetyo.,drh.,M.Vet*
2025 : Tahun yang Menguji Daya Tahan Peternakan
Tahun 2025 menjadi babak ujian tersendiri bagi industri perunggasan Indonesia. Catatan lapangan, laporan laboratorium, hingga pengakuan para peternak menunjukkan bahwa tantangan kesehatan unggas di tahun ini datang bertubi-tubi. Musim pancaroba yang berkepanjangan, pola curah hujan tidak menentu, serta fluktuasi suhu ekstrem memicu stres pada ayam, menurunkan sistem kekebalan tubuh, dan membuka pintu bagi berbagai penyakit untuk berkembang.
Kasus penyakit saluran pernapasan mendominasi laporan kesehatan unggas tahun ini. Varian baru Infectious Bronchitis Virus (IBV) yang bersifat nefropatogenik ditemukan di beberapa wilayah produksi besar, menginfeksi ayam dengan gejala yang tidak selalu khas, sehingga menyulitkan diagnosis dini. Avian Influenza (AI) clade 2.3.4.4b juga kembali menjadi ancaman serius, terutama pada peternakan yang berada di jalur migrasi burung liar dan memiliki biosekuriti yang lemah. Sementara itu, Newcastle Disease (ND) tetap setia menjadi musuh lama yang tak pernah benar-benar hilang.
Tidak berhenti di saluran pernapasan, gangguan pencernaan seperti necrotic enteritis (NE) dan koksidiosis melonjak di banyak farm, terutama yang mulai meninggalkan penggunaan Antibiotic Growth Promoter (AGP). Penurunan efisiensi pakan, penambahan beban kerja usus, dan peningkatan beban patogen membuat performa ayam broiler tertekan. Pada sektor layer komersial, penyakit metabolik seperti Fatty Liver Syndrome dan gout meningkat tajam, sering kali dipicu oleh kualitas bahan baku pakan yang tidak stabil dan manajemen nutrisi yang tidak tepat sasaran.
Akar Masalah di Balik Maraknya Penyakit Unggas
Jika ditelusuri lebih dalam, penyebab maraknya penyakit di 2025 bukan hanya soal “virus yang lebih ganas” atau “bakteri yang resisten”. Ada kombinasi faktor yang saling memperkuat. Perubahan iklim yang memengaruhi suhu dan kelembapan kandang adalah faktor utama. Lalu, mobilitas tinggi DOC, pakan, dan pekerja antarwilayah membuat jalur penularan penyakit semakin terbuka lebar.
Di sisi lain, kebijakan pembatasan penggunaan antibiotik tanpa diiringi penerapan alternatif yang konsisten memperlemah pertahanan biologis ayam. Tidak sedikit peternak yang mencoba beralih ke herbal, probiotik, atau feed additive, namun penggunaannya tidak terstandar, sehingga hasilnya tidak maksimal. Dan yang tak kalah penting, munculnya varian virus baru yang lolos dari perlindungan vaksin konvensional menjadi tantangan teknis yang nyata.
Ancaman Penyakit di Tahun 2026 dan Strategi Pengendaliannya
Berdasarkan data epidemiologi dan pola historis, ada tiga penyakit yang diprediksi menjadi ancaman utama di tahun 2026, yaitu Re-Emerging Avian Influenza & IB Varian. AI diperkirakan akan mengalami lonjakan kasus di musim migrasi burung, terutama pada wilayah-wilayah dengan lalu lintas unggas padat. IB varian QX-like yang lebih adaptif juga berpotensi menyerang farm komersial, bahkan pada flok yang telah divaksin, jika vaksin yang digunakan tidak sesuai strain lapangan.
Outbreak Mycoplasmosis, Penyakit yang disebabkan Mycoplasma gallisepticum dan Mycoplasma synoviae ini kemungkinan meningkat seiring menurunnya kontrol infeksi sekunder akibat pengurangan antibiotik. Mycoplasmosis bisa memperparah penyakit pernapasan lain, membuat mortalitas melonjak, dan feed conversion ratio (FCR) memburuk.
Koksidiosis Resisten, Strain Eimeria yang kebal terhadap koksidiostat tertentu diprediksi makin banyak ditemukan. Hal ini sering terjadi pada farm yang tidak disiplin melakukan rotasi antikoksidia atau menggunakan dosis yang tidak tepat. Dampaknya bisa serius, pertumbuhan ayam melambat, mortalitas meningkat, dan biaya produksi membengkak.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Opini pada majalah Poultry Indonesia edisi September 2025. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi September 2025, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754 atau sirkulasipoultry@gmail.com










