Perunggasan India tumbuh pesat menjadi tulang punggung penyedia protein nasional dan kekuatan ekonomi baru, berkat modernisasi teknologi, perubahan pola konsumsi, serta dukungan kebijakan yang mendorong efisiensi dan daya saing global di tengah tantangan biaya pakan, penyakit, dan infrastruktur.
Dalam empat dekade terakhir, sektor perunggasan di India menjelma menjadi salah satu pilar utama penyedia protein hewani murah bagi masyarakat. Dari praktik budi daya tradisional berskala rumah tangga, industri ini kini berkembang menjadi sistem produksi komersial modern dengan rantai nilai (value chain) yang semakin kompleks. Ayam pedaging dan petelur tidak hanya memenuhi kebutuhan protein domestik, tetapi juga menjadi komoditas ekspor yang memberi kontribusi penting bagi ekonomi negara.
Pertumbuhan pesat ini tidak terjadi begitu saja. Peningkatan pendapatan masyarakat, perubahan pola makan, serta kesadaran akan pentingnya gizi seimbang mendorong permintaan terhadap pangan kaya protein. Jika dulu masyarakat India sangat bergantung pada kacang-kacangan sebagai sumber protein, kini ayam, telur, dan produk susu semakin banyak dikonsumsi. Menurut Economic Survey 2022–23, sektor peternakan India yang mencakup susu, daging unggas, telur, dan perikanan tumbuh dengan laju 7,9% per tahun pada periode 2014–2021. Kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto pertanian juga meningkat dari 24,3% menjadi 30,1% dalam kurun waktu tersebut.
Transformasi ini makin jelas terlihat dalam angka produksi. Menurut laporan tahunan Departemen Peternakan dan Susu India (2022–23), produksi daging ayam pedaging kini mencapai sekitar 5 juta ton per tahun. Sementara itu, riset pasar memperkirakan nilai industri perunggasan India yang saat ini mencapai 28,18 miliar dolar AS akan tumbuh 8,1% per tahun dan menembus 44,97 miliar dolar pada 2032. Tidak hanya untuk kebutuhan dalam negeri, India juga mengekspor produk unggas ke 64 negara dengan nilai 134 juta dolar AS pada 2022–23.
Sejarah panjang perunggasan di India bisa ditarik sejak masa awal kolonial, ketika ayam mulai dibudidayakan secara lebih sistematis. Namun, titik balik penting baru terjadi pada abad ke-20 dengan diperkenalkannya sistem pemeliharaan intensif. Sistem ini memungkinkan peternak memelihara ayam sepenuhnya di dalam kandang dengan teknologi modern, sehingga produktivitas meningkat pesat. Dampaknya luar biasa, dimana pada tahun 2005, India sudah memproduksi 46 miliar butir telur, dan angka itu melonjak menjadi sekitar 66 miliar pada tahun 2012. Konsumsi per kapita juga meningkat dua kali lipat dalam periode yang sama, dari 28 butir telur per orang per tahun menjadi 55 butir. Untuk daging ayam, lonjakan serupa terjadi dari hanya sekitar satu juta ton pada tahun 2000 menjadi lebih dari 3 juta ton pada 2012.
Pertumbuhan ini menempatkan India pada posisi strategis di dunia sebagai peringkat kedua produsen telur global dan ketiga dalam produksi daging ayam. Beberapa faktor mendorong percepatan ini. Pertama, naiknya pendapatan masyarakat dan pertumbuhan kelas menengah membuat ayam dan telur semakin terjangkau dan populer. Kedua, urbanisasi dan perubahan gaya hidup menciptakan pola konsumsi baru, di mana daging ayam dipilih karena harganya lebih murah dibandingkan daging sapi atau kambing, dan tidak terhalang tabu agama seperti daging babi atau sapi. Ketiga, investasi besar pada sektor pemuliaan, penetasan, hingga pemrosesan telah mendorong skala produksi yang semakin efisien.
Secara geografis, enam negara bagian di India menjadi pusat utama produksi telur dan daging ayam, yakni Andhra Pradesh, Telangana, Tamil Nadu, Maharashtra, Karnataka, dan Punjab. Dari wilayah-wilayah inilah sebagian besar pasokan nasional berasal. Bahkan, Andhra Pradesh dikenal sebagai daerah dengan konsumsi telur tertinggi, menunjukkan betapa kuatnya peran sosial dan ekonomi perunggasan di sana. Di sisi lain, ayam juga telah menjadi salah satu sumber pendapatan utama masyarakat pedesaan. Tidak hanya menyediakan protein hewani, perunggasan juga memberi pupuk organik dan membuka lapangan kerja bagi jutaan orang, baik langsung di peternakan maupun di sektor hilir seperti distribusi, pakan, dan pengolahan.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Internasional pada majalah Poultry Indonesia edisi Oktober 2025. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Oktober 2025, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754 atau sirkulasipoultry@gmail.com










