Industri perunggasan masih tetap akan tumbuh pada tahun ini walaupun tidak sebesar tahun sebelumnya
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Dari sisi ayam ras petelur, dalam tulisannya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Desember 2019 halaman 94 yang berjudul “Mendorong Terwujudnya Pabrik Tepung Telur”, Ki Musbar Mesdi menyebutkan bahwa terjadi tren produksi yang meningkat dari tahun ke tahun. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), Kementerian Pertanian, menyebutkan bahwa produksi telur ayam ras nasional sejak tahun 2017-2019 meningkat sebesar 85 persen dengan produksi rata-rata mencapai 13.200 ton per hari. Masih dari sumber yang sama, untuk potensi produksi telur pada tahun 2019 sebanyak 4.753.382 ton dengan rata-rata produksi telur per bulan sebanyak 396.115 ton.
Dalam tulisan tersebut, Ki Musbar membeberkan fakta untuk kebutuhan telur nasional pada tahun 2019 sebanyak 4.742.240 ton dengan rata-rata kebutuhan per bulan sebanyak 395.187 ton, artinya terdapat surplus sebesar 11.143 ton dengan rata-rata 929 ton per bulan. Di sisi lain, impor untuk tepung telur pada tahun 2018 sebesar 1.432 ton, sedangkan pada tahun 2019 semakin meningkat hampir dua kali lipat yakni mencapai 2.750 ton. Tren produksi yang terus meningkat ini jika tidak diimbangi dengan jumlah permintaan yang sama, maka akan membuat harga jual telur jatuh yang justru akan merugikan para peternak itu sendiri.
Maka dari itu, Ki Musbar menginisiasi sebuah koperasi untuk mewadahi peternak layer agar mencari solusi ketika suatu saat terjadi sebuah kondisi di mana produksi melebihi dari permintaan yang ada. Sementara ini pihaknya lewat koperasi tersebut berusaha untuk meningkatkan nilai tambah sekaligus meningkatkan daya simpan, juga mencoba menciptakan diferensiasi pasar melalui usaha mewujudkan pabrik tepung telur. Pabrik tepung telur tersebut dinilai dapat menjadi sebuah solusi untuk menjaga keterjaminan pasar sekaligus menjadi stabilitator bagi para peternak maupun konsumen ketika terjadi kelebihan produksi.
Penyakit unggas masih sama
Masalah penyakit memang kerapkali terdengar dari pala pelaku usaha budi daya unggas. Berdasarkan temuan di lapangan, masih ditemukan beberapa penyakit yang disebabkan oleh virus maupun bakteri. Sebut saja Avian Influenza (AI), Newcastle Disease (ND), Infectious Bronchitis (IB), Infectious Bursal Disease (IBD), dan Inclusion Body Hepatitis (IBH) masih saja menghantui peternakan di Indonesia. Belum lagi serangan infeksi bakteri seperti Kolibasilosis, Salmonelosis, Mikoplasmosis, dan Coryza tentu tidak bisa dibiarkan begitu saja. Infeksi jamur seperti Aspergilosis dan Aflatoksikosis juga masih sering dijumpai.
Baca Juga: Kejadian Penyakit di Layer dan Breeder Tahun 2019
Jika dipilah berdasarkan komoditas yaitu broiler dan layer, untuk di broiler sendiri masih berkutat pada penyakit bakterial seperti penyakit pernapasan, di antaranya yaitu CRD, CRD kompleks, dan Kolibasilosis. Sedangkan penyakit viral didominasi oleh Gumboro, ND, AI dan Inclusion Body Hepatitis (IBH) ditambah penyakit cacar yang meningkat cukup tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Sedangkan untuk ayam petelur, masih berkutat seputar penyakit pernapasan dan penyakit yang menyebabkan penurunan produksi telur. Sebagai contoh dari penyakit yang sering menimbulkan dampak penurunan produksi cukup tinggi yaitu ND dan AI. Adanya infeksi salah satu atau komplikasi dari kedua penyakit tersebut berpengaruh besar pada penurunan produksi telur. Penyakit bakterial pernapasan yang menyerang pada ayam petelur yaitu Coryza, CRD, dan Colibacillosis. Sedangkan ND dan AI menduduki peringkat atas untuk penyakit viral. Jumlah kasus Coryza, CRD kompleks, Kolera, cacar, NE, serta Ektoparasit pada tahun 2019 memang lebih tinggi dari dua tahun yang lalu.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap dari Majalah Poultry Indonesia edisi Januari 2020 dengan judul “Kilas Balik Situasi Perunggasan 2019”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153