Dengan mengedepankan konsep ekonomi berbagi, ASputra Perkasa Makmur (ASPM) dengan program Paranjê mendukung yayasan pendidikan yang ingin mengembangkan pengetahuan dan wawasan di bidang usaha industri perunggasan. Atas dasar tersebut, ASPM melakukan Penandatanganan Kerjasama Nota Kesepahaman (MoU) dengan Yayasan Pesantren Pertanian Darul Fallah berlokasi di Ciampea, Bogor, Jawa Barat Kamis (5/ 8).
Nabia Nurhamdani, selaku EVP Poultry Operations ASPM mengungkapkan bahwa kerja sama ini diharapkan dapat meningkatkan minat wirausaha para santri setelah lulus. ”Kami berharap dapat menumbuhkan jiwa kewirausahaan dan para santri dapat mandiri dan terampil berwirausaha khususnya di bidang pertanian dan peternakan setelah lulus dari pesantren,” ungkap Nabia.
Hadir pula, KH. Abdul Hanan Abbas, LC selaku Ketua Yayasan Pesantren Pertanian Darul Fallah yang mengatakan bahwa Yayasan Pesantren Pertanian Darul Fallah memiliki misi untuk mendidik para pemuda dari seluruh penjuru tanah air di bidang pertanian yang berteknologi, termasuk budidaya unggas. “Adanya bekal selama di pesantren dan keterampilan berwirausaha dalam budi daya unggas ini diharapkan selain menjadi sumber pendanaan bagi pesantren juga menjadi “teaching farm” bagi para santri dan masyarakat. Selain itu, dapat menjadi pelopor budi daya unggas yang mengadopsi teknologi dan dapat diajarkan kepada para santri serta dapat disebarluaskan kepada pesantren lain maupun masyarakat umum,” tutur Abdul Hanan.
Kerja sama dan pengembangan
Hanawijaya selaku salah satu pengurus Yayasan Pesantren Pertanian Darul Fallah menyatakan bahwa kerja sama ini merupakan tonggak sejarah bagi Darul Fallah yang ingin mengembangkan unit bisnisnya dalam bidang peternakan ayam, khususnya broiler. ”Dengan membawa konsep closed house yang merupakan teknologi modern di Peternakan broiler ke Yayasan Pesantren Pertanian Darul Fallah, semoga kami bisa menambah unit baru dengan teknologi terkini dan bimbingan ASPM,” ujarnya.
Berdasarkan penuturan dari, Prof. Dr. Ir. Nahrowi, M.Sc selaku Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University yang juga menghadiri acara tersebut secara virtual, menyampaikan bahwa program kerja sama antara ASPM dan Yayasan Pesantren Pertanian Darul Fallah merupakan program yang ditunggu-tunggu. Nahrowi menyampaikan jika program ini dilaksanakan untuk pemberdayaan masyarakat dengan tujuan untuk mengembangkan peternak kecil agar menjadi besar dan berdaya saing.
Sinergi ini sangat dibutuhkan karena saat ini efisiensi pakan tidak seimbang antara peternak kecil dan peternak atau perusahaan besar. Menurut Nahrowi, peternak kecil mudah mengalami goncangan akibat penerapan biosekuriti yang masih kurang. Kerja sama ini diharapkan dapat menyelesaikan 1 dari berbagai macam masalah perkandangan, yaitu penerapan sistem closed house. ”Jika sudah menerapkan sistem closed house, maka efisiensi pakan terbilang aman. ASPM sendiri sudah memiliki cara untuk menangani permasalahan input (pembibitan) dan output (penjualan) pada kontraknya, sehingga saya berharap kerja sama ini bisa saling menguntungkan,” tutur Nahrowi.
Kerja sama Paranjê tidak hanya yang bersifat budidaya (on farm), akan tetapi juga diarahkan untuk melakukan penyerapan hasil produksi ayam broiler dan turunannya, termasuk kerjasama dalam pengolahan daging ayam menjadi produk olahan untuk dipasarkan kepada jaringan yang dimiliki oleh Pesantren Darul Fallah.
Adanya Rumah Potong Ayam (RPA) yang saat ini dalam pengelolaan Pesantren Darul Fallah dapat dijadikan sebagai kolaborasi strategis dalam pengembangan budi daya perunggasan di pesantren melalui program Paranjê5000. Rifqi Ardliansyah, selaku EVP Business Operations ASPM, menjelaskan antusias program Kemitraan Paranjê sangat tinggi. Rifqi menginformasikan bahwa sudah ada 96 mitra Paranjê. ”Banyaknya permintaan untuk pembukaan program Kemitraan Paranjê membuat kami semakin giat untuk menyelesaikan pengembangan di wilayah Jawa Barat, sehingga kami dapat melakukan pengembangan di luar Jawa Barat dan daerah lainnya,” pungkasnya.
Sebaran Wilayah mitra Paranjê tersebar di Bandung, Bogor, Ciamis, Cirebon, Garut, Kuningan, Majalengka, Sumedang, dan Tasikmalaya. Kemitraan Paranjê saat ini didominasi oleh kalangan profesional, kemudian para milenial, peternak, dan pensiunan. “Dengan adanya kolaborasi ini, diharapkan minat para santri khususnya milenial untuk belajar berwirausaha di bidang budi daya ayam broiler dapat meningkat,” tambah Rifqi.
Berbeda dengan kemitraan konvensional pada umumnya, program kemitraan Paranjê menyediakan dua Jenis kandang closed house, yaitu Paranjê5000 dan Paranjê500 dengan masing-masing kapasitas 5000 dan 500 ekor ayam. Kandang-kandang tersebut akan di serah-pinjamkan oleh ASPM kepada mitra Paranjê untuk membantu para pemula yang ingin beternak maupun peternak yang ingin meningkatkan produksi usaha mereka.
Selain itu, ASPM juga mengembangkan aplikasi Paranjê yang dibuat khusus untuk mempermudah mitra dalam pemeliharaan broiler. Aplikasi ini akan terintegrasi oleh inti agar pemeliharaan yang dikerjakan sesuai dengan prosedur-prosedur yang sudah ditetapkan oleh ASPM, sehingga ayam yang dihasilkan baik dan siap untuk dijual ke konsumen.
Pengembangan kandang dan aplikasi Paranjê juga diikuti dengan pengembangan Sekolah Asisten Mitra yang merupakan lembaga pelatihan yang diperuntukkan bagi mereka yang akan bekerja untuk mitra Paranjê dalam lingkup kegiatan produksi. Calon Asisten Mitra Paranjê (AMP) dapat berasal dari usulan mitra atau lulusan sekolah Peternakan.
Hadirnya Sekolah Asisten Mitra ini merupakan langkah untuk menetapkan standarisasi kandang, dan merupakan solusi dari berbagai permasalahan asisten mitra, salah satunya kemampuan asisten mitra dalam mengurus kandang. Para calon AMP akan mempelajari pemeliharaan ayam dengan kurikulum yang jelas dan setelah lulus diharapkan para calon AMP memiliki ilmu yang cukup untuk memelihara ayam, terutama ayam di kandang closed house mitra ASPM. Adv









