POULTRYINDONESIA, Jakarta – Resistensi antibiotik atau antimicrobial-resistant (AMR) merupakan salah satu tantangan terbesar yang dihadapi sektor peternakan di Asia saat ini. Permintaan global akan makanan yang terus meningkat juga meningkatkan penggunaan antimikroba pada produksi ternak, termasuk pada sektor unggas. Namun, penyalahgunaan dan penggunaan antimikroba yang berlebihan menyebabkan perkembangan resistensi antimikroba, resistensi antibiotik, resistensi bakteri, yang menimbulkan ancaman signifikan bagi kesehatan hewan dan keamanan pangan serta kesehatan masyarakat.
Menghadapi permasalahan ini, Federation of Asian Veterinary Associations (FAVA) bermitra dengan Food and Agriculture Organization (FAO), dan United States Agency for International Development (USAID), menggelar webinar dengan tema “Antimicrobial Susceptibility Testing of Priority Animal Pathogens in The Asia-Pacific Region” guna mengambil langkah proaktif untuk memitigasi AMR di sektor hewan, Rabu (5/4).
Dalam kesempatannya Dr. Mary Joy Gordoncillo selaku perwakilan dari FAO Regional Office for Asia and the Pacific (FAO RAP) menyampaikan gambaran umum inisiatif FAO–RAP terkait AMR, termasuk monitoring dan surveilans terhadap bakteri dan residu antimikroba, baik pada level peternakan maupun pada produk yang dihasilkan. Bekerja sama dengan berbagai sektor, data yang dimiliki kemudian dianalisis untuk selanjutnya dapat dijadikan rekomendasi kebijakan, sehingga kebijakan yang ada merupakan kebijakan berbasis bukti (evidence-based).
“Melalui proyek ini, kami telah mengerjakan serangkaian pedoman yang telah diterbitkan. Proyek ini dilakukan dari pengumpulan data hingga pengambilan keputusan berbasis bukti untuk mencapai panduan pengobatan. Hal ini penting untuk memandu perlakuan kami. Jadi, saat ini, belum ada panduan yang berbasis bukti untuk pengobatan, sehingga antibiotik masih digunakan untuk patogen dan penyakit yang kami temui di lapangan,” jelasnya.
Baca Juga: Uji Kerentanan Antimikroba di Wilayah Asia-Pasifik
Sementar itu Prof. Rungtip Chuanchuen dari Departemen Kesehatan Masyarakat Veteriner, Universitas Chulalongkorn, mempresentasikan materinya mengenai pengujian kerentanan antimikroba dari patogen pada hewan prioritas di Asia. Menurutnya, ketika berbicara mengenai AMR, maka yang harus diprioritaskan adalah bakteri patogen yang ada pada negara tersebut, spesies dari ternak yang memiliki peran signifikan, serta antibiotik apa saja yang digunakan.
Antibiotic Susceptibility Testing (AST) merupakan prosedur laboratorium untuk menentukan antibiotik mana yang rentan terhadap organisme atau kelompok organisme tertentu atau pengobatan antimikroba mana yang secara khusus efektif untuk masing-masing pasien. AST digunakan sebagai panduan pengobatan untuk memprediksi keberhasilan atau kegagalan terapi antibiotik in vivo dan untuk memastikan kerentanan terhadap obat pilihan untuk infeksi tertentu. AST juga dapat digunakan sebagai alat epidemiologi untuk mengetahui munculnya strain resisten dari patogen bakteri utama dan mendeteksi kemungkinan resistensi obat pada patogen umum,” terangnya.
Melengkapi, Dr. Brian Lubbers dari Veterinary Antimicrobial Susceptibility Testing (VAST) – Clinical & Laboratory Standards Institute (CLSI) memaparkan laporannya mengenai AST sebagai komponen penggunaan antimikroba dalam sektor veteriner. Dengan target audiens berupa dokter hewan praktisi, laporan ini diolah untuk menggalakkan pemahaman antara dokter hewan yang menggunakan AST dengan laboratorium mikrobiologi veteriner.
Adapun Dr. Rodolphe Mader, selaku salah satu perwakilan FAO-RAP, turut mempresentasikan RESAPATH yang merupakan jejaring laboratorium untuk pengawasan AMR. Resapath bekerja dengan memantau tren dalam pengembangan resistensi antimikroba pada bakteri yang penting dalam kesehatan hewan, mendeteksi fenomena kemunculan tertentu dan mengkarakterisasi mekanisme molekuler yang terlibat, serta memberikan dukungan metodologis dan ilmiah untuk siapapun yang terlibat, baik dalam bentuk hari pelatihan, tes antar laboratorium, perumusan pendapat dan saran, penyusunan standar referensi, dan lain sebagainya.
Masih dalam acara yang sama, Prof. Bambang Pontjo Priosoeryanto, selaku Sekretaris Jenderal FAVA, mempresentasikan materinya mengenai membangun jaringan veteriner untuk memajukan pengawasan antimikroba pada patogen bakteri prioritas di wilayah Asia-Pasifik. Bambang mengatakan bahwa dokter hewan dan pekerja di bidang kesehatan hewan harus berpartisipasi aktif dalam pengambilan sampel di lapangan dan pengujiannya agar dapat melakukan langkah pengobatan dan penggunaan antimikroba yang tepat.
“Program selanjutnya dari FAVA adalah melakukan uji coba pelatihan AMR di dua negara dan membangun jejaring laboratorium AMR di negara-negara Asia-Pasifik. Ini merupakan hal yang sangat penting dimana FAVA dapat berpartisipasi dalam kegiatan ini dengan mendirikan laboratorium, sehingga dokter hewan atau praktisi klinis lebih terbiasa dengan pengambilan sampel untuk diuji kepekaan mikroba,” pungkasnya.