Pengendalian mikotoksin pada pakan penting untuk dilakukan (https://cals.ncsu.edu/)
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Pakan merupakan sumber nutrisi utama bagi ternak unggas. Pakan yang diberikan kepada ternak harus selalu terjaga kualitasnya karena pakan berperan penting untuk pertumbuhan dan perkembangan ternak. Buruknya manajemen penanganan, pengolahan, dan penyimpanan bahan pakan kerap menjadi masalah serius yang dapat memberikan dampak buruk bagi ternak unggas, salah satunya ialah mikotoksin.
Dampak buruk yang diakibatkan oleh mikotoksin akan berimplikasi kepada kesehatan manusia juga selaku konsumen produk ternak unggas. Menanggapi hal tersebut, Poultry Indonesia mengadakan Poultry TechniClass seri ke-4 dengan tema ‘Pengendalian Mikotoksin dalam Pakan untuk Pangan yang Berkualitas’ via aplikasi Zoom, Sabtu (15/10).
Baca juga : Waspada Bahaya Mikotoksin di Musim Penghujan
Pemaparan pertama dibawakan oleh Prof. Budi Tangendjaja selaku Konsultan Teknis, Nutrisi dan Teknologi Pakan menyatakan bahwa mikotoksin merupakan senyawa sekunder yang dihasilkan oleh jamur dan keberadaannya memberikan dampak negatif kepada ternak unggas. Terbentuknya mikotoksin berasal dari tingkat stress pada jamur yang dipengaruhi juga oleh oksigen, suhu, kadar air, dan kandungan gizi atau substrat. Di Indonesia sendiri, jagung merupakan bahan baku pertama yang berpotensi paling besar untuk diserang mikotoksin, yang kemudian disusul oleh bungkil kelapa.
“Saat ini, telah lebih dari 300 jenis mikotoksin yang telah diidentifikasi. Namun yang paling sering dijumpai di Indonesia adalah jenis aflatoksin yang diproduksi oleh jamur Aspergillus flavus dan A. parasiticus. Jamur dengan genus aspergillus merupakan yang dominan terhadap mikotoksin,” papar Budi.
Pencegahan pertumbuhan jamur dan mikotoksin harus dilakukan sepanjang rantai pasok jagung mulai dari proses penanaman sampai penyimpanan dan perlu diperhatikan pula bahwa kadar air memegang peranan paling penting. Langkah yang harus diperhatikan pada saat panen jagung ialah harus dipanen pada umur tua dan kadar air di bawah 22%.
Selanjutnya untuk pascapanen, kadar air jagung harus diturunkan secepatnya menjadi 14% dan bersihkan jagung dari kotoran serta tempat penyimpanan jagung. Apabila kadar air melebihi 15% dan jagung ingin disimpan lama, maka disarankan untuk menggunakan bahan pengawet anti jamur.
“Saya menyarankan di Indonesia harus mengendalikan penanaman jagung yang baik, lahannya diolah, pengendalian hama, penyediaan irigasi, pemberian pupuk yang efisien dan penyediaan bibit produk rekayasa genetika,” lanjut Budi.
Dalam kesempatan yang sama, Pui Wah Lai, PhD selaku Technical Application Lead Provimi membawakan materi terkait manajemen risiko mikotoksin. Dalam setiap kasus pada ternak unggas, mikotoksin dapat menurunkan imunitas dan performa serta menyebabkan gangguan reproduksi dan sistem gerak ternak. Namun perlu digarisbawahi bahwa tiap jenis unggas memiliki sensitivitas yang berbeda terhadap mikotoksin. Seperti broiler yang lebih sensitif terhadap jenis T2 Toksin, aflatoksin, dan ochratoksin.
Kemudian ayam breeder sangat sensitif terhadap zeraleone dan ochratoksin. Lalu untuk ayam ras petelur sensitif terhadap zearalenone, deoxynivalenol, T2 toksin, dan aflatoksin. Sensitivitas terhadap jenis unggas tertentu disebabkan oleh masing-masing genetik dari jenis unggas tersebut. Oleh karena itu, dibutuhkan strategi yang berbeda untuk setiap jenis mikotoksin tertentu.
“Salah satu solusi ketika adanya indikasi mikotoksin yaitu dengan pemberian produk anti mikotoksin yang diberikan pada pakan. Pemberian anti mikotoksin ini meliputi agen pengikat, agen pelindung usus dan hati, serta agen biotransforming yang berupa enzim dan mikroorganisme. Kelebihan dari produk anti mikotoksin ini yaitu dapat menghadapi berbagai varian mikotoksin dan berlaku juga kepada setiap jenis ternak unggas,” ucap Lai.