POULTRYINDONESIA, Jakarta – Pengiriman telur ke luar Jawa seperti ke Papua sepertinya membutuhkan penanganan lebih lanjut. Pasalnya, banyak telur yang sampai ke Papua dengan kondisi sudah rusak, busuk, serta kuning dan putih telur sudah menyatu. Oleh karena itu,dibutuhkan cara agar telur segar lebih awet dan tahan lama, sehingga sampai tujuan dengan aman.
Hal ini seperti disampaikan oleh Lukman Hakim, S.Pt., M.Pt, dari Pusat Teknologi dan Proses Pangan, dalam webinar dengan tema ” Tren Riset Produk Hewani: Tantangan dan Peluang” yang diadakan oleh Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan, Badan Riset dan Inovasi Nasional ( BRIN), melalui aplikasi Zoom, Jumat ( 21/10).
Menurutnya ada berbagai macam cara yang bisa digunakan agar telur lebih awet seperti memberi lapisan komposit pulp kakao dengan minyak buah merah. Sesuai dengan penelitian yang ia lakukan, pemberian komposit ini ternyata mampu mempertahankan kualitas fisik dan sifat fungsional telur segar, yang disimpan selama 35 hari.
Baca Juga: Dukung Penguatan Perdagangan Indonesia, CPI Lakukan Penandatanganan Kerja Sama Luar Negeri di TEI
Menurutnya pelapisan juga bisa menggunakan komposit WPC ( Whey Protein Coating),vdengan berbagai plasticizer seperti gliserol, sorbitol dan propylene glycol. Pada sebuah penelitian komposit ini ternyata mampu mempertahankan Index Kuning Telur ( IKT) selama penyimpanan.
“IKT memang mengalami penurunan, tapi nilai IKT ternyata masih dalam standar SNI yakni 0,34-49. Sedang telur segar tanpa perlakuan,yang disimpan pada suhu 20 C selama 42 hari, lebih cepat mengalami penurunan IKT. Dimana IKT awal 0,49 hingga menjadi 0,33 pada hari ke 42,” tegasnya.
Selain itu, penggunaan biodegradable chitosan, sebagai pelapis telur, ternyata dapat mempertahankan kualitas internal telur segar selama 35 hari penyimpanan. Menurutnya komposit chitosan dengan nanoselulosa, mampu menutup pori pori telur secara sempurna. Caranya adalah chitosan dilarutkan dalam asam asetat dan asam laktat kemudian dicampur dengan nanoselulosa, hasilnya menunjukkan IKT sesuai standar SNI.
“Selain itu pada sejumlah penelitian banyak yang menggunakan bahan alami seperti menggunakan ekstrak daun melinjo, penyimpanan bisa sampai 35 hari pada suhu ruang. Bisa juga menggunakan ekstrak kulit manggis, dimana penggunaan ini memberi dampak pada mempertahankan warna kuning telur, dan pemberian ekstrak teh yang mampu untuk mengurangi susut bobot telur,” pungkasnya.