Etalase pendingin daging yang kosong
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Pandemi COVID-19 memiliki efek domino bagi berbagai sektor industri perunggasan. Namun, dilema yang nyata sungguh dirasakan oleh para pekerja. Di satu sisi, mereka harus memerhatikan kondisi kesehatan agar tidak terdampak COVID-19 ataupun menjadi penular kepada orang lain. Namun di sisi lain, mereka juga diharapkan mampu terus bekerja agar stok pangan AS tetap terkendali. Ada sebagian yang memutuskan tinggal di rumah, tetapi ada pula sebagian yang memilih tetap bekerja agar industri tetap berjalan—dan agar upah mereka tidak terganggu karena pandemi ini.
Wilayah Georgia menjadi contoh konkret bagaimana COVID-19 menghantam industri perunggasan AS. Berdasarkan keterangan dalam situs berita AJC, Georgia adalah sentra produksi perunggasan AS dengan nilai US $41 miliar—yang melibatkan lebih dari 45 ribu pekerja dan berkontribusi pada 15% produksi unggas nasional. Setelah ratusan pekerja dilaporkan mengalami gejala COVID-19, laju industri pun mulai terganggu.
Selain keharusan untuk tetap hadir ke tempat kerja, penyebaran virus juga dipercepat oleh minimnya pengetahuan tentang pengendalian penyakit. Juru bicara Georgia Public Health, Nancy Nydam mengatakan tantangan lainnya adalah penyebaran virus di tempat tinggal para pekerja. Banyak pekerja yang tinggal dalam rumah berisi anggota keluarga multigenerasi, sehingga memperbesar potensi penularan.
Baca Juga: Pekerja Industri Perunggasan AS dalam Bayang COVID-19
President of Georgia Poultry Federation, Mike Giles, mengatakan bahwa para produsen unggas telah menerapkan langkah ekstra untuk melindungi para pekerjanya dari COVID-19. Hal itu dilakukan sambil terus melakukan produksi sekitar 31 juta pound daging ayam dan 7 juta telur konsumsi harian untuk menyuplai stok pangan bagi negeri. Misalnya yang dilakukan oleh Fieldale Farms, dengan mewajibkan pekerjanya untuk menggunakan masker, mencuci tangan, penggunaan disinfektan, dan pengukuran suhu tubuh sebelum memasuki tempat kerja. Jika ada pekerja yang bersuhu tubuh tinggi, maka akan mendapat penganganan lanjutan untuk mengetahui apakah dia terpapar COVID-19 atau tidak.
Para pekerja di industri perunggasan dan warga Georgia pada umumnya berpotensi terpapar Covid-19 seiring meluasnya pandemi ini. Namun dalam kondisi tersebut, industri pangan diharapkan tetap berjalan karena berkaitan langsung dengan kebutuhan pokok manusia. Oleh karena itu, kebijakan yang tepat dalam menanggulangi pandemi ini sangat diperlukan agar kebutuhan pokok tetap terpenuhi tanpa mengesampingkan keselamatan para pekerja. PI
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Juni 2020 dengan judul ”Pekerja Industri Perunggasan AS dalam Bayang COVID-19”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153