POULTRYINDONESIA, Jakarta – Industri perunggasan menjadi salah satu industri yang berkontribusi terhadap kebutuhan pangan dalam negeri. Industri tersebut setidaknya memberikan sumbangsih terhadap permintaan kebutuhan daging dan telur secara makro. Di samping kontribusinya terhadap pemenuhan kebutuhan pangan, industri peternakan unggas dianggap sebagai industri yang sangat riskan terhadap persebaran penyakit, baik penyakit yang bersifat air borne, media padat, ataupun penyakit yang berasal dari pakan ternak.
Departemen Kajian dan Kompetisi VSC FKH UGM menyelenggarakan webinar yang bertajuk “Risiko Foodborne Disease Terkait Tingginya Resistensi Antimikroba pada Peternakan Unggas” pada hari Minggu (14/08) secara daring melalui platform ZOOM. 
Lael Victoria Lesmana, selaku ketua panitia kegiatan menuturkan bahwa seminar yang berkaitan dengan penyakit unggas diharapkan akan memberikan dampak pengetahuan positif kepada masyarakat, khususnya bagi masyarakat yang berkecimpung di dunia perunggasan. Fauzan Mubarok, selaku Plt Sekretaris Jenderal VSC FKH UGM menyampaikan bahwa adanya seminar yang berkaitan dengan resistensi unggas diharapkan juga mampu untuk menambah wawasan kepada masyarakat sekaligus sebagai kegiatan antisipasi sehingga dapat terhindari dari foodborne disease. 
Prof. drh. R. Wasito, M.Sc., Ph.D. selaku Dosen FKH UGM menyampaikan informasi mengenai food safety atau keamanan pangan. Wasiti menyampaikan bahwa keamanan pangan sangat penting terhadap kelangsungan makhluk hidup. “Keamanan pangan sangat penting untuk ditegakkan mulai dari industri peternakan unggas (hulu). Proses industrialisasi peternakan unggas yang sesuai prosedur akan menghasilkan produk unggas yang ramah dan layak dikonsumsi oleh masyarakat,” jelasnya. 
Baca Juga: Platform Ayoternak Bidik Daerah Jatim
Ia menjelaskan adanya penambahan antibiotik dapat berpengaruh terhadap resistensi bakteri terhadap pangan yang dihasilkan, hal tersebut dikarenakan antibiotik bersifat resisten. Ia menambahkan antibiotik yang diberikan kepada unggas melalui pakan dapat masuk melalui darah (serum) sehingga terdeposisi menjadi lemak atau menjadi produk ternak yang dapat dikonsumsi oleh masyarakat. 
“Bakteri yang sudah kebal terhadap antibiotik akan membutuhkan dosis antibiotik yang lebih banyak lagi, sehingga residu yang dihasilkan akan semakin banyak. Hal tersebut apabila diberikan kepada ternak unggas melalui pakan, maka bisa jadi di dalam daging terdapat residual yang bersifat resisten apabila dikonsumsi oleh masyarakat” tuturnya. 
Ia menyampaikan bahwa antibiotik dapat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup unggas karena antibiotik dapat membantu unggas dalam menghalangi infeksi unggas. Akan tetapi ia juga menjelaskan bahwa pemakaian antibiotik berdampak pada residu yang ditinggalkan di dalam produk unggas. Ia juga menambahkan, adanya residu di dalam produk unggas dapat berpengaruh terhadap resistensi antibiotik yang ditularkan kepada masyarakat melalui produk unggas yang dikonsumsi, hal tersebut apabila dijalankan dalam jangka panjang tentu akan membahayakan konsumen (masyarakat). 
“Pentingnya untuk mengedepankan keamanan produksi pangan agar terhindar dari zat-zat yang berbahaya bagi konsumen yang mengonsumsinya. Sudah sepatutnya keamanan pangan menjadi suatu hal yang dipertimbangkan oleh industri perunggasan dalam menjaga kualitas produknya,” pungkasnya.