Seorang wanita hendak menyantap ayam goreng tepung (sumber gambar: www.eatthis.com)
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Menanggapi masalah jatuhnya harga ayam hidup di tingkat peternak pada bulan-bulan yang lalu, Nasrullah mengaku telah melakukan berapa langkah kongkret yang sudah dilakukan Kementerian Pertanian dalam menanggulangi jatuhnya harga livebird (LB) di tingkat peternak yakni pertama, telah melaksanakan fasilitasi pemasaran secara digital melalui market place berbasis online dalam memasarkan livebird. Hal ini sebagai upaya merperlancar pendistribusian produk peternakan, mencarikan peluang pasar bagi para peternak dan para UMKM peternakan.
Kedua, mendorong kemitraan B to B, salah satunya telah ditandatangani Program Kerja Sama (PKS) Pembelian Ayam Ras Pedaging dilakukan antara PT Universal Agri Bisnisindo dengan Gopan dan Pinsar Indonesia. PT Universal Agri Bisnisindo (UAB) atau De Heus selaku pihak yang membeli ayam ras (broiler) dengan peternak mandiri yang akan diwakili oleh asosiasi peternak, yaitu Gopan dan Pinsar Indonesia selaku penyedia ayam ras (broiler).
Secara teknis, PT UAB memberikan subsidi harga Rp2.000 di atas harga pasar, pembayaran dilakukan berupa pakan oleh PT UAB. Untuk mempercepat penyelesaian permasalahan harga maka PKS ini akan segera diimplementasikan. Upaya yang juga telah dilakukan sambil menunggu pelaksanaan rencana pembelian ayam ras oleh BUMN, sesuai amanah pada Permendag No. 07/2020, adalah telah mengumpulkan perusahaan pembibit dan pabrik pakan berkomitmen untuk menyerap livebird dari peternak mandiri di Pulau Jawa.
Ketiga, melakukan promosi Gemar Makan Ayam (Gemaya) dengan tujuan meningkatkan konsumsi daging ayam di masyarakat sehingga permintaan dalam negeri terhadap daging ayam meningkat. Promosi tersebut telah dilaksanakan melalui pelaksanaan webinar Kick Off Launching Gemaya dengan tema Tingkatkan Konsumsi Ayam Dalam Negeri, Selamatkan Peternak dan Peningkatan Gizi; melaksanakan sosialisasi kampanye digital melalui website Gemaya dengan alamat http://gemaya.ditjenpkh.pertanian.go.id; serta melaksanakan lomba kompetisi foto dan resep masakan serta video digital kampanye Gemaya.
Baca Juga: Kementan Luncurkan Gemaya untuk Tingkatkan Konsumsi Ayam
Pendapat lain disampaikan oleh Sigit Prabowo yang merupakan Ketua Harian Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) saat diwawancarai oleh Poultry Indonesia di Bogor, Rabu (11/11). Menurutnya untuk menstabilkan harga ayam hidup dalam jangka panjang tidak bisa hanya dikerjakan dengan solusi jangka pendek saja, melainkan pemerintah juga berkewajiban dalam membangun rencana produksi yang terukur, seimbang, dan berkesinambungan.
Masih menurut Sigit, upaya stabilisasi lain yang bisa dilakukan adalah industri pascapanen harus dibenahi. Ayam merupakan industri biologis, yang kalau sudah berproduksi maka tidak bisa dihentikan begitu saja. Oleh karena itu, industri pascapanen tetap harus digarap ke depan, apalagi wacana impor karkas ayam beku dari Brasil sudah semakin santer masuk ke Indonesia.
Selanjutnya adalah pemetaan wilayah produksi. Sentra produksi broiler di Pulau Jawa seperti Jawa Tengah sudah harus mulai dibangun banyak RPHU dan cold storage di sana sebagai lumbung pangan dan pengaman stok pangan nasional sehingga harga ayam hidup di Pulau Jawa juga bisa lebih stabil. “Bagaimanapun over stock akan sangat memengaruhi harga di tingkat peternak,” jelasnya.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Januari 2021 dengan judul “Industri Perunggasan di Tengah Pandemi”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153