POULTRYINDONESIA, Jakarta — Instabilitasi harga pangan menjadi isu yang sangat hangat untuk menutup tahun 2022. Melonjaknya beberapa harga bahan pangan menjadi hal yang tak tertahankan. Dibutuhkan usulan dari berbagai stakeholder untuk mendapatkan solusi dalam isu tersebut. Berangkat dari hal tersebut, Badan Pangan Nasional/National Food Agency (NFA) menggelar seminar yang mengusung tema “Orkestrasi NFA dalam stabilisasi pasokan dan harga pangan” secara daring melalui aplikasi Zoom, Jumat, (9/12).
Direktur Ketersediaan Pangan, NFA, Budi Waryanto mengenalkan tentang badan pangan nasional yang mengelola dan menetapkan kebijakan stabilitas harga pangan. Adapun komoditas yang dikelola seperti beras, jagung , kedelai, gula, bawang, telur unggas, daging ruminansia, daging unggas dan cabai.
“Tata kelola Kebijakan pangan indonesia yaitu Pengelolaan cadangan pangan pemerintah, pelaksanaan stabilisasi pasokan dan harga, penguatan sistem logistik pangan, pengendalian dan pengentasan wilayah rentan rawan pangan dan gizi, pengembangan penganekaragaman konsumsi pangan dan keamanan pangan,” Tegas Budi.
Budi menambahkan tingkat Inflasi indonesia pada november 2022 sebesar 5,42 % turun 0,29% dibandingkan bulan Oktober 2022. Faktor utama yang mempengaruhi adalah kenaikan inflasi pada sektor transportasi (15,45% – 16,03% pada Oktober 22) dan pangan (5,87% – 6,76 pada Oktober 2022).
Baca Juga: Tingkatkan Efisiensi Produksi, SV IPB University dan Tri Group Kembangkan Inovasi Smart Mini Closed House
Selanjutnya, Rudi Sugiarto selaku Pengawas Keselamatan Pelayaran Ditjen Hubungan laut Kementerian Perhubungan menjelaskan terkait penyelenggaraan angkutan publik untuk angkutan barang dari dan ke daerah tertinggal, terpencil, terluar dan perbatasan.
“Perkembangan tol laut dari 2015 – 2022, jumlah pelabuhan singgah mencapai 130 pelabuhan dan 518.440-ton muatan. Setiap pemesanan barang yang kami approve terlebih dahulu ialah barang kebutuhan pokok, setelah barang kebutuhan pokok sudah tidak ada pemesanan baru kami mengangkut barang lainnya,” ungkap Rudi.
Dalam materinya H. Abdul Aziz selaku Kepala Dinas Ketahanan Pangan NTB mengatakan bahwa ketersediaan pangan pokok di Provinsi NTB yang komoditi utamanya beras dan jagung.
“Ketersedian beras di provinsi NTB sampai dengan oktober 2022, prognosis produksi beras sampai dengan 1 juta hasilnya cukup untuk ketersediaan 11 bulan kedepan, artinya sampai dengan panen yang akan datang stok pangan NTB masih aman,” ungkapnya.
Instrumen terkait dengan stabilisasi pangan dan harga pangan sangat penting, karena merupakan salah satu tugas Bappenas.
“Apa yang saya sampaikan pada kesempatan ini, hanya memberikan gambaran karna terkait dengan prognosisnya terkait dengan neraca bahan. makanya itu akan tergambarkan bahwa suatu daerah surplus atau tidak. Jika surplus tentu dia harus didistribusikan supaya harganya bisa jadi stabil dan sesuai dengan ketentuan hak dan maupun HPP,” tambahnya.
Masih dalam acara yang sama, Prof. Bustanul Arifin selaku Guru Besar Ekonomi Pertanian Universitas Lampung, menyarankan untuk meningkatkan efektivitas stabilitas pangan dan perlunya integrasi supply dan demand. Di sisi suplai meliputi manajemen usaha tani, infrastruktur perdesaan, teknologi informasi dan dukungan Research and Development pertanian. Sedangkan di sisi demand meliputi contract farming, pendalaman industri, percepatan diversifikasi konsumsi, industri kuliner dan peningkatan kualitas gizi masyarakat.