Oleh: Fauzan Farinduan*
Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah pada berbagai sektor, terlebih lagi dalam sektor pertanian. Kementerian Pertanian RI juga telah mencanangkan upaya mewujudkan indonesia menjadi lumbung pangan dunia. Untuk itu, kebijakan pemerintah pun selalu mengupayakan agar hal tersebut dapat terwujud, salah satunya dari sub sektor peternakan.
Dalam mewujudkan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia, dibutuhkan andil peternak milenial untuk regenerasi dan menjadikan sub sektor peternakan Indonesia yang lebih cerah.
Sub sektor peternakan merupakan sub sektor yang berkontribusi terhadap proses pembangunan di Indonesia, khususnya di pedesaan. Sub sektor peternakan selalu dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan protein hewani manusia. Kebutuhan pangan Indonesia selalu meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. Bahkan pandemi Covid-19 ini membuat masyarakat haus akan kebutuhan protein untuk membentuk antibodi pada tubuh supaya terhindar dari virus tersebut.
Sektor produksi ayam ras pedaging Indonesia sepanjang tahun 2022 mengalami surplus. Melansir data Badan Pusat Statistik (BPS, 2022) melalui prognosanya, tahun ini Indonesia memproduksi daging ayam ras sebanyak 3,8 juta ton dengan surplus 689 ribu ton. Masih dari sumber yang sama, produksi telur ayam ras pada tahun 2022 memproduksi sebanyak 5,9 juta ton dengan surplus 615 ribu ton. Berkaca dari hal tersebut, maka fokus stakeholders tidak hanya terpaku pada sektor hulu saja, melainkan sudah seharusnya sektor hilir juga menjadi atensi tersendiri.
Hal ini turut menjadi perhatian bagi peternak milenial, yaitu pelaku usaha ternak muda dengan rentang usia 18 sampai 40 tahun. Para peternak golongan ini akan cenderung memiliki jiwa kreativitas yang tinggi dan banyak inovasi, sehingga diharapkan dapat meningkatkan efektivitas peternakan. Namun penurunan peternak milenial dikhawatirkan dapat menimbulkan krisis peternak pada masa depan. Maka dari itu, perlunya regenerasi peternak agar sub sektor peternakan dapat mengalami peningkatan.
Bisnis sub sektor peternakan di Indonesia memiliki peluang yang sangat menjanjikan. Namun pada saat ini masih banyak sekali lulusan dari sekolah menengah kejuruan atau perguruan tinggi Jurusan Peternakan yang menganggur, bahkan mereka lebih memilih bekerja lintas jurusan. Seperti halnya berkecimpung di dunia perbankan. Menurut penulis, hal ini sangat disayangkan dan menjadi sorotan masyarakat apabila terus-menerus terjadi.
Faktor yang mendasari hal tersebut adalah kurangnya minat dan kepercayaan diri mereka untuk terjun ke dunia peternakan. Selain itu segi materiel yaitu kurang nya modal untuk merintis usaha ternak juga menjadi salah satu faktor, sehingga banyak dari mereka tidak mendedikasikan ilmu yang mereka dapat saat pendidikan, Kemudian faktor lainnya adalah lapangan pekerjaan yang makin sempit, karena setiap tahunnya perguruan tinggi di Indonesia meluluskan ribuan mahasiswa. Sedangkan di sisi lain hal itu tidak seimbang dengan lapangan pekerjaan yang ada.
Program pemerintah dalam rangka mendukung sub sektor peternakan seharusnya dapat dimanfaatkan dengan maksimal. Dengan demikian, para pemuda berani untuk memulai usaha seperti Penumbuhan Wirausaha Muda Pertanian (PWMP) bagi mahasiswa perguruan tinggi dan penanaman modal kelompok ternak di desa. Hal tersebut dinilai dapat menjawab permasalahan permodalan.
Setelah berkomitmen dan yakin dengan kemampuan diri yang ada, maka pola pikir yang mengacu kepada job creator seharusnya bisa memanfaatkan peluang secara maksimal. Kemudian, memperoleh dukungan dari berbagai pihak juga membuat peternak milenial makin termotivasi, sehingga terjadi regenerasi peternak untuk masa depan peternakan yang lebih cerah.
Seiring berjalannya waktu, pemerintah juga harus selalu mengawasi dan mengevaluasi program yang sudah ada, sehingga program dapat berjalan lebih efektif dan efisien. Tentu, program tersebut juga harus memberikan peluang pada peternak milenial untuk mengembangkan usaha ternaknya, sehingga peternak milenial ini diharapkan mampu menopang pangan Indonesia dan mampu menjadi lumbung pangan dunia. *Wakil ketua BEM Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor (Polbangtan Bogor)
Artikel ini merupakan rubrik Suara Mahasiswa pada majalah Poultry Indonesia edisi Desember 2022. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasi@poultryindonesia.com
Menyukai ini:
Suka Memuat...