Oleh : Ray Sandy Mahesaputra, S.Pt.*
Menjaga uniformity dalam proses budi daya ayam ras menjadi suatu hal yang penting. Uniformity yang baik menjadi salah satu indikator bahwa ayam memiliki performa produktivitas yang baik.
Sebagai usaha biologis, tentu resiko dalam budi daya ayam ras menjadi hal yang perlu diperhatikan. Terlebih dengan kondisi pasar yang sedemikian fluktuatif, mengharuskan peternak untuk cermat dalam menjalankan usaha ini. Dimana proses pemeliharaan menjadi ranah yang paling bisa dikontrol oleh peternak. Untuk itu, keberhasilan dalam proses budi daya yang ditunjukkan dengan performa produksi yang sesuai dengan standar menjadi sebuah keharusan.
Manajemen pemeliharaan yang tepat harus dijalankan untuk mencapai hal tersebut. Salah satu indikator penting yang sering kali dijadikan patokan oleh peternak dalam proses budi daya adalah keseragaman atau uniformity. Secara sederhana, uniformity merupakan ukuran kesamaan fisik dan performa ayam dalam satu populasi atau kawanan ayam ras. Uniformity yang baik menjadi salah satu indikator bahwa ayam memiliki performa produktivitas yang baik.
Tingkat uniformity yang baik harus diupayakan sejak awal pemeliharaan. Pada ayam petelur, status uniformity saat fase pullet akan berpengaruh terhadap produksi telur di fase laying. Uniformity pullet dapat dikatakan baik jika persentasenya di atas 80%, cukup jika 75-80%, dan buruk jika dibawah 75%. Nilai ini dihitung berdasarkan jumlah rata-rata bobot badan (BB) pullet ± 10 persen dari populasi. Untuk sampel penimbangan yang dilakukan sekitar 1-2 persen dari populasi. Kemudian secara fisik, indikator uniformity bisa dilihat dari BB pullet yang harus seragam dan sesuai dengan standar. Apabila mengacu dari berbagai guide book, terdapat rentang minimal dan maksimal pada standar BB pullet. Sebisa mungkin diusahakan BB berada atau mendekati angka maksimal rentang standar yang telah ditetapkan.
Agar angka uniformity baik, maka proses grading harus dilaksanakan dengan tepat. Grading merupakan kegiatan mengelompokkan pullet sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan ukurannya agar pullet menjadi seragam, sehingga dapat membatasi persaingan dalam mendapatkan pakan. Grading dapat dilakukan secara total atau grading visual. Biasanya di 4 minggu awal akan dilakukan grading total seminggu sekali karena lebih mudah dalam proses handling. Hal ini dilakukan dengan harapan ketika ayam sudah mulai besar dan proses handling semakin susah, grade dari pullet nya sudah terpola dan bisa dilakukan grading visual.
Dengan dilakukannya grading, maka pullet dengan BB yang lebih dan kurang dari standar akan dikelompokkan atau dipisahkan untuk kemudian mendapat perlakuan pemberian pakan yang berbeda. Pullet dengan BB kurang dari standar dapat diberi pakan lebih banyak dibanding pullet dengan BB standar. Sebaliknya, pullet dengan BB melebihi standar dapat diberi pakan di bawah pullet dengan BB standar. Pasalnya BB yang melebihi standar juga bukan sebuah hal yang bagus, karena dapat menimbulkan terjadinya penumpukan lemak di daerah perut (abdomen) yang dapat mempengaruhi elastisitas saluran telur. Akibatnya saat terjadi kontraksi saluran telur relatif sulit kembali ke posisi semula atau ada sebagian saluran telur yang berada di luar, sehingga memicu terjadinya kasus prolapsus.
Disisi lain, indikator uniformity bukan hanya dilihat dari BB semata, namun ukuran kerangka tubuh (frame size) juga perlu diperhatikan. Pasalnya frame size akan sangat berpengaruh terhadap produksi dan kualitas telur. Hal ini berhubungan pada proses pembentukan telur, di mana kalsium pada frame size akan diambil untuk dideposisikan pada kerabang telur. Untuk itu, kerangka tubuh yang kecil akan mensuplai kalsium yang sedikit, sehingga akan berpengaruh pada kerabang telur, ukuran telur menjadi relatif kecil dan juga dapat mengakibatkan kelumpuhan. Standar frame size dapat diketahui dengan mengukur tulang kering (shank) pada pullet. Panjang shank ayam ras petelur sekitar 10,5 cm pada umur 19 minggu dan di umur minggu setelahnya tidak akan mengalami pertambahan panjang yang signifikan atau cenderung tetap.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Tata Laksana pada majalah Poultry Indonesia edisi September 2024. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi September 2024, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754 atau sirkulasipoultry@gmail.com










