Broiler sedang bergerombol pada sekam yang terlihat sedikit basah (sumber gambar: freepik.com)
Oleh: drh. Esti Dhamayanti*
Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Dwiyantoro dan Pribadi (2017) dalam Analisis Faktor Penularan Mycoplasma gallisepticum pada Peternakan Ayam Petelur Komersial dengan Metode Analytical Hierarchy Process (AHP) menyatakan bahwa pengelolaan pemeliharaan merupakan resiko yang paling berpotensi dalam penularan MG di peternakan ayam komersial.
Manajemen pemeliharaan yang memicu terjadinya MG tertinggi ditunjukkan pada ayam petelur komersial yang dipelihara dalam kandang dengan jumlah ayam lebih dari 3.000 ekor. Kepadatan yang tinggi ini menyebabkan ayam tidak dapat memanfaatkan oksigen secara maksimal dan udara di sekitar menjadi rentan terhadap penyebaran penyakit. Aspek lainnya yang dapat mendukung CRD yaitu suhu lingkungan (terlalu panas maupun dingin), kelembapan yang tinggi, kebersihan kandang, dan kadar amonia dalam kadang.
Melihat dari beberapa faktor yang mendukung terjadinya CRD maupun sampai dengan CRD kompleks, maka aspek manajemen pemeliharan perlu diperbaiki sebagai tindakan pencegahan. Jika memang CRD sudah terlanjur menginfeksi dalam peternakan, barulah tindakan pengobatan ini dilakukan. Tindakan pencegahan merupakan sebuah langkah yang murah-meriah bagi industri peternakan yang menuntut efisiensi. Tindakan pencegahan yang berkaitan dengan menurunkan jumlah amonia dalam kandang dapat dilakukan dengan mengatur ventilasi, kotoran, suhu, kelembapan, dan diet pakan. Pengaturan ventilasi ini bertujuan agar udara dapat bersirkulasi dengan baik dalam kandang, sehingga amonia tidak terperangkap dalam kandang.
Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Malomo et al. (2018), diet protein dapat menurunkan kadar amonia dalam pakan. Memberikan suplemen pakan juga dapat menjadi langkah mitigasi untuk menurunkan kadar amonia salah satunya dengan menggunakan enzim. Penggunaan enzim dapat memperbaiki akurasi dalam formulasi dan menurunkan pembuangan dengan percuma dari nutrien yang dibutuhkan oleh ayam.
Penambahan imbuhan pakan seperti prebiotik, probiotik, maupun tanaman herbal (Yucca schidigera) (Ayoub et al. 2019) juga dapat menjadi pilihan untuk mengurangi emisi amonia. Prinsipnya yaitu dengan menyeimbangkan mikrobiota pada usus, sehingga penyerapan nutrisi dari pakan semakin maksimal. Penyerapan nutrisi yang baik selain akan mendukung performa produksi ayam juga akan menurunkan kadar amonia dan mendukung sistem pertahanan tubuh ayam, sehingga ayam akan merespon dengan baik vaksinasi. Respon yang baik didapatkan dengan catatan disertai dengan faktor pendukung lainnya, seperti minimnya paparan stres internal maupun eksternal.
Naola Ferguson-Noel, DVM, MAM, Ph.D selaku Associate Professor dari University of Georgia dalam Poultry Health Today mengatakan bahwa terdapat beberapa kontrol maupun metode interverensi yang dapat dilakukan pada kasus MG. ”Metode yang digunakan tergantung pada di negara mana Anda berasal, apa yang menjadi tujuan Anda, dan fokusnya,” jelasnya.
Baca Juga: Trend Ras Petelur dan Kesehatan Unggas 2020
Tiap negara memiliki insidensi terhadap mikoplasma yang berbeda, ada yang memiliki insidensi yang rendah dan ada pula yang memiliki insidensi yang tinggi. Naola mengatakan bahwa pada negara yang insidensi MG-nya rendah dapat melakukan kontrol dengan cara eradikasi, sedangkan pada negara yang memiliki kasus tinggi maka tindakan yang dapat dilakukan yaitu vaksinasi dan medikasi. Pertimbangan dalam pemilihan program ini juga didasari dari perhitungan ekonomi dari suatu produksi. ”Pada daerah yang memiliki tingkat insidensi yang rendah, hal yang anda bisa lakukan yaitu melakukan tes lalu mengeliminasi yang menunjukan hasil positif. Jadi hal tersebut (ayam yang terserang penyakit) tidak menjadi sumber penyakit dalam seluruh industri,” ucapnya.
Naola mengatakan bahwa terdapat beberapa metode peneguhan diagnosa yang dapat digunakan di antaranya ELISA dan PCR. Metode yang saat ini dikembangkan yaitu next-generation sequencing. Metode ini kita dapat secara cepat mengsekuen keseluruhan genome. Tidak hanya dari mikoplasma, tetapi juga patogen-patogen lainnya yang terdapat pada saluran respirasi. Metode ini juga dapat mempersingkat proses diagnosa karena sampel yang didapatkan melalui swab trakea tidak harus diisolasi atau dikultur. Hal tersebut akan memudahkan dokter hewan maupun produser bilamana ada resistensi antibiotik atau faktor virulensi lainnya. Metode ini juga dapat membantu mengontrol Mycoplasma ke depannya.
Beberapa jenis vaksin memiliki perbedaan dalam hal efikasi maupun keamananya, sehingga perlu adanya pertimbangan matang yang perlu dipikirkan untuk situasi tertentu. Menurut Rosales (2019) dalam ’Ross Note – Mycoplasmosis Prevention and Control’ yang dikeluarkan oleh Aviagen menyatakan bahwa vaksin live MG (F, 6/85, dan strain TS-11) sering digunakan pada peternakan layer komersil. Vaksin ini lebih jarang digunakan pada broiler breeders karena aspek keamanannya, termasuk resiko transmisi pada flok yang belum di vaksinasi.
Pengobatan pada kasus Mycoplasmosis menjadi penyakit yang rentan terhadap antibiotik golongan tetrasiklin, fluoroquinolon, tylosin, tiamulin, dan kombinasi antara linkomisin dan spectinomisin. Idealnya, tes kepekaan Mycoplasma terhadap jenis antibiotik yang diberikan perlu dilakukan untuk memaksimalkan langkah pengobatan. Penulis tidak akan bosan-bosannya mengingatkan agar pengobatan menggunakan antibiotik ini harus di bawah pengawasan dokter hewan agar dosis yang diberikannya sesuai dan menurunkan resiko resistensi antimikroba pada bakteri.
Kesadaran diri untuk berselaras dengan lingkungan perlu ditanamkan bagi para pelaku di industri perunggasan sehingga terciptanya suatu sistem pertanian dan peternakan yang berkelanjutan. Keselarasan ini juga mendukung keseimbangan dari aspek kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.*Wartawan Poultry Indonesia
Artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel Majalah Poultry Indonesia edisi Oktober 2020 dengan judul “Kontrol Amonia Untuk Cegah Cekrek”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153