POULTRYINDONESIA, Jakarta – USSEC didukung oleh GPMT menggelar seminar teknis bertajuk “Soybean Meal Cost Evaluation.” Acara yang dihadiri oleh 40 orang dengan 4 orang pembicara ini dilaksanakan di Hotel Grand Zuri BSD City, Banten pada Selasa (30/7).

Dalam paparan Neneth Reas selaku Regional Technical Director USSEC-SEA, ia menjelaskan saat ini banyak sekali teknologi canggih yang digunakan dalam pembuatan bahan baku pakan, begitupun dalam produksi kedelai, mencakup seluruh rantai pasok mulai dari penanaman hingga pengolahan semuanya menggunakan teknologi canggih.

“Mulai dari pemilihan bibit berkualitas yang tahan terhadap hama, penyakit dan herbisida. Di ladang kita menggunakan GPS, drone dan sensor untuk memantau kondisi lahan secara real-time, data yang didapat mempermudah pemupukan, irigasi, dan aplikasi pestisida yang aman. Big data pun dipergunakan untuk memantau cuaca dan mempermudah pengambilan keputusan karena disertai data. Begitupun pada proses pengolahan mulai dari penghancuran dan penggilingan menggunakan alat yang canggih. Yang lebih penting semua proses ini sudah mematuhi protokol yang ada,” ujar Neneth.

Selanjutnya Budi Tangendjaja selaku Technical Consultant USSEC Indonesia memaparkan pentingnya konsistensi suatu bahan pakan. Bahan baku ekspor seringkali datang dengan kandungan berbeda, itu dikarenakan produsennya berbeda, lebih baik membeli bahan baku dari satu produsen yang dapat mensuplai dengan jumlah besar dalam satu tempat yang sama. Karena konsistensi bukan hanya dilihat dari kandungannya, tetapi dipengaruhi asal kedelainya, cara penyimpanan, cara distribusi. 

“Konsistensi pakan itu sumber hemat, lebih baik membeli pakan yang kandungannya konsisten. Ada 157 zat gizi yang diperhitungkan dalam pembuatan ransum yang tepat, dalam proses pemilihannya jangan hanya memperhatikan kandungan protein saja karena zat gizi yang tinggi protein ini biasanya mahal, tetapi melihat energi itu lebih penting, pertimbangkan juga serat. Serat yang tinggi itu indikasi energi rendah, sulit dicerna seringkali mengurangi efisiensi pakan. Jangan sampai pakan yang kita pakai ini kandungan gizinya rendah dengan biaya yang tinggi,” Budi menambahkan.

Masih dalam seminar yang sama, Jessica Swan selaku Senior Merchandiser AG Processing Inc. mengklaim bahwa kedelai yang ditanam berasal dari tanah yang subur dan dikelola dengan baik, tidak ada pekerja anak ataupun perbudakan, juga memiliki sertifikat ramah lingkungan.

“Isu sustainability sedang hangat diperbincangkan, banyak masyarakat yang sudah peduli terhadap isu tersebut. Selaku produsen kita mendengar dan memperbaiki kualitas kedelai kami, 67% kedelai kami sekarang sudah mendapat sertifikasi SSAP (US Soy Sustainability Assurance Protocol ), kita juga berupaya menghitung dan mengurangi jejak karbon sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan,” jelasnya.

Terakhir Ibnu Edy Wiyono selaku Country Representative USSEC menjelaskan bahwa SSAP (U.S. Soy Sustainability Assurance Protocol) adalah protokol yang bertujuan untuk memastikan bahwa kedelai yang diproduksi oleh petani AS memenuhi standar sustainability. SSAP mencakup berbagai aspek mulai dari kesuburan tanah, penggunaan air, upaya pengurangan emisi gas karbon, penggunaan bahan kimia minimalis dan juga isu sosial seperti mempertimbangkan kesejahteraan pekerja dan tidak mempekerjakan anak dibawah umur.

“Dengan adanya SSAP ini memberikan manfaat bagi produsen, konsumen, dan juga lingkungan. Protokol ini memastikan produsen bukan hanya memenuhi kebutuhan pasar tetapi juga melindungi sumber daya alam, mengurangi emisi, dan mendukung kesejahteraan sosial. SSAP juga memastikan kualitas produk yang tinggi, dapat meningkatkan kepercayaan konsumen. Dengan memenuhi standar SSAP yang ketat, kedelai AS menjadi lebih kompetitif di pasar global dan memenuhi persyaratan regulasi internasional”.