POULTRYINDONESIA, Jakarta – Setiap bulannya, Departemen Pertanian AS merilis laporan yang berfokus pada perkiraan terbaru untuk pasokan dan permintaan pertanian dunia. Laporan bulan Agustus diberikan melalui webinar secara online melalui aplikasi Zoom Meeting, Senin (15/8). Selama webinar, para ahli memberikan wawasan, tren, dan analisis seputar laporan dan apa artinya bagi kompleks kedelai global.
World’s Agricultural Supply and Demand, yang umumnya dikenal sebagai WASDE, merupakan laporan yang berisikan analisis kondisi fundamental pasar komoditas pertanian yang digunakan oleh petani, pedagang, pemerintah, dan bisnis di seluruh dunia. Laporan ini menjadi indikator dari penawaran, permintaan, dan harga kedelai.
Laporan untuk bulan Agustus disampaikan oleh Mac Marshall, selaku Vice President of Market Intelligence USSEC. Mac menyampaikan bahwa area tanam dan panen AS direvisi turun sebesar 0,3 meter acre dimana area yang ditanam sekarang 88,025 juta acre. Imbal hasil AS direvisi naik dari 51,5 bu/ac menjadi 51,9 bu/ac. Ukuran panen AS 2022 direvisi naik 26 juta gantang menjadi 4,531 miliar gantang.
“Ekspor AS tahun 22/23 meningkat sebanyak 20 juta gantang menjadi 2,155 miliar gantang. Persedian akhir dunia tahun 22/23 direvisi naik sebanyak 1,8 MMT menjadi 101,41 MMT. Ekspor Argentina direvisi turun sebesar 0,4 MMT menjadi 4,3 MMT. Produksi China meningkat 0,9 MMT menjadi 18,4 MMT. Penggunaan domestik UE direvisi turun sebesar 0,4 MMT menjadi 17,5 MMT,” lapor Mac.
Baca Juga: Upaya Pencegahan Penyakit Menular di Industri Perunggasan
Brent Babb, selaku Regional Director USSEC untuk Eropa/Timur Tengah dan Afrika Utara (EU/MENA), menyampaikan bahwa total ekspor kedelai AS tahun ini ke kawasan EU/MENA adalah 11,1 juta metrik ton. Angka ini meningkat 23% dibandingkan tahun lalu. “Wilayah EU/MENA menjadi rumah bagi empat dari lima pasar kedelai AS yang tumbuh paling cepat tahun pemasaran ini, seperti Mesir, Arab, Turki, dan Afrika Utara,” ungkapnya.
Data yang dilaporkan oleh Mac dan Brent kemudian didiskusikan bersama dengan Emily French, selaku Founder dari Global Ag Protein. Dengan data yang ada Emily optimis bahwa industri kedelai akan panjang umur dan bertahan lama. “Kita sudah melalui pandemi selama dua tahun ke belakang, mengalami goncangan sedemikian rupa, akan tetapi kita masih bisa bertahan. Saya pikir, kita akan baik-baik saja kedepannya,” pungkas Emily.