Penerapan biosekuriti di panjang kunci kesehatan unggas
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Kondisi cuaca yang tak menentu dan peningkatan suhu lingkungan, menuntut para peternak untuk harus ekstra waspada dan menerapkan manajemen kesehatan yang ketat.
Melihat kondisi tersebut, Majalah Poultry Indonesia menggelar Webinar Poultry Indonesia Forum edisi ke-5 bertemakan “Kilas Balik Penyakit Unggas dan Proyeksinya” melalui aplikasi Zoom, Sabtu (21/11).
Direktur Kesehatan Hewan, Ditjen PKH, Kementan, drh. Fadjar Sumping Tjatur Rassa, Ph.D menjelaskan bahwa berdasarkan Permentan No. 4026 tahun 2013, terdapat 25 penyakit hewan menular strategis (PHMS) yang ada di Indonesia.
Menurutnya, dari 25 penyakit tersebut Avian Influenza (AI) menjadi peringkat pertama yang harus diwaspadai. Fadjar berujar, dalam pengendalian AI, pemerintah menjalankan strategi utama seperti deteksi, pelaporan, biosekuriti, vaksinasi, zona kompartemen bebas AI, dan surveilans epidemiologi, pengawasan lalu lintas dan penataan sanitasi rantai pasar unggas.
“Tak hanya itu, langkah edukasi, peraturan dan kemitraan pemerintah dan swasta juga menjadi strategi penunjang pengendalian AI,” ujar Fadjar.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Bidang Organisasi ASOHI, drh. Gowinda Sibit menyampaikan bahwa tidak bisa dipungkiri telah terjadi beberapa perubahan pada industri obat hewan dari sebelum dan ketika pandemi terjadi.
Baca Juga: Budi Daya Ayam Butuh Ketepatan dalam Biosekuriti dan Vaksinasi
Menurutnya, terdapat ancaman pertumbuhan negatif pada industri obat hewan tahun 2020, karena mengikuti kondisi industri peternakan sendiri.
“Pertumbuhan obat hewan tergantung dengan kondisi pertumbuhan sub sektor peternakan sendiri dan untuk proyeksi pada tahun 2021, perlu adanya langkah antisipasi atas rencana pemerintah terkait pelarangan golongan antibiotika tertentu, dan kombinasi antibiotika, serta implementasi kebijakan AMR dengan penerapan Pedoman Umum AMU,” terangnya.
Gowinda melihat bahwa saat ini dan tahun depan, penyakit pada unggas masih didominasi oleh penyakit-penyakit saluran pencernaan di antaranya Coccidiosis, Necrotic Enteritis dan Kolibasilosis yang bisa mengganggu produktivitas.
Hal senada diungkapkan oleh Guru Besar FKH, IPB University, Prof. Dr. drh. I Wayan T. Wibawan, MS. Menurutnya, kesehatan saluran pencernaan mempunyai peran penting sebagai pertahanan tubuh dan penopang produksi pada ayam.
“Saluran pencernaan merupakan tempat terjadinya proses pencernaan pakan dan penyerapan nutrien, barrier pertama terhadap infeksi, serta di sepanjang usus halus ada mekanisme kekebalan yang sangat penting dalam penolakan infeksi seperti sel Goblet, daun Peyer, dan peristaltik,” jelasnya.
Wayan melanjutkan bahwa untuk menjaga kesehatan saluran cerna, mikroba dalam usus harus seimbang, yakni mikroorganisme baik (85%) dan mikroorganisme berpotensi patogen (15%).
Sementara itu, narasumber berikutnya drh. Hari Wahjudi selaku Technical Service Manager Poultry East Area, PT Boehringer Ingelheim Indonesia membawakan materi terkait imunosupresi yang disebabkan oleh IBD & Marek’.
Menurutnya penyakit IBD merupakan penyakit yang sangat diwaspadai di seluruh dunia dan secara ekonomi sangatlah merugikan serta dapat menyebabkan imunosupresi pada broiler maupun layer.
Di sisi lain, MD adalah penyakit lymphotropik ayam yang disebabkan oleh alpha herpesvirus, ditandai dengan perkembangan tumor di organ-organ viseral dan kelumpuhan.
“Melakukan program vaksinasi yang tepat merupakan cara efektif dalam pencegahan virus ini,” ungkapnya.
Dari perspektif praktisi, Ir Jenny Soelistiani, MM, Ketua Pinsar Petelur Nasional (PPN) Lampung mengungkapkan bahwa penerapan biosekuriti 3 zona merupakan cara yang efektif untuk mencegah agen penyakit yang hendak masuk.
Namun, dirinya juga mengakui bahwa banyak faktor non teknis yang harus diperhatikan untuk mewujudkan hal tersebut. Menurutnya, untuk menumbuhkan praktik biosekuriti yang baik atau bahkan NKV, diperlukan kesadaran dan sinergi bersama.
“Seperti halnya peternak di Lampung yang telah bekerja sama dengan berbagai stakeholder, maka tumbuhlah kesadaran biosekuriti yang baik pada para peternak dan bahkan dapat berbasis wilayah,” tegasnya.