Kemajuan teknologi dan inovasi yang sangat pesat dapat mendukung permintaan dalam budi daya sektor perunggasan agar menghasilkan produksi ayam yang lebih berkelanjutan, aman, berwawasan kesejahteraan hewan, dan efisien. Melalui inovasi dan teknologi vaksinasi yang dimiliki Ceva Animal Health Indonesia dapat mendukung tercapainya harapan tersebut.
Ceva menyelenggarakan seminar “Ideal in-ovo vaccination” yang diharapkan dapat memberikan informasi dalam menunjang efisiensi dan produktivitas dalam industri perunggasan komersial yang diselenggarakan secara daring melalui aplikasi Zoom, Rabu (4/8).
Dalam sambutan pembukaan seminar, Ayatullah M Natsir selaku Poultry Business Unit Manager PT Ceva Animal Health Indonesia menyebutkan bahwa vaksinasi broiler yang dilakukan di hatchery merupakan langkah awal dalam upaya perlindungan lebih dini dan optimal. “Beberapa tahun lalu, Ceva telah memperkenalkan teknologi terbaru vektor vaksin ND pertama di Indonesia dan dapat diaplikasikan secara in-ovo,” ucap Ayat.
Sudah banyak negara-negara yang sukses mengintegrasikan teknologi in-ovo dengan teknologi automatic yang lainnya. Pada kesempatan ini Ceva Animal Health Indonesia memperkenalkan kembali dua equipment inovasinya dalam memaksimalkan
vaksinasi in-ovo kedepannya, EggInject in-ovo system dan Laser Life candling system. “Kedua equipment ini dapat saling mendukung untuk mengurangi kontaminasi memaksimalkan vaksinasi in-ovo kedepannya. Sudah banyak perusahaan sektor perunggasan di Indonesia yang menggunakan teknologi ini dan memberikan benefit perlindungan dini pada unggas sejak di hatchery,” paparnya.
Vaksinasi in-ovo di hatchery
Program vaksinasi DOC broiler di hatchery saat ini adalah suatu keniscayaan untuk menunjang efisiensi dan produktivitas di industri broiler komersial. Saat ini, teknologi vaksinasi semakin mendukung budi daya perunggasan modern. Namun, masih banyak yang belum memahami pentingnya vaksinasi dini secara in-ovo bagi unggas. Atas dasar tersebut, Ceva Animal Health Indonesia mengundang Tony Unandar selaku Private Poultry Consultant yang menjadi pembicara dalam seminar ini.
Dalam seminar ini, Tony memaparkan mengenai “In ovo Vaccination – A Smart Way To Construct Early Trained Immunity In Modern Birds”, dimana program vaksinasi in-ovo dapat menjadi perlindungan awal dan melatih imunitas pada unggas sejak di hatchery.
Selanjutnya menurut Tony, pada program vaksinasi in-ovo peternak harus mengetahui lebih dahulu proses vaksin yang dilakukan dan apa saja keuntungan yang akan didapatkan. Semakin lambat pemberian vaksinasi unggas, maka semakin rentan terkontaminasi mikroba ataupun patogen lainnya. “Kita sudah mengetahui bahwa pemberian vaksinasi hatchery ini dapat diberikan dengan dua cara, yaitu secara in-ovo pada masa embrional saat telur usia 18-19 hari masa inkubasi, dan satu hari setelah menetas (injeksi subkutan). Proses vaksinasi selanjutnya biasanya di farm dengan diberikan melalui spray, minum atau melalui tetes mata,” terang Tony.
Pemberian vaksin di hatchery secara in-ovo maupun injeksi subkutan dapat memberikan respon baik bagi unggas dan memberikan keseragaman respon imun yang akan membuat unggas akan lebih siap menghadapi patogen saat di farm dan total deplesi akan lebih rendah.
“Penelitian mengenai vaksin in-ovo terus berkembang. Saat ini, sudah ada vaksin rekombinan dan vektor vaksin dimana bisa membawa maternal genetic lebih dari satu patogen artinya bisa lebih dari 2 – 6 patogen. Dalam penelitian sudah dibuktikan bahwa sel tubuh ayam memiliki respon yang lebih baik dan dapat berkembang mendeteksi berbagai jenis patogen. Jadi, melalui vaksinasi in ovo dapat memberikan “early immune response” yang mengaktifkan berbagai sel imun untuk melindungi ternak,” ungkap Tony.
Selain itu, penelitian imunologi pun turut berkembang. Keberadaan innate imunity memberikan respon yang hebat dan presisten sejak pemberian vaksinasi in-ovo. Dimana, adanya innate imunity ini dapat memberikan respon dan melatih imun sejak dini. “Innate imunity dapat menggertak sel-sel muda dan melatihnya untuk berkembang dan memberikan pertahanan imun pada patogen yang ada di lapangan, secara temporer dapat melindungi dari mikroba lain dipahami sebagai trained imunity,” terang Tony. Maka dari itu, pemberian vaksinasi in-ovo sangat direkomendasikan sebagai perlindungan dini dalam tumbuh kembang unggas.
Perlindungan dini
Ayatullah M Natsir dalam acara yang sama, juga menyampaikan pembahasan mengenai “Early Protection to control Gumboro and Newcastle Disease”. Dalam pemaparannya Ayat menyebutkan aspek kunci dalam vaksinasi dalam perunggasan, yakni keamanan, efikasi vaksin, kompabilitas dengan vaksin lainnya, kemudahan dalam penggunaan dan pengaplikasian dan bersifat massal dan dapat terkontrol pemberian vaksin untuk setiap ternak.
Dalam perlindungan unggas terhadap penyakit IBD atau gumboro, Ayat menjelaskan bahwa pemberian vaksinasi membutuhkan tingkat maternal antibodi yang tepat agar proses vaksinasi lebih optimal. “Pemberian vaksin di kandang memiliki tantangan variasi kondisi maternal antibodi pada unggas, maka dari itu vaksinasi di hatchery dapat menjadi solusi,” tutur Ayat.
15 tahun lalu, Ceva Animal Health telah memperkenalkan imun kompleks vaksin Transmune® IBD dengan strain Winterfield 2512 yakni antibodi spesifik yang disebut Virus Protecting Immunoglobulins. Dimana dapat memberikan antibodi yang bekerja tidak hanya melindungi vaksin virus dari maternal antibodi dan dalam pemberian secara in-ovo dapat pula melindungi embrio.
“Imun kompleks vaksin merupakan ikatan antara vaksin virus dengan antibodi yang memiliki keunikan karena tidak semua imun kompleks vaksin sama. Pada Transmune® IBD memberikan keseimbangan antara antibodi dan virus dalam berbegai kondisi maternal antibodi yang dimiliki oleh unggas,” ungkapnya. Transmune® IBD merupakan vaksin yang aman pada seluruh level dari maternal antibodi (low, medium, high) dengan teknologi imun kompleks dalam mengatasi penyakit gumboro.
Di beberapa negara endemik penyakit Newcastle Disease, anak ayam umur sehari (DOC) membawa antibodi turunan maternal tingkat tinggi yang dapat mengganggu vaksin ND live atau vaksin ND kill yang diberikan di hatchery. Dalam penanganan penyakit Newcastle Disease, Ceva Animal Health memiliki Vectormune® ND.
Pemberiannya dapat dilakukan sejak dini secara in-ovo maupun injeksi subkutan. Vectormune® ND merupakan vaksin yang menggunakan HVT sebagai vektor dalam genomnya. “Adanya HVT ND pada Vectormune® ND, tidak terdeteksi sebagai virus ND utuh. Sehingga Vectormune® ND dapat bekerja dan tidak terpengaruh oleh maternal antibodi,” lanjut Ayat.
Vectormune® ND diklaim berhasil memunculkan kekebalan terhadap Newcastle Disease. Melalui penelitian yang dilakukan oleh Ceva Animal Health, Vectormune® ND memberikan proteksi sebanyak 95% sejak usia 3 minggu dan pada minggu selanjutnya tingkat kekebalan terhadap ND telah terproteksi 100% untuk komersial broiler Cobb500, sedangkan rHVT IBD-ND lainnya muncul saat usia 4 minggu. Kemudian, kejadian shedding dari ND juga terlihat sangat rendah. Kombinasi penggunaan Transmune® IBD dan Vectormune® ND di farm dapat memberikan proteksi lengkap dan sebagai vaksinasi ideal dapat diberikan secara in-ovo dan subkutan di hatchery.
Teknologi vaksinasi
Chalermchai Skulphuek DVM,MSc. selaku Vaccination Service & Equipment Manager Ceva Asia turut hadir memberikan penjelasan mengenai proses vaksinasi in-ovo. Dalam penjelasannya, ia mengatakan bahwa vaksinasi in-ovo sudah banyak dilakukan hampir di seluruh dunia.
“Penggunaan vaksinasi in-ovo memberikan beberapa keuntungan yaitu, memberikan respon imun yang baik, mengurangi tingkat stress pada DOC, mengurangi kontaminasi, tingkat akurasi vaksin yang tinggi, kualitas terjamin dan tenaga kerja yang efisien,” jelasnya.
Dalam industri perunggasan, Ceva memiliki rangkaian vaksinasi in ovo yang ideal dengan menggunakan teknologi dan servis terbaik melalui LaserLife candling system dan Egg Inject in-ovo system. Teknologi candling telur melalui LaserLife yang dimiliki Ceva dapat mengidentifikasi emisi panas embrio aktif secara otomatis. Dengan akurasi, dan kecepatan tinggi hingga 99,9%, dapat menemukan telur dengan embrio fertil ataupun infertil. Pada proses ini LaserLife akan menandai 3 kriteria telur yakni telur dengan embrio yang hidup, clear egg, dan embrio yang mati. Kemudian, dapat mengetahui dengan mudah data akses secara real time. “Setelah melalui proses candling, telur yang terpilih akan melalui Egg Inject untuk dilakukan proses vaksinasi in ovo melalui teknologi paten dual pressure injection system. Hanya telur dengan embrio yang hidup akan ditransfer untuk diberikan vaksin secara in-ovo,” ungkap Chalermchai.
Pemberian vaksinasi modern ini memberikan banyak keuntungan di hatchery, dengan telur yang terpilih untuk di injeksi, dapat mengurangi kontaminasi selama proses vaksinasi in ovo dan mengurangi resiko di hatchery. Melalui program C.H.I.C.K. (Ceva Hatchery Immunisation Control Keys) dari Ceva, mampu memberikan paket pelayanan lengkap di hatchery. Program yang ditawarkan meliputi prosedur pengoperasian yang mencakup 5 bagian untuk memberikan penggunaan terbaik vaksin unggas Ceva di hatchery: vaksin, peralatan, teknik vaksinasi, pengawasan & diagnosa, serta keahlian dan pelatihan. Adv