Pada infeksi tahap subkronis oleh kuman Cp atau kombinasi infeksi koksidia dan kuman Cp, ayam sering kali menampilkan kotoran yang berlendir dengan materi pakan yang tidak tercerna sempurna dan adanya perdarahan yang disertai hemolisa sel darah merah. Pada infeksi murni oleh koksidia tidak terjadi hemolisa sel darah merah, sehingga lendir tidak berwarna alias tetap jernih.
Oleh:  Tony Unandar*
Koksidia sebagai penyebab koksidiosis, mempunyai suatu karakter yang unik, yaitu spesifisitas yang tinggi terhadap induk semang yang diinfeksi, terhadap lokasi infeksi, dan terhadap antibodi yang terbentuk.  Oleh sebab itu, untuk mendapatkan tingkat proteksi yang optimal, vaksin koksidia biasanya mengandung lebih dari satu jenis koksidia.

Gejala klinis ayam yang mengalami infeksi tunggal, baik koksidiosis atau enteritis nekrotikan, atau bahkan infeksi kombinasi dari keduanya sangatlah mirip. Sangat sulit untuk membedakannya jika tanpa melakukan  pengamatan pada feses ayam tersebut

Vaksin koksidia biasanya mengandung ookista yang infektif yang sudah dilemahkan. Vaksin yang beredar umumnya mengandung ookista yang berasal dari jenis-jenis koksidia yang virulen, sehingga faktanya masih sering menimbulkan reaksi pasca vaksinasi yang signifikan. Beberapa tahun terakhir juga sudah dikembangkan beberapa jenis vaksin yang jauh lebih aman, yaitu dalam bentuk precursor type.
Aplikasi vaksin biasanya melalui air minum, semprot di hatchery, atau disemprotkan pada pakan. Aplikasi lewat spray atau semprot pakan biasanya dilakukan saat umur ayam 1 hingga 4 hari, sedangkan aplikasi lewat air minum biasanya dilakukan antara umur 7-10 hari.  Kekebalan yang protektif akan terbentuk jika ayam sudah mengalami infeksi minimal tiga siklus koksidia yang berasal dari vaksin.  Tata laksana litter sampai ayam berumur 8 minggu juga sangat menentukan tingkat keberhasilan program vaksinasi ini.
Pada kenyataannya, berhubung bibit koksidia yang digunakan dalam vaksin yang beredar di lapangan sebenarnya berasal dari strain koksidia yang virulen, maka perlu juga dicermati reaksi pasca vaksinasi setelah pemberian vaksin koksidia.  Dengan demikian, tindakan antisipatif dapat dilakukan untuk mengurangi resiko kerugian yang lebih besar.
Berdasarkan pengalaman, ada tiga titik kritis pasca pemberian vaksin koksidia di lapangan. Yang pertama, pada kurun waktu 1-3 hari pasca vaksinasi sering ditemukan adanya kasus “intersusceptio jejuni”. Hal ini bisa terjadi karena kondisi umum ayam yang divaksinasi sangat lemah, misalnya mengalami dehidrasi berat, ditambah dengan adanya bibit koksidia vaksin menyerang hampir sepanjang permukaan usus yang ada. 
Akibatnya, terjadi hiperperistaltik usus yang dalam kondisi tertentu yang bisa menyebabkan terbelitnya jaringan usus satu sama lain yang disebut intersusceptio jejuni.  Untuk mengatasi hal ini, tentu saja kondisi ayam yang akan divaksin dengan vaksin koksidia haruslah prima.
Baca juga : Interaksi Koksidiosis & Enteritis Nekrotik
Titik kritis yang kedua, pada kurun waktu 7-14 hari pasca vaksinasi umumnya ditemukan kasus-kasus dengan gejala koksidiosis. Hal ini bisa terjadi karena dalam kurun waktu sampai dengan 3 minggu pasca vaksinasi umumnya kekebalan terhadap koksidia belum terbentuk, namun pada sisi lain populasi koksidia yang berasal dari vaksin sudah cukup tinggi di dalam litter di sekitar ayam yang juga dapat bertindak sebagai koksidia tantang lapangan (field-challenge coccidia).
Untuk mengatasi hal ini, sangatlah dianjurkan melakukan beberapa tindakan pasca vaksinasi, seperti mempercepat pelebaran brooder, menambah bahan litter, menjaga kualitas litter agar tidak terlalu lembap, atau bila perlu memberikan obat antikoksi melalui air minum selama 1-3 hari untuk mengurangi kerusakan permukaan usus yang lebih parah yang selanjutnya dapat mengganggu proses-proses pencernaan pakan.
Titik kritis yang ketiga, pada kurun waktu 3-5 minggu pasca vaksinasi umumnya ditemukan kasus-kasus enteritis nekrotik atau Necrotic Enteritis (NE).  Hal ini bisa terjadi karena adanya iritasi pada permukaan usus ayam yang disebabkan oleh serangan bibit koksidia dari vaksin mengakibatkan sekresi lendir dari kelenjar Lieberkuhn dan Goblet cells yang berlebihan.
Kondisi ini tentu saja akan memicu kuman Clostridium perfringens (Cp) yang secara normal ada dalam usus ayam untuk melakukan replikasi dengan cepat.  Perlu dicatat bahwa kuman Cp termasuk kuman yang bersifat mukolitik (mucolytic bacteria) yang artinya kuman dapat menggunakan protein lendir (mucin) sebagai sumber nutrisi ataupun energinya dalam proses perkembangbiakannya.
Untuk mengatasi hal ini, sangatlah dianjurkan untuk melakukan program kontrol terhadap tantangan kuman Cp pasca vaksinasi koksidia selama paling sedikit 3 minggu, yaitu antara umur 3-6 minggu pasca vaksinasi. Beberapa sediaan imbuhan pakan yang dapat digunakan, misalnya preparat antibiotika Bacitracin dalam bentuk Zinc Bacitracin ataupun Bacitracin Methyl Disalisilate, sediaan herbal atau phytogenic compounds, dan essential oils atau minyak terbang seperti Carvacrol dengan dosis sesuai seperti yang dianjurkan.
Interaksi antara Koksidia dan kuman Cp
Suatu kondisi pasca penggunaan vaksin koksidia di lapangan dapat menjadi faktor pencetus untuk terjadinya kasus Necrotic Enteritis (NE) pada industri ayam modern.  Namun pada kenyataannya, kasus NE umumnya selalu menyertai infeksi koksidia yang disebabkan oleh adanya tantangan bibit koksidia lapangan (field challenge), sekalipun dalam bentuk “mild challenge”.  Patogenesis kejadiannya pun tampaknya serupa.
Selanjutnya, realita di lapangan juga mengindikasikan adanya kasus-kasus NE dalam siklus kehidupan ayam modern, di mana baik pada ayam petelur komersial maupun pada ayam bibit (parent stock) umumnya terjadi pada umur-umur di sekitar puncak produksi telur. Tingginya kebutuhan oksigen di sekitar puncak produksi telur tentu saja akan mengakibatkan ayam dalam kondisi hipoksia atau kekurangan oksigen pada tingkat jaringan tubuh dengan pelbagai derajat keparahan.
Dari “kacamata” kuman Cp, kondisi ini tentu saja merupakan kondisi yang ideal untuk bertumbuh dan berkembangbiak secara aktif dengan cara mengubah bentuknya yang tadinya dalam bentuk spora menjadi bentuk vegetatif yang aktif. Ini adalah patogenesis kejadian NE yang paling lazim di lapangan pada ayam petelur, baik pada ayam petelur komersial maupun pada ayam bibit. Itulah sebabnya mengapa kasus-kasus NE yang kadang kala sampai mengakibatkan kematian ayam sering kali terjadi disekitar umur-umur tersebut di atas.
Untuk mengantisipasi kejadian tersebut di atas, pada titik-titik kritis di mana kemungkinan terjadi tantangan kuman Cp lapangan, sangatlah dianjurkan untuk melakukan praktek pemberian program pencegahan NE dengan sediaan antibiotika ataupun sediaan alternatif antibiotika, seperti phytogenic compounds alias preparat herbal via pakan, dalam kurun waktu tertentu sangat dianjurkan. Dengan demikian, kantong tidak terkuras akibat ulah kuman oportunis yang satu ini. *Anggota Dewan Pakar ASOHI
Artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel Majalah Poultry Indonesia edisi Januari 2022 dengan judul “Interaksi Koksidiosis & Enteritis Nekrotik”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silakan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153