Tanya:
Saya mau tanya untuk ayam petelur yang memasuki masa produksi, apakah perlu divaksinasi ulang vaksin ND-IB-EDS yang sebelumnya sudah diberikan pada umur 15 minggu? Terima kasih.
Sdr. Max, Sukabumi – Jawa Barat

Jawab:
Terima kasih atas pertanyaan yang disampaikan. Vaksinasi ND-IB-EDS pada masa pullet dilakukan pada umur 15-16 minggu atau sekitar 2-3 minggu sebelum masa produksi. Vaksinasi tersebut perlu dilakukan untuk mempersiapkan ayam saat masa produksi supaya tidak terserang penyakit ND, IB, dan EDS yang dapat menyerang sistem reproduksi. Vaksinasi menjelang masa produksi bertujuan supaya antibodi protektif yang dihasilkan dapat bertahan lama hingga puncak produksi. Sehingga vaksinasi ND, IB, dan EDS pada umur 15 minggu perlu dilakukan.

Pada masa produksi perlu dilakukan vaksinasi ulang terhadap penyakit-penyakit yang mengganggu produksi telur, yaitu ND, AI, dan IB. Vaksinasi ulang ND dan IB dilakukan tiap 1-3 bulan menggunakan vaksin aktif atau tiap 3-6 bulan jika menggunakan vaksin inaktif. Vaksinasi ulang AI minimal 2 kali, yaitu umur 32-34 minggu (atau 2 minggu setelah puncak produksi) dan umur 47-49 minggu (atau 15 minggu setelah vaksinasi AI ke-4).

Program Vaksinasi Ayam Petelur

Lama perlindungan suatu vaksin tergantung jenis aktif atau inaktif, kondisi ayam (sehat atau sakit), pemeliharaan ayam (benar atau bahkan ada beberapa yang menyimpang/tidak benar), serta kondisi peternakan (banyak terpapar bibit penyakit atau tidak). Secara umum, vaksin killed dapat melindungi ayam selama 3-4 minggu post.vaksinasi. Jika menggunakan vaksin live durasi imunitas selama 2-3 minggu. Durasi vaksin inaktif lebih panjang dari vaksin aktif karena vaksin inaktif memiliki sifat efek depo. Efek depo artinya penyerapan perlahan sedikit demi sedikit di sirkulasi darah. Untuk menentukan jadwal vaksinasi yang tepat dapat dipertimbangkan dari hasil monitoring titer antibodi. Ketika nilai titer diketahui sudah mendekati standar minimal protektif, maka peternak perlu melakukan revaksinasi. Jika level antibodi ayam berada di bawah standar dan pada saat itu sedang banyak kasus penyakit, maka kekebalan tubuh tidak mampu menahan serangan bibit penyakit.

Monitoring titer antibodi untuk menentukan jadwal revaksinasi disarankan untuk peternakan layer maupun breeder setiap 1 bulan sekali. Titer antibodi humoral ayam (antibodi yang bersirkulasi di dalam darah) dapat diukur menggunakan uji serologi yang dapat dilakukan di laboratorium terdekat. Teknik uji ini menggunakan serum darah sebagai sampel, karena di dalamnya terkandung antibodi yang merupakan zat kebal yang dihasilkan oleh sel darah putih untuk memerangi antigen (bibit penyakit).

Upaya Menjaga Kestabilan Kondisi Kesehatan Ayam

Selain jadwal vaksinasi, dalam penyusunan program kesehatan juga tak lepas dari tatalaksana vaksinasi, pemberian suplemen atau suportif lainnya, maupun pencegahan dari lingkungan, antara lain:

  • Melakukan vaksinasi secara tepat (ketepatan penentuan jadwal vaksinasi, kualitas vaksin, tatalaksana vaksinasi yang sesuai, dan kondisi ayam saat divaksin) untuk memberikan kekebalan terhadap tantangan penyakit. Program vaksinasi dapat menggunakan contoh panduan yang telah Medion susun menggunakan vaksin Medivac pada laman website Medion.
  • Status kondisi tubuh ayam akibat stres atau agen immunosuppressant (penyebab imunosupresi) dapat memengaruhi pembentukan antibodi hasil vaksinasi. Hindari faktor imunosupresi seperti stres, mikotoksin, penyakit Gumboro, Marek disease, dan beberapa faktor imunosupresi lain yang dapat menghambat pembentukan antibodi dan menyebabkan reaksi post vaksinasi yang berlebihan.
  • Untuk meminimalkan atau menghilangkan faktor imunosupresi perlu diberikan Imustim sebagai imunostimulan herbal yang dapat membantu mengoptimalkan hasil vaksinasi. Sedangkan Reduvir bisa diberikan sebagai suportif herbal untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan mengurangi kematian pada unggas yang terinfeksi virus.
  • Berikan suportif multivitamin dengan Fortevit atau Vita Stress untuk meningkatkan stamina tubuh dan melindungi ayam dari infeksi penyakit. Selain itu, dapat pula diberikan herbal Respitoran untuk membantu mengatasi gangguan pernapasan baik disebabkan karena infeksi maupun sebagai efek post-vaksinasi.
  • Feed additive diberikan dengan tujuan tertentu, seperti toxin binder dan mold inhibitor untuk menangani kontaminasi jamur dan racun jamur dalam pakan (Fungitox, Freetox). Penambahan fitobiotik sebagai alternatif pengganti AGP dan koksidiostat seperti Optigrin.
  • Selain program kesehatan, tindakan pencegahan penyakit juga dilakukan dengan penerapan biosecurity operasional yang baik. Terapkan pembatasan lalu lintas dengan pengaturan zona hijau, kuning, dan merah. Kemudian sanitasi dan desinfeksi kandang dengan membatasi kendaraan, peralatan, orang yang keluar-masuk, dan melakukan desinfeksi kandang secara rutin dan disiplin. Seperti bisa dengan menggunakan desinfektan Medisep, sarana transportasi dengan Sporades, kandang dan peralatan Neo Antisep, serta air minum dengan Desinsep.ADV.