Oleh : Elis Helinna*
Wabah flu burung atau AI yang tak biasa saat ini telah menginfeksi sedikitnya belasan peternakan sapi perah di 8 negara bagian Amerika Serikat, menurut pernyataan pemerintah federal dan negara bagian. Infeksi di peternakan sapi ini merupakan yang pertama kalinya terjadi di Amerika Serikat (AS).
Penyebaran virus avian influenza (AI) ke spesies hewan mamalia seperti sapi telah menambah kekhawatiran para ilmuwan akan kemungkinan terjadinya pandemi di masa mendatang. Seperti dilaporkan kantor berita Reuter bulan lalu, mengutip pernyataan direktur jenderal Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (World Organisation for Animal Health/WOAH) penyebaran virus AI ke spesies lain serta sebaran geografisnya yang kian meluas telah meningkatkan risiko penyebaran ke manusia.
Virus yang diidentifikasi merupakan versi yang sama dengan H5N1, subtipe influenza yang telah beredar di AS selama beberapa tahun terakhir. Sejauh ini, ilmuwan belum menemukan bukti bahwa virus ini bermutasi yang akan dengan mudah menular ke manusia. Para ahli dari pemerintah juga mengatakan bahwa risikonya terhadap kesehatan masyarakat masih rendah, namun perkembangan terakhir tak pelak meningkatkan kekhawatiran akan merebaknya wabah AI yang telah menginfeksi jutaan unggas dan hewan mamalia air di seluruh dunia.
Sebelumnya, sapi tidak dimasukkan dalam golongan hewan yang berisiko mudah terinfeksi AI. Richard Webby, seorang ahli virus influenza di St. Jude Children’s Research Hospital mengungkapkan bahwa fakta bahwa sapi bisa terinfeksi, virusnya bisa mereplikasi, bisa membuat sapi sakit merupakan sesuatu yang tidak pernah terprediksi. Namun tahun ini laporan adanya sapi yang sakit di Texas dan New Mexico, dimana hasilnya menunjukkan terinfeksi virus AI menyisakan pertanyaan bagaimana virus ini bisa masuk ke sapi.
Kabar baiknya adalah sejauh ini sapi yang terinfeksi hanya mengalami sakit ringan yang kemudian bisa pulih kembali, tidak sampai harus dimusnahkan. Penyakit ini juga menyerang sapi-sapi yang tua dengan gejala-gejala menurunnya nafsu makan, temperatur yang tinggi, dan produksi susu yang turun secara signifikan. Susu yang dihasilkan oleh sapi yang sakit juga lebih kental dan tak berwarna. Virus juga ditemukan dalam susu yang tidak dipasteurisasi yang diambil dari sapi yang sakit.
Pada bulan sebelumnya (Maret 2024), Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (World Organization of Animal Health/WOAH) menyebutkan bahwa dua negara bagian Amerika Serikat (AS) yakni Kansas dan Texas melaporkan terjadinya kasus infeksi AI pada sapi perah. Sapi-sapi di peternakan komersial tersebut mengalami sakit, laktasi menurun, kehilangan nafsu makan dan tanda-tanda klinis lain. Dari pemeriksaan laboratorium Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) pada masing-masing kasus, dideteksi adanya HPAI H5N1 clade 2.3.4.4b yang berasal dari bovine.
Dengan adanya kasus infeksi virus H5N1 pada sapi, menambah daftar spesies yang terinfeksi virus AI. Sebelumnya, sejumlah kambing di Stevens County, Minnesota juga tertular virus AI. Virus ini telah mengakibatkan pemusnahan ratusan juta unggas di seluruh dunia dalam beberapa tahun terakhir, yang mana penyebaran virus utamanya dibawa oleh unggas liar yang bermigrasi. Kendati jumlah wabah telah menurun pada musim dingin ini, namun virus AI telah menyebar ke sejumlah wilayah baru, termasuk Amerika Selatan dan Antartika, serta menginfeksi lebih banyak spesies hewan dan membunuh koloni spesies langka.
Rubah merupakan spesies mamalia yang biasanya banyak terinfeksi, namun virus ini juga menginfeksi kucing, harimau, anjing laut, lumba-lumba dan beruang. “Selama beberapa bulan terakhir, kami menemukan sejumlah kasus AI yang bervariasi spesiesnya. Perkembangan ini mengkhawatirkan. Semakin banyak spesies yang terkena AI, bisa jadi meningkatkan risiko penularan pada manusia,” ujar Monique Eloit, Direktur Jenderal Organisasi yang berpusat di Paris.*Koresponden Poultry Indonesia di New York
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Internasional pada majalah Poultry Indonesia edisi Mei 2024. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Mei 2024, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasi@poultryindonesia.com
Menyukai ini:
Suka Memuat...