Gopan dan Pinsar laksanakan Rembuk Perunggasan Nasional ke VIII
POULTRYINDONESIA, Bandung – Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) dan Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (PINSAR Indonesia) kembali menyelenggarakan Rembuk Perunggasan Nasional VIII dengan tema ‘Perkuat Sinergitas Kolaborasi Antar Peternak dalam Mewujudkan Iklim Usaha Ayam Broiler Nasional yang Berdaulat, Adil dan Sejahtera Bagi Semua’ yang bertempat di Trans Grand Ballroom, Jl. Jendral Gatot Subroto No.289 Bandung, Jawa Barat, Selasa (2/3).
Rembuk tersebut bertujuan untuk menjaga harga ayam hidup di tingkat peternak agar bisa menguntungkan.
Menurut Jerry Sambuaga selaku Wakil Menteri Perdagangan yang hadir dalam acara tersebut mengatakan bahwa perlu adanya sinergitas antarstakeholder untuk meningkatkan produktivitas dan soliditas antarpelaku, perusahaan dan masyarakat.
“Saya sedikit kaget, saya pikir ternyata konsumsi masyarakat untuk daging ayam dan telur itu sudah tinggi, ternyata jika dibandingkan untuk negara lain konsumsi masih sedikit. Momen ini sangat baik untuk meningkatkan konsumsi itu secara nasional karena akan sangat berdampak pada pertumbuhan dan kesejahteraan dari hulu ke hilir,” ucap Jerry. 
Sementara itu menurut Singgih Januratmoko yang merupakan Ketua Umum PINSAR Indonesia sekaligus Anggota DPR RI komisi VI periode 2019-2024 juga menjelaskan bahwa konsumsi daging ayam dan telur Indonesia itu memang masih rendah.
Baca Juga: Kementan Luncurkan Gemaya Untuk Tingkatkan Konsumsi Ayam
Selama ini memang kondisi peternakan terutama daya beli sangat memengaruhi konsumsi daging ayam dan telur. Oleh karena itu, bisa dibilang bahwa saat ini tingkat konsumsi daging ayam dan telur masih tertinggal dari negara tetangga baik Malaysia maupun Singapura.
“Hari ini dengan ada rembuk nasional dan sekaligus untuk pencanangan gerakan makan ayam dan telur. Hal yang paling penting itu bapak-bapak dari kementerian bisa ikut mempromosikan gerakan makan ayam dan telur. Semoga dalam acara rembuk ini bisa menghasilkan keputusan yang terbaik bagi setiap pelaku usaha di bidang perunggasan,” kata Singgih.
Mengenai kondisi perunggasan di daerah Jawa Barat, Jafar Ismail selaku Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Jawa Barat memaparkan beberapa permasalahan yang dihadapi oleh peternak di wilayah Jawa Barat, padahal industri perunggasan merupakan industri dengan nilai ekonomis yang tinggi.
Menurutnya, Jawa Barat merupakan andalan produksi broiler karena mencapai 40 persen populasi nasional. Namun dengan potensi yang ada, pasar broiler saat ini sering dihadapkan kepada masalah naiknya sapronak terutama DOC dan pakan, maupun fluktuasi harga broiler di tingkat peternak maupun eceran.
“Regulasi perlu dikasih secara mendalam supaya bisa memberikan manfaat terutama bagi peternak mandiri. Selain itu perlu adanya regulasi dan kebijakan untuk bisa mengakomodir semua pihak pengusaha perunggasan,” ujar Jafar.