Cuaca dan lingkungan acap kali menjadi tantangan dalam manajemen kesehatan pemeliharaan unggas. Terlebih saat peralihan musim seperti saat ini. Kondisi curah hujan yang tinggi, suhu yang rendah disertai kelembapan tinggi menjadi salah satu predisposisi penyakit. Penyakit yang disebabkan bakteri, jamur, virus, protozoa maupun parasit berkembang biak dengan baik.
Coryza dapat membawa berbagai dampak negatif pada usaha budi daya unggas, sehingga mengharuskan peternak melakukan pengendalian secara tepat. Program preventif seperti biosekuriti, vaksinasi dan manajemen pemeliharaan yang baik menjadi jurus ampuh dalam pencegahan penyakit ini.
Dalam kondisi ini, penyakit pernapasan menjadi ancaman serius yang harus diantisipasi. Salah satu kasus penyakit pernapasan yang seringkali meresahkan para peternak baik layer maupun broiler adalah Infectious coryza atau snot. Penyakit yang menyerang saluran pernapasan ini disebabkan oleh bakteri gram negatif yaitu Avibacterium paragallinarum. Di lapangan, terdapat setidaknya 3 serotipe berdasarkan antigenitas sifat bakterinya, yaitu serotipe A, B, dan C.
Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Gadjah Mada (FKH UGM), Prof. Dr. drh. Michael Haryadi Wibowo, M.P menjelaskan bahwa dulu awalnya Coryza hanya dikenal dengan serotipe A dan C. Namun dalam perkembangannya, serotipe B yang awalnya dianggap tidak patogenik berubah menjadi patogenik. Pembagian serovar ini penting dalam efektivitas vaksinasi, karena reaksi silang antara serovar itu rendah. Di mana bakteri yang ada di lapangan harusnya cocok dengan serovar yang ada dari bibit vaksin.
“Penyakit Coryza merupakan penyakit yang kompleks, yang biasanya terkait stress related disease. Artinya penyakit ini muncul akibat berbagai faktor stres. Dalam hal ini banyak faktor yang dapat menyebabkan imunitas turun. Seperti faktor kualitas pakan di mana mikotoksin menjadi problem utama dan mempunyai peran vital dalam kerusakan berbagai organ, terutama limfoid. Maka di sini dapat memudahkan serang Coryza, bahkan penyakit lain, seperti berbagai penyakit Immune suppression misalnya penyakit viral (IBDV, Marek Disease, ND, IBH), mikotoksin, serta parasiter (cacing dan koksidia). Di lain sisi manajemen farm dan tantangan lingkungan seperti perubahan cuaca yang ekstrim juga dapat menjadi faktor yang mendukung penyakit Coryza,” jelasnya dalam webinar Poultry Techniclass, Rabu, (7/2).
Lebih dalam lagi, penyakit Coryza dapat menular melalui kontak langsung dengan ayam sedang sakit ataupun ayam karier (ayam yang pernah mengalami penyakit Coryza secara kronis). Selain itu dapat pula terjadi secara tidak langsung melalui inhalasi bakteri yang terikut partikel debu, serta melalui air minum, pakan, dan peralatan kandang yang terkontaminasi oleh bakteri penyebab Coryza. Lalu kontak eksudat antara ayam juga sangat berpotensi terjadinya penularan.
Ayam yang terserang Coryza akan mengalami peradangan pada saluran pernapasan atas, sehingga menimbulkan kondisi stres atau tidak nyaman dan akan menyebabkan turunnya feed intake yang berakibat pada gangguan asupan nutrisi pada ayam. Hal ini dapat menghambat pertumbuhan dan terganggunya keseragaman pada broiler, serta mundurnya siklus produksi pada layer akibat kematangan seksual yang tertunda. Selain itu, pada layer fase produksi kasus Coryza dapat menyebabkan gangguan produksi telur.










