Oleh: Maulinda Rachmawati*
Kontaminan yang sering mengontaminasi pakan ternak adalah bakteri dan jamur. Kontaminasi jamur pada pakan dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang cukup besar bagi peternak karena menimbulkan berbagai penyakit apabila dikonsumsi oleh ternak. Kontaminasi jamur pada pakan dapat menyebabkan mikosis, yaitu infeksi jamur yang terjadi secara lokal dan sistemik apabila hewan menghirup atau menelan spora jamur yang berada di lingkungan.

Beberapa jenis mikotoksin yang sering mencemari pakan adalah aflatoxin, zearalenone, fumonisin, ochratoxin, ergot, dan trichothecenes.

Selain mikosis, kontaminasi jamur juga dapat menyebabkan mikotoksikosis, yaitu keracunan yang disebabkan oleh mikotoksin yang dihasilkan oleh jamur pada hewan atau manusia yang mengonsumsinya. Mikotoksikosis terjadi karena ingesti pakan yang terkontaminasi oleh mikotoksin. Mikotoksin merupakan metabolit sekunder bersifat racun yang dihasilkan oleh jamur seperti Aspergillus spp, Fusarium, Penicillium dan beberapa jenis jamur lainnya. Mikotoksin tersebut menimbulkan gejala yang berbeda-beda, seperti gangguan sistem pencernaan, gangguan sistem saraf, kerusakan hati dan ginjal, penurunan sistem imun, gangguan reproduksi, hingga kelainan hematologi. Perbedaan gejala dan tingkat keparahan penyakit yang ditimbulkan tergantung dengan jenis mikotoksin, usia, kondisi fisiologis, jenis kelamin dan sistem imun ternak.
Manajemen pencegahan kontaminasi jamur pada pakan dilakukan dengan pendekatan Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP), yaitu suatu sistem kontrol keamanan pakan untuk meminimalkan risiko bahaya. Kontaminasi jamur pada pakan dapat terjadi pada saat produksi, pengolahan, distribusi, hingga penyimpanan. Pendekatan HACCP dilakukan dengan menerapkan Good Agricultural Practice (GAP), Good Manufacturing Practices (GMP), penerapan hygiene dan sanitasi, serta kontrol kualitas pakan pada proses produksi hingga penyimpanan produk. Pada proses produksi, pemilihan jenis tanaman yang tahan jamur, pengaturan irigasi dan kondisi tanah penting untuk meminimalkan risiko pertumbuhan jamur. Tanaman pakan harus dipanen pada tingkat kematangan yang tepat dengan kelembapan yang rendah. Tanaman yang dipanen dalam kondisi terlalu matang akan lebih sensitif terhadap infeksi jamur. Kemudian, metode fisik seperti pengupasan, pembersihan, pengeringan dan pemilahan pakan dilakukan untuk menghindari pertumbuhan jamur.
Baca Juga: Meminimalisir Kontaminasi Mikotoksin dan Menjaga Higienitas Kandang untuk Meningkatakan Produktivitas
Manajemen pencegahan pertumbuhan jamur juga penting untuk diperhatikan pada proses penyimpanan pakan. Pemantauan suhu, aerasi, kelembapan dan kontrol hama harus dilakukan untuk menjaga kondisi lingkungan penyimpanan tetap sesuai. Kondisi lingkungan tersebut sangat dipengaruhi oleh musim. Pada musim penghujan, tingkat kelembapan udara akan meningkat, hal tersebut dapat memicu pertumbuhan jamur. Maka, diperlukan proses pengeringan pakan, serta sistem sirkulasi udara yang baik untuk menjaga tingkat kelembapan pakan tetap rendah.
Beberapa penelitian merekomendasikan penggunaan essential oil yang mengandung antioksidan untuk mengurangi pertumbuhan jamur, penggunaan penghambat jamur (asam propionat) untuk pakan yang terkontaminasi, amonia dan hidrogen peroksida pada tempat penyimpanan dan bahan pengikat mikotoksin seperti arang aktif, zeolite, sodium bentonit, dan aluminosilikat untuk mengurangi mikotoksin pada pakan. Manajemen pencegahan kontaminasi jamur ini harus diterapkan oleh petani, produsen pakan, serta peternak untuk menghindari bahaya kontaminasi jamur dan mikotoksin. *Mahasiswa Program Studi Kedokteran Hewan Universitas Padjadjaran dan Anggota Departemen Kajian Strategis Ikatan Mahasiswa Kedokteran Hewan Indonesia (IMAKAHI).
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Februari 2021 dengan judul “Waspada Bahaya Mikotoksin di Musim Penghujan”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153