Oleh : drh. Armanda Dwi Prayugo, M.Biotek*
Selain kualitas pakan dan bibit, manajemen kesehatan juga menjadi faktor penting yang berpengaruh terhadap keberhasilan budi daya perunggasan. Kasus penyakit yang menyerang unggas, tentunya dapat menghambat ternak untuk mencapai performa produksi yang optimal. Bahkan penyakit yang tak ditangani secara tepat, bisa meningkatkan angka kematian, yang secara langsung menyebabkan kerugian finansial. Terlebih dengan kondisi cuaca dan lingkungan yang semakin tidak menentu, maka tantangan dalam menjaga Kesehatan unggas ini semakin berat.
Salah satu kasus penyakit yang sering meresahkan para peternak baik layer maupun broiler adalah Infectious coryza atau snot. Penyakit yang menyerang saluran pernapasan ini disebabkan oleh bakteri gram negative yaitu Avibacterium paragallinarum. Di lapangan, terdapat setidaknya 3 serotipe berdasarkan antigenitas sifat bakterinya, yaitu serotipe A, B, dan C. Bakteri ini sangat spesifik menyerang pernapasan di bagian sinus atau rongga hidung pada ayam.
Baca juga : Gurem : Ayam Ras Petelur, Manusia, Resistensi dan Penanganannya
Penyakit Coryza memiliki mortalitas yang rendah 5-10 % dan morbiditas hingga 40%, serta sangat menular dari ayam terinfeksi ke ayam lainnya. Terlebih penyakit ini memiliki masa inkubasi yang cukup pendek yaitu 24-46 jam. Penyakit Coryza dapat bersifat akut atau kronis, sehingga penanganan harus dilakukan secara cepat serta penanggulangannya harus sampai faktor penyebab kemunculan kasus. Pada broiler umumnya Coryza dapat menyerang mulai dari umur 3 minggu. Sedangkan pada layer mulai menginfeksi sejak masa pullet ataupun masa produksi.
Penularan dan gejala klinis
Penyakit Coryza dapat menular melalui kontak langsung dengan ayam sedang sakit ataupun ayam karier (ayam yang pernah mengalami penyakit Coryza secara kronis), dan dapat pula terjadi secara tidak langsung melalui air minum, pakan, dan peralatan kandang yang terkontaminasi oleh bakteri penyebab Coryza. Selain itu, kondisi stres pada ayam seperti akibat perubahan cuaca ekstrem atau mendadak, perubahan pakan, atau perlakuan pasca vaksin juga bisa menjadi penyebab adanya kasus Coryza di kandang. Terlebih dengan kondisi cuaca seperti saat ini, maka ancaman penyakit ini harus benar-benar diperhatikan.  Sementara itu adanya penyakit immunosupresif juga berpeluang besar mengakibatkan kasus Coryza pada broiler maupun layer.
Ayam yang terserang Coryza akan mengalami peradangan pada saluran napas atas, sehingga menimbulkan kondisi stres atau tidak nyaman dan akan menyebabkan turunnya feed intake yang berakibat pada gangguan asupan nutrisi pada ayam. Hal ini dapat menghambat pertumbuhan dan terganggunya keseragaman pada broiler, serta mundurnya siklus produksi pada layer akibat kematangan seksual yang tertunda. Selain itu, pada layer fase produksi kasus Coryza dapat menyebabkan ganguan produksi telur. Menurut Wahyuni (2019), kasus Coryza pada ayam layer produksi, dapat menyebabkan penurunan produksi telur 10% hingga 40%. Tak hanya itu, Coryza juga dapat menjadi pintu gerbang masuknya penyakit viral akibat tidak optimalnya kondisi tubuh saat terkena penyakit ini. Dengan kondisi ini, ayam akan lebih mudah terserang penyakit lain terutama yang berhubungan dengan paparan atau challenge lapang oleh virus.
Penyakit Coryza menyerang bagian ayam yang sangat spesifik, sehingga beberapa gejala klinis di awal infeksi seperti bersin, susah bernafas, dan kemudian diperparah dengan adanya eksudat encer (serous) hingga kental (mukoid).  Adanya mukoid yang berlebihan akan terlihat dari lubang hidung dengan aroma yang tidak sedap, yang diikuti dengan peradangan pada konjungtiva mata (konjungtivitis) menjadi ciri patognomonik Infectious coryza.
Cairan kental ini awalnya akan muncul berlebihan pada hidung, dan apabila tidak ditangani dengan baik maka akan berubah warna menjadi kekuningan dan semakin kental (mukopurulen sampai purulent). Kemudian akan timbul peradangan pada saluran napas atas yaitu pada sinus infraorbitalis (saluran yang ada di bawah mata). Ketika sudah terjadi peradangan dan berisi cairan kental, maka wajah ayam akan terlihat membengkak terutama dibagian bawah mata. Kondisi ini akan membuat ayam merasa tidak nyaman atau stres karena saluran pernapasan atas dipenuhi oleh lendir, sehingga tidak mau makan dan terjadi penurunan feed intake yang berdampak langsung pada penurunan performa produksi layer maupun broiler.
Kemudian, apabila dilakukan pembedahan ayam dengan kondisi multi infeksi pada pernafasan, maka akan ditemukan sinus hidung, laring dan trakea mengalami peradangan serta berlendir. Terkadang pada bagian sinus juga bisa ditemukan perkejuan. Sedangkan untuk diagnosis penyakit ini, dapat dilakukan secara laboratorik dengan isolasi dan identifikasi bakteri dari kasus Coryza yang muncul di awal infeksi.
Pencegahan dan pengobatan
Dengan berbagai dampak negatif yang diakibatkan penyakit Coryza, maka pencegahan dan penangan menjadi hal yang sangat krusial. Terkait pencegahan, bisa dimulai dengan praktik biosekuriti dan manajemen pemeliharaan yang baik. Seperti halnya dengan rutin melakukan disinfeksi menggunakan disinfektan seperti benzalkonium chloride, povidone iodine atau glutaraldehyde untuk meminimalisir kontaminasi bakteri pada lingkungan dan peralatan kandang. Kemudian manajemen pemeliharaan, seperti pengaturan kepadatan ayam, ventilasi, sekam dll harus diperhatikan guna meminimalisir stres pada ayam yang memungkinkan sebagai jalan masuknya infeksi Coryza di kandang.
Kemudian, program preventif juga bisa dilakukan dengan vaksinasi, terutama pada layer sebelum fase produksi. Pemberian vaksin perlu dilakukan untuk memebntuk kekebalan di dalam tubuh ayam, sehingga frekuensi munculnya kasus dapat ditekan. Di sisi lain, apabila ternyata kedepan terjadi outbreak, maka serangan pada ayam yang sudah divaksin tidak akan terlalu parah. Pun demikian ketika dilakukan pengobatan maka akan lebih cepat sembuh dibanding dengan ayam yang tidak divaksin.
Apabila terjadi kasus infeksi Coryza, maka hal pertama yang harus dilakukan sebelum dilakukan pengobatan adalah seleksi, pengelompokan dan isolasi ayam yang sakit terlebih dahulu. Ayam dengan kondisi yang sudah parah sebaiknya langsung diafkir, sedangkan yang belum terlalu parah bisa diobati dengan pemberian antibiotik. Hal ini bisa dievaluasi dengan melihat lendir yang dikeluarkan oleh ayam.
Untuk pengobatan Coryza dapat dilakuan dengan pemberian antibiotik dengan kombinasi golongan sulfonamide long acting serta diaminopirimidin seperti sulfadoxine dan trimethoprim seecara injeksi intramuscular atau menggunakan sulfonamide lain seperti sulfadiazine dan trimethoprim, serta dapat melakukan rolling dengan pilihan antibiotik lain seperti flumequine, amoxicillin, dan enrofloxacine. Terapi simtomatik juga dapat diberikan, seperti pemberian paracetamol untuk mengatasi gejala peradangan yang timbul pada saluran pernapasan atas dan menanggulangi resiko adanya reaksi pasca vaksin. *Technical Support Supervisor Tekad Mandiri Citra (TMC)
Artikel ini merupakan rubrik Kesehatan pada majalah Poultry Indonesia edisi November 2023. Baca selengkapnya pada majalah Poultry Indonesia edisi November 2023. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasi@poultryindonesia.com