Parasit merupakan makhluk hidup yang secara metabolik biasanya tinggal dan mendapatkan kehidupannya dari tubuh sang inang. Terbagi menjadi dua jenis, parasit terdiri dari endoparasit dan ektoparasit. Endoparasit merupakan parasit yang hidup di dalam tubuh inang, sedangkan ektoparasit merupakan parasit yang tumbuh di luar tubuh inang. 

Seakan tak bisa lepas, serangan ektoparasit selalu mengintai. Tak terkecuali pada ayam hias yang menjadi tempat singgah dan berkembang ternyaman. 

Serangan parasit sepertinya akan selalu mengintai seluruh makhluk hidup, tak terkecuali ayam. Dengan sistem pemeliharaan yang mana nutrisinya selalu diusahakan terjaga, tak heran jika ayam menjadi salah satu sasaran empuk bagi parasit. Tidak hanya menyerang broiler dan layer, ancaman parasit juga turut mengintai ayam hias. Salah satunya ancaman ektoparasit. 
Serangan kutu pada ayam hia
Pemilik D’Amour Farm yang berlokasi di Bandung, Fenny memelihara setidaknya lebih dari seribu ekor ayam hias yang terdiri dari berbagai jenis. Mulai dari poland, brahma, park brahma, cochin, American silkie, dan masih banyak lagi. Ratu Kontes Ayam Hias ini sangatlah tekun menjalankan hobinya, hingga mengikuti berbagai kontes di dalam maupun luar negeri. Bahkan, Fenny juga sudah mulai merambah ke breeding ayam hias. 
Harga ekor ayam yang hias cukup tinggi bukan masalah baginya karena sepadan dengan rasa bahagia melihat ayam hias miliknya tumbuh dengan sehat dan indah. Namun, dibalik indahnya ayam hias milik Fenny, ia mengatakan bahwa ada tantangan tersendiri ketika membeli ayam hias dari peternak lokal. Ia mengaku selalu menemukan kasus ektoparasit kutu pada ayam hias yang dibelinya. 
“Dulu, saat membeli ayam hias lokalan, kami mendapatkan banyak oleh-oleh. Yang paling sering adalah kutu. Biasanya hampir semua ayam hias yang dijual pasti ada kutunya meski beberapa penjual mengatakan bebas kutu. Kutunya sangat banyak sekali, sehingga biasanya sebelum masuk ke kandang, ayam tersebut kami bersihkan dan isolasi terlebih dahulu agar tidak menyebarkan kutunya ke ayam lainnya,” jelasnya pada tim Poultry Indonesia ketika dikunjungi di kediamannya, Jumat (14/4). 
Fenny mengatakan bahwa ia tak mengetahui faktor ditemukannya kutu pada ayam hias yang dibelinya. Besar kemungkinan kutu-kutu ini menginvasi ayam hias akibat dari manajemen pemeliharaan yang kurang baik dan kotoran ayam itu sendiri. Dampak dari invasi kutu pada ayam hias tentu tak main-main dan sangatlah merugikan karena salah satu daya tarik terbesar dari ayam hias adalah kondisi fisiknya. 
“Kalau sudah ada kutu, cepat sekali menyebar. Efeknya adalah kutunya akan bertelur dan semakin banyak. Karena menggerogoti tubuh ayam, ayamnya menjadi pucat. Terkadang kami juga masih sering kebobolan. Tingkat keparahan kutu pada tiap ayam pasti berbeda, sehingga bisa saja ada satu-dua ekor ayam kami yang ternyata kutunya lebih banyak daripada
yang lain. Ini menjadi kendala karena kutu tersebut dapat menyebar kembali ke ayam-ayam kami,” keluhnya. 
Untuk mengatasi hal tersebut, Fenny melakukan pemberian antiparasit, seperti obat cacing dan obat kutu secara rutin per 3 bulan. Jika dalam bulan yang sama ada serangan kutu, Fenny akan memberikan obat kutu lagi secara menyeluruh pada ayam-ayamnya untuk mencegah tersebarnya kawanan kutu ini. Perawatan ekstra memang dibutuhkan mengingat ayam hias milikinya berharga fantastis. 
“Saya lebih melakukan pencegahan, seperti pemberian obat kutu, untuk semua ayam kesayangan saya agar tidak ada telur kutu pada bulu-bulunya. Kami juga selalu melakukan pengecekan kutu dan konsisten melakukan cek kesehatan. Obat kutu pasti kami berikan 3 bulan sekali agar kutu tak berkembangbiak karena, menurut saya, serangan kutu sangat menyeramkan,” ungkapnya. 
Ragam ektoparasit pada unggas 
Menanggapi hal ini, Prof. Dr. drh. Upik Kesumawati Hadi, MS, selaku Kadiv. Parasitologi & Entomologi Kesehatan Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) IPB University, mengatakan bahwa secara umum, ektoparasit terbagi menjadi dua, yakni permanen dan temporal. Ektoparasit permanen merupakan parasit yang terus menerus menempel pada tubuh ayam, seperti kutu, pinjal, caplak, dan tungau tertentu. Sedangkan ektoparasit temporal hanya hinggap pada tubuh ayam, seperti nyamuk yang datang hanya untuk menghisap darah dan lalat. 
“Kelompok ektoparasit permanen yang menempel di tubuh unggas adalah kelompok kutu dan tungau. Yang paling umum dijumpai, baik pada layer, ayam kampung, dan ayam hias, adalah kutu penggigit. Misalnya Menopon gallinae yang banyak ditemui di bagian kepala, tubuh, dan di bulu-bulu ayam,” terangnya pada tim Poultry Indonesia ketika dikunjungi di Laboratorium Parasitologi & Entomologi Kesehatan, Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis, IPB University, Selasa (16/5). 
Selain itu, Upik juga menjelaskan bahwa ektoparasit permanen lainnya yang dapat ditemui adalah Lipeurus caponis pada bulu-bulu sayap dan bagian tubuh lainnya, kutu Goniodes dan Goniocotes, serta kelompok tungau yang sangat meresahkan, seperti tungau penghisap darah Ornithonyssus bursa atau poultry mite yang dalam bahasa Indonesia dikenal dengan istilah gurem
“Ektoparasit lainnya yang dapat menyerang ayam adalah tungau yang menyerang kaki, paruh, dan pial ayam, yakni Knemidokoptes. Tungau ini membuat kaki ayam berkapur. Sedangkan contoh ektoparasit yang tidak menempel di tubuh namun sering menyerang bangsa unggas adalah nyamuk Culicoides,” terangnya.