POULTRYINDONESIA, Jakarta – Suksesnya kegiatan budi daya perunggasan tidak terlepas dari bagaimana manajemen pemeliharaan yang dilakukan oleh para peternak. Jika kegiatan manajemen pemeliharaan dilakukan dengan baik, tentu akan terhindar dari berbagai gangguan penyakit yang mungkin menyerang. Disaat berbagai cara telah dilakukan untuk menekan kejadiannya, beberapa penyakit masih menjadi langganan di industri perunggasan.
Poultry Indonesia menggelar webinar Poultry Indonesia Forum ke-25 dengan tema “Prediksi Penyakit Unggas 2023” untuk memberikan gambaran kepada publik mengenai penyakit pada unggas. Selain itu hal ini juga sebagai peringatan dini bagi para peternak bahwasanya masalah gangguan kesehatan yang mengganggu kegiatan budi daya masyarakat masih menjadi ancaman nyata, sekaligus memberikan gambaran langkah–langkah yang bisa diambil oleh para peternak untuk meminimalisir kerugian akibat gangguan kesehatan tersebut.
Dalam kesempatannya, Andi Ricki Rosali, selaku peternak layer dan broiler, memaparkan pengalamannya mengenai kejadian penyakit unggas di lapangan selama tahun 2022. Beberapa penyakit yang seringkali ditemukan pada peternakan broiler miliknya adalah Tetelo (Newcastle Disease), Gumboro (Infectious Bursal Disease), Avian Influenza (AI), dan Coryza (Snot). Sedangkan penyakit yang seringkali ia temukan pada peternakan layernya adalah Infectious Bronchitis, Tetelo, Egg Drop Syndrome, dan Coryza.
“Selaku peternak, yang bisa kami lakukan adalah tindakan preventif sebelum penyakit-penyakit tersebut masuk ke kandang. Lokasi farm yang berdekatan dengan farm lain serta riwayat adanya penyakit di area tersebut juga membuat ayam rentan. Jadi biasanya, kami lakukan sanitasi, seperti desinfeksi, clearing area, steril area, dan penyediaan baju ganti untuk menjaga performa dan kesehatan ternak itu sendiri. Ditambah dengan mulitivitamin dan ditunjang dengan nutrisi yang cukup,” terangnya pada acara yang digelar secara daring melalui aplikasi Zoom, Rabu (18/1) tersebut.
Lebih lanjut, Andi menekankan mengenai pentingnya memperhatikan area peternakan dan zona biosekuritinya. Dirinya percaya jika dalam menghadapi penyakit dibutuhkan kemampuan manajemen yang baik.
Baca Juga: Ombudsman RI Adakan Pertemuan, Bahas Perlindungan dan Pemberdayaan Peternak
Sementara itu, Prof. Dr. drh. I Wayan Teguh Wibawan, MS, selaku Guru Besar Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKBH) IPB University, mengatakan bahwa penyakit pada unggas yang seringkali menyerang adalah penyakit saluran pernapasan dan saluran pencernaan. Wayan mengatakan bahwa pemeliharaan ternak unggas ditopang oleh 3 pilar, yakni bibit, pakan, dan manajemen, termasuk manajemen pemeliharaan dan penyakit di dalamnya.
“Dalam manajemen kesehatan, keseimbangan nutrisi atau kualitas pakan sangat menentukan performa ayam, sehingga saya tekankan jangan terlalu berkompromi dengan kualitas pakan. Stres intrinsik, seperti ayam yang tumbuh cepat, dan stres ekstrinsik dari vaksinasi, kepadatan, suhu, kelembaban, amoniak, dll), juga memiliki dampaknya sendiri,” ujarnya.
Dalam manajemen penyakit, peran vaksin tentu sangat penting. Namun, penggunaanya perlu diperhatikan agar pembentukan antibodi optimal. Imunostimulan, berupa vitamin dan lain sebagainya, juga dapat diberikan untuk mengurangi pengaruh stress intrinsik pada ayam modern yang tumbuh sangat cepat.
“Penentu utama khasiat vaksin ditentukan oleh kecocokan epitope-epitope vaksin yang digunakan dengan epitope virus lapangan. Hal ini dapat diketahui melalui uji serologis dan diperkuat dengan uji molecular biology (squenzing) dan uji tantang.  Selain itu, preparasi vaksin dan ketepatan pelaksanaan, seperti handling vaksin, dosis, program vaksinasi, dll, juga menentukan efektivitas vaksin,” jelasnya.
Masih dalam acara yang sama, drh. Fauzi Iskandar, selaku Veterinary Services Manager PT Ceva Animal Health Indonesia, mengatakan bahwa tantangan peternakan di Indonesia masih didominasi oleh kepadatan antar kandang yang tinggi, kepadatan flok yang tinggi, dan kandang yang menerapkan prinsip multi age pada layer. Berdasarkan data Diseases Surveillance oleh Ceva, penyakit yang akan muncul di tahun 2023 adalah Newcastle Disease, Infectious Bronchitis, Infectious Bursal Diseases, Inclusion Body Hepatitis, dan Avian Influenza. Meski begitu, Fauzi mengatakan bahwa Tetelo masih menjadi fokus utama.
“Tetelo atau Newcastle Disease (ND) masih menjadi fokus kami bersama. Ditemukan pada tahun 1926 di Indonesia, jelas saja Indonesia menjadi negara endemis atau high-risk untuk penyakit Tetelo. Dengan penyebarannya yang luas, sedikit sekali negara yang bebas dari penyakit ini. Pencegahan penyakit ini dapat dilakukan dengan menggunakan Vectormune ND + Rispens untuk proteksi maksimal, mengurangi shedding virus ND, dan melindungi ayam dalam jangka panjang,” pungkasnya.