Oleh : Ray Sandy Mahesaputra, S.Pt*
Ketika berbicara hama, pikiran kita akan langsung mengarah pada organisme pengganggu yang memberikan dampak negatif. Keberadaan hama secara langsung juga menjadi musuh dan ancaman nyata bagi peternak layer. Hal ini cukup beralasan, karena selain dapat merusak fasilitas kandang, hama juga menjadi vektor penyebaran penyakit yang meresahkan di peternakan. Terdapat banyak jenis hama yang harus diwaspadai oleh para peternak, seperti nyamuk, lalat, caplak, tungau, kutu frengki, kumbang, burung liar dan tikus. Dalam tulisan ini, penulis ingin sedikit mengulas terkait hama lalat dan tikus yang sering ditemui dan menimbulkan dampak negatif di kandang layer.
Bahaya hama lalat dan tikus
Mungkin keberadaan lalat dalam sebuah lingkungan kandang bukanlah suatu hal yang asing. Biasanya adanya lalat di kandang dipicu oleh bau dari limbah peternakan, seperti manure maupun sisa pakan. Seperti peribahasa ‘ada gula, ada semut’ mungkin begitulah kita menggambarkan keberadaan lalat di lingkungan kandang. Bagi lalat, kandang merupakan tempat yang sangat ideal, dimana banyak terdapat kotoran, pakan dengan berbagai nutrisinya, belum lagi apabila suhu dan kelembaban tidak diatur dengan baik.
Namun demikian, jangan pernah menggap sepele keberadaan lalat di lingkungan kandang. Terlebih pada kandang layer, lalat menjadi musuh yang harus dibasmi dengan berbagai langkah antisipasi yang tepat. Pasalnya dalam peternakan layer, banyak peternak yang menggunakan kandang baterai dengan sistem open house. Dalam sebuah artikel berjudul “Pengendalian Lalat di Peternakan Ayam”, Prof. drh. Upik Kesumawati Hadi, MS, Ph.D selaku Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan IPB University menjelaskan bahwa lalat lebih banyak ditemukan pada peternakan layer yang memakai kandang tipe baterai, apalagi jika kotorannya menggunung. Pada kandang broiler, lalat ini banyak ditemukan di luar kandang dan cenderung lebih sedikit di dalam kandang mengingat periode pemeliharaannya juga lebih pendek, sedangkan di breeding farm lebih sedikit lagi karena manajemen pemeliharaanya sudah bagus dan ketat. Jika dilihat dari sisi sistem perkandangan, kandang open house memiliki jumlah lalat yang lebih banyak dibandingkan closed house.
Baca juga : Menjaga Kesehatan Ayam pada Musim Pancaroba
Keberadaan lalat di kandang dapat menyebabkan penurunan produksi dengan cara meningkatkan stres pada unggas yang memicu penurunan produksi dan kekebalan tubuh unggas. Selain itu lalat juga merupakan vektor yang dapat menularkan banyak penyakit pada ayam, sehingga dapat menyebabkan kematian secara tidak langsung. Dengan sifatnya yang menempel pada kotoran dan memakan sisa-sisa makanan, tentu akan mudah sekali membawa penyakit-penyakit baik bersifat bakteri, virus maupun parasit. Kasus yang sering ditemukan di kandang layer akibat keberadaan lalat adalah cacingan (helminthiasis). Hal ini tak lepas dari waktu pemeliharaan yang panjang, mengingat siklus hidup cacing yang juga dapat dikatakan cukup lama. Kejadian helminthiasis ini dapat menurunkan bobot badan maupun produksi telur.
Kemudian, celakanya serangga satu ini membawa agen patogen tersebut bersamanya, sehingga tidak hanya berbahaya bagi ternak, namun juga peternak maupun masyarakat yang tinggal di sekitar lingkungan kandang. Oleh sebab itu, cukup beralasan apabila penanganan lalat yang tidak tepat, seringkali menjadi pemicu protes atau konflik masyarakat di sekitar kandang. Menurut WHO, lalat dapat mentransmisikan beberapa penyakit pada manusia seperti disentri, diare, tifus kolera, dan beberapa jenis helminthiasis pada saluran pencernaan.
Selain lalat, tikus juga menjadi hama yang sering kali dijumpai dan patut diwaspadai. Mungkin masih banyak peternak yang membiarkan keberadaan tikus di lingkungan kandang dengan alasan area peternakan yang dikelilingi oleh lahan pertanian atau ladang, sehingga tidak mungkin untuk mengusir tikus. Namun, memelihara ayam yang berdampingan dengan tikus juga merupakan sebuah pilihan yang tidak tepat.
Tikus termasuk ke dalam kelompok hewan pengerat (Rodent) dan merupakan hama yang sering menyerang kandang layer. Keberadaan tikus, mungkin seringkali tidak disadari oleh peternak karena sebagian besar aktivitasnya terjadi pada malam hari ketika peternak tidak berada di kandang. Hama tikus akan jarang terlihat pada siang hari, kecuali populasi dalam suatu kandang sudah sangat besar dan menjadi epidemi. Ada banyak cara untuk mengenali keberadaan tikus seperti kotoran, jejak, bekas gigitan, galian tanah, suara, bau, dll.
Biasanya serangan tikus dapat menimbulkan berbagai kerugian akibat berkurangnya pakan hingga kerusakan pada kandang. Kandang ayam menjadi tempat yang sangat menarik untuk tamu yang tidak diinginkan ini, karena bisa sebagai tempat bersarang, dan terdapat makanan. Terkait pakan yang hilang atau rusak secara langsung dapat menimbulkan kerugian. Berry (2003) melaporkan perkiraan biaya pemborosan dan kerusakan pakan akibat serangan tikus mencapai 25 dollar/tikus/tahun.
Selain itu, biasanya tikus juga banyak mencemari dan merusak pakan. Tikus seringkali mengkontaminasi pakan, telur, dan lingkungan kandang dengan feses, urine, bulu hingga sisa makananya. Seperti halnya lalat, tikus juga merupakan vektor pembawa penyakit di lingkungan kandang. Beberapa parasit yang dibawa oleh tikus seperti, Salmonellosis, Leptospirosis, Pasteurella, dan Yersinia. Pada ayam, kontaminasi tikus dapat menyebabkan penyakit cacar unggas/ fowl pox dan pasteurellosis. Sedangkan gigitan tikus pada peternak dapat mengakibatkan demam.
Kemudian, selain pemborosan pada pakan dan ancaman penyakit, tikus juga mengakibatkan kerusak berbagai fasilitas pada kandang, seperti dinding, atap, tirai, saluran air, hingga ke beberapa bagian vital seperti mesin produksi. Bahkan tak jarang kita jumpai, berbagai kasus fatal seperti korsleting listrik, kebakaran kandang yang diakibatkan oleh keganasan dari serangan hama tikus.
Upaya pengendalian
Bagi kedua jenis hama ini, kandang menjadi sebuah tempat yang ideal untuk hidup. Namun sebaliknya keberadaan lalat dan tikus pada lingkungan kandang menjadi sebuah kerugian, sehingga diperlukan strategi pengendalian yang tepat. Dalam pengendalian lalat, sebaiknya jangan hanya berfokus pada lalat dewasa saja, namun bagaimana awal fase pertumbuhan lalat juga harus diperhatikan. Dalam hal ini larva atau telur lalat juga menjadi sebuah ancaman di kandang. Artinya, pencegahan menjadi sebuah hal yang vital.
Peternak bisa memulai dengan perbaikan pengelolaan kandang, gudang dan lingkungan sekitar. Dalam hal ini peternak harus mengetahui penyebab kedatangan lalat, sehingga dapat melakukan pencegahan dengan cara melakukan berbagai upaya pembersihan.  Selain pembersihan, Tindakan preventif juga dapat menggunakan berbagai bahan kimia, seperti pyrethroids, organophosphates, carbamates, neonicotinoids dan spinosyn. Walaupun tidak dapat membasmi secara total, tetapi tindakan preventif dapat mendepopulasi lalat di kandang.
Pengendalian dengan bahan kimia ini, mampu mengurangi populasi lalat dewasa dan larva. Dimana peternak dapat membunuh dengan cara racun kontak dalam bentuk spray, sehingga ketika lalat dewasa melakukan kontak langsung dengan bahan kimia itu akan menimbulkan paralisis atau kelumpuhan yang kemudian akan mati. Kemudian pada larva penambahan bahan kimia dapat menghentikan siklus perkembangan lalat, sehingga tidak memproduksi lalat dewasa. Sebelum menggunakan bahan kimia, peternak harus menganalisis terlebih dahulu tempat yang berpotensi dihinggapi lalat. Dengan begitu, dapat memudahkan peternak dalam memberikan perlakuan pada lalat. Bahan kimia ini biasanya banyak digunakan dengan metode sprayer. Selain penggunaan bahan kimia, pengendalian lalat juga dapat menggunakan jebakan lem ataupun elektrik.
Setali tiga uang, pengendalian hama tikus juga merupakan hal yang penting untuk dilakukan, mengingat berbagai dampak negatif yang ditimbulkan. Peternak bisa memulai dengan melakukan sanitasi kandang dan lingkungan. Upayakan rumput di sekitar kandang terpangkas dan tidak ada barang-barang yang berserakan yang memungkinkan sebagai sarang tikus. Hal ini akan membantu meminimalkan tantangan tikus.
Kemudian peternak dapat memetakan wilayah utama yang menjadi aktivitas tikus, seperti gudang pakan, saluran pipa, atap, lubang-lubang bawah tanah, dll. Kemudian deteksi juga jalan masuk, jalur, tempat makan dan sarang. Hal ini guna memudahkan pemasangan rodentisida (umpan racun) untuk tikus. Berbagai rodentisida telah tersedia untuk membantu program pengendalian tikus. Cocokkan rodentisida yang tepat dengan situasi khusus pada kandang masing-masing. Selain menggunakan rodentisida, biasanya peternak juga menggunakan berbagai metode, seperti perangkap, gelombang suara ultrasonic hingga predator alami yaitu kucing. Namun penggunaan kucing juga harus diawasi, jangan sampai justru memakan ayam yang dapat membuat kontraproduktif. Berbagai metode ini bisa disesuaikan dengan kasus dilapangan. Terakhir yang tidak kalah penting adalah evaluasi dan pemantauan situasi harus menjadi bagian penting dari program pengendalian hama tikus dalam kandang. *Technical Sales PT New Hope Indonesia