Musim hujan membawa tantangan besar bagi peternakan broiler, mulai dari kelembapan tinggi, suhu dingin, hingga risiko infeksi dan kualitas air yang menurun. Manajemen kandang yang adaptif, pengendalian lingkungan, dan pemantauan kesehatan ayam menjadi kunci untuk menjaga performa dan menekan kerugian.
Hujan deras yang mengguyur berbagai wilayah Indonesia dalam beberapa hari terakhir menjadi sinyal awal tantangan tersendiri bagi pelaku usaha peternakan ayam broiler. Fenomena ini bukan hanya berdampak pada infrastruktur dan distribusi logistik, tetapi juga secara langsung memengaruhi kenyamanan dan performa ayam di kandang. Terutama di peternakan dengan sistem open house, perubahan suhu dan kelembapan yang drastis dapat memicu stres, menurunkan produktivitas, hingga meningkatkan risiko serangan penyakit, khususnya gangguan pernapasan.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa intensitas curah hujan masih akan tinggi hingga beberapa pekan ke depan di sejumlah sentra produksi ayam pedaging seperti Jawa Tengah, Jawa Barat, dan sebagian wilayah Sumatera. Dalam laporan prakiraan musim hujan tahun 2025, BMKG mencatat potensi anomali iklim yang menyebabkan distribusi hujan menjadi tidak merata dan cenderung ekstrem. Kondisi ini mengharuskan peternak untuk lebih waspada dalam melakukan manajemen kandang dan kesehatan ternak.
Tantangan Musim Hujan
Musim hujan menyebabkan kelembapan lingkungan meningkat drastis. Udara yang lembap dan dingin bukan hanya membuat ayam merasa tidak nyaman, tetapi juga menciptakan lingkungan ideal bagi pertumbuhan mikroorganisme patogen seperti bakteri, virus, dan jamur. Kelembapan tinggi di dalam kandang menyebabkan litter cepat lembap dan menggumpal, mempercepat pembentukan amonia, serta memicu gangguan pernapasan. Kelembapan juga berperan dalam meningkatkan indeks heat stress, yang justru dapat memperparah stres ayam meskipun suhu udara relatif dingin.
Di sisi lain, penurunan suhu selama musim hujan dapat menyebabkan cold stress, terutama pada ayam fase brooding (umur 0–14 hari). Ayam muda belum mampu mengatur suhu tubuhnya dengan baik, sehingga paparan udara dingin dapat menurunkan suhu tubuh mereka di bawah ambang normal (40–40,8°C). Ayam yang mengalami stres dingin cenderung malas makan, berkumpul dalam kelompok, dan gagal mencapai target konsumsi pakan. Ini menghambat perkembangan organ, mengganggu sistem kekebalan tubuh, dan dalam kondisi ekstrem dapat memicu komplikasi seperti hydropericardium atau ascites.
Tingginya curah hujan juga berdampak pada kualitas air tanah. Genangan air dan peningkatan volume air tanah dapat menyebabkan air sumur menjadi keruh, berbau, dan tercampur partikel organik atau lumpur. Kondisi ini mendorong pembentukan biofilm dalam pipa saluran air minum, yang menjadi tempat berkembang biaknya bakteri patogen seperti E. coli dan Salmonella sp.. Air yang tercemar berisiko tinggi menularkan penyakit seperti kolibasilosis, terlebih bila sumber air berada dekat tumpukan feses, sawah, atau sistem sanitasi yang buruk.
Musim hujan dengan kelembapan tinggi juga memengaruhi kestabilan mutu pakan. Pakan yang disimpan dalam kondisi lembap berisiko tinggi ditumbuhi jamur, seperti Aspergillus, yang dapat menghasilkan mikotoksin berbahaya. Jamur dalam pakan tidak hanya menurunkan palatabilitas (daya terima) ayam, tetapi juga dapat menyebabkan penyakit saluran pernapasan seperti aspergilosis dan gangguan metabolisme akibat racun jamur (mikotoksikosis). Hal ini tentu berdampak negatif terhadap pertumbuhan dan performa produksi ayam broiler.
Langkah Adaptif Manajemen Pemeliharaan
Suhu dan kelembapan lingkungan menjadi faktor yang harus diperhatikan oleh peternak saat musim hujan tiba. Untuk itu recording atau pencatatan yang baik sangat diperlukan sebagai pedoman bagi peternak untuk memberikan adjust tertentu. Pada pemeliharaan dengan sistem closed house, peternak dapat menyesuaikan manajemen ventilasi dengan pengaturan kipas, inlet maupun outlet dalam kandang. Sedangkan pada kandang pemeliharaan open house, maka peternak dapat mengatur buka tutup tirai kandang. Selain itu, jika suhu di dalam kandang sangat rendah, maka dapat pula menghidupkan atau bahkan menambah pemanas agar suhu yang nyaman terhadap ayam tetap tercapai khususnya pada masa brooding. Yang tak kalah penting, kepadatan kandang harus disesuaikan dengan kondisi lingkungan, serta litter harus dipastikan agar tetap kering.










