POULTRYINDONESIA, Sidoarjo – Jagung menjadi bahan baku pakan yang mendominasi dalam formulasinya. Oleh karena itu, pengawasan secara ketat terhadap kualitas jagung menjadi keharusan agar kualitas pakan yang dihasilkan menjadi optimal.
Salah satu pengawasan yang harus diperketat adalah adanya jamur yang menghasilkan toxin (racun) atau biasa disebut dengan mycotoxin, seperti yang disampaikan oleh Dr. Yon Layong Woonwong,D.V.M.,P.h.D, Veterinary Virology & Pathobilogy, Kasetsart University, Thailand pada Jum’at (12/11).
Baca juga : Upaya Aplikatif Pengendalian Mikotoksin pada Pakan
Menurutnya jamur pada jagung bisa tumbuh dalam kondisi yang hangat serta dengan kelembaban yang tinggi, yakni berada di kondisi suhu sekitar 10° – 40°C,kelembaban diatas 70%,dengan kadar air diatas 17%.
” Dengan kondisi ini kemungkinan jamur akan tumbuh pada jagung, jika jagung sudah berjamur, kemudian dimasukkan dalam campuran pakan, maka nantinya akan membahayakan ternak yang memakan campuran pakan itu,” tegasnya dalam acara webinar dengan tema ‘Mycotoxins (still) problem review and historical contamination data including the inspection programs’ yang diadakan oleh Better Pharma Company Limited, via Zoom Meeting.
Ia menjelaskan akibat yang ditimbulkan bisa dalam bentuk keracunan secara akut, kondisi akut ini bisa terjadi jika ternak menerima toxin dalam jumlah besar sekaligus, bentuk akut ini bahkan bisa menyebabkan kematian. Ada pula yang berbentuk kronis yang berakibat menimbulkan imunosupresan (menekan kekebalan tubuh) atau bisa juga karsinogenik (menyebabkan kanker).
“Dalam praktiknya di lapangan, akibat yang ditimbulkan oleh adanya jamur ini bermacam-macam karena disebabkan oleh variasi dari tipe mikotoksinnya, lama waktu terpapar dengan jamur tersebut, status nutrisi ternak, adanya stres, adanya penyakit lain serta tergantung dari jenis ternak, umur dan jenis kelamin ternak,” pungkasnya.