Formulasi pakan yang tepat pada ayam petelur dapat meningkatkan efisiensi sumber gambar: www.feedstrategy.com)
Oleh: Nadia Tasya Rosalia* 
Budi daya ayam khususnya petelur merupakan salah satu ide bisnis yang menjanjikan. Di mana telur merupakan salah satu bahan pangan yang harganya terjangkau, kandungan nutrisinya lengkap, dan memiliki cita rasa yang lezat. Hal tersebut membuat permintaan telur terus meningkat setiap tahunnya dan menjadi peluang usaha yang perlu dimanfaatkan.

Cage layer fatigue atau lelah kandang menjadi salah satu kondisi yang perlu diperhatikan dalam pemeliharaan ayam petelur. Faktor utama penyebab terjadinya hal tersebut adalah karena kurangnya asupan nutrisi dalam pakan. Yang mana jika tidak segera ditangani maka akan menimbulkan kerugian produksi telur hingga dapat menyebabkan kematian.

Demi memperoleh performa produksi ayam petelur yang optimal, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, mulai dari manajemen perkandangan, manajemen pakan hingga manajemen kesehatan ternak. Kesalahan dalam manajemen pemeliharan ayam petelur dapat menimbulkan beberapa permasalahan, salah satunya yaitu cage layer fatigue.
Cage layer fatigue atau lelah kandang merupakan kondisi kesehatan yang terjadi pada ayam petelur dengan produktivitas tinggi yang dipelihara dalam kandang baterai. Terdapat beberapa faktor yang berkaitan dengan terjadinya cage layer fatigue yakni nutrisi, lingkungan, dan stres panas pada ayam petelur. Fenomena tersebut mengakibatkan ayam kesulitan bergerak atau tidak dapat berjalan sama sekali hingga menyebabkan kelumpuhan. Cage layer fatigue yang terjadi pada peternakan ayam petelur dapat memicu kerugian yang signifikan pada peternak
Lebih lanjut kelumpuhan dapat terjadi karena beberapa faktor, salah satunya adalah kekurangan nutrisi seperti kalsium (Ca) dan fosfor (P) pada pakan. Kalsium dan fosfor berperan penting dalam pembentukan tulang. Jika kebutuhan kalsium dan fosfor tidak tercukupi, maka ayam akan memanfaatkan simpanan kalsium pada tulang medular. Namun, jika simpanan tersebut terus menerus diambil, maka mengakibatkan tulang ayam menjadi rapuh dan keropos, yang di kemudian hari berakibat ayam menjadi lemah dan lumpuh.
Kelumpuhan pada ayam juga berdampak pada produktivitas dan kualitas telur. Ruang gerak yang kurang memadai dapat membuat mereka kesulitan menjangkau makanan dan minuman. Dalam hal ini nutrisi berperan penting dalam mendukung produktivitas telur. Untuk itu pengelolaannya harus memperhatikan kebutuhan standar nutrisi ayam petelur.
Berdasarkan SNI (2014), nutrisi pakan ayam petelur harus mengandung kadar air maksimal 14%, protein kasar minimal 16%, lemak kasar 2,5-7%, dan energi metabolis 2.650 kkal/kg. Dengan nutrisi yang tercukupi, maka ayam petelur akan memiliki produksi tinggi yang diikuti dengan meningkatnya daya tahan tubuh, serta terhindar dari fenomena lelah kandang.
Tanpa menyampingkan kandungan nutrisi makro, pemberian mineral sesuai standar juga sangat dibutuhkan untuk hasil produksi telur yang berkualitas baik. Nutrisi pakan dalam bentuk fosfor dan kalsium dibutuhkan untuk menghasilkan kerabang yang tebal. Masih menurut SNI (2014), standar kalsium dan fosfor pada ransum pakan ayam petelur periode laying, yaitu 3,25-4% untuk kalsium dan 0,6-1% untuk fosfor. Apabila terjadi defisiensi kandungan mineral tersebut akan berakibat melebarnya pori-pori dan menipisnya kerabang telur.
Selain itu, hal yang perlu diperhatikan oleh peternak adalah terkait manajemen kandang. Sebaiknya, peternak memastikan kebersihan, keamanan, dan kenyamanan, serta ukuran kandang yang cukup besar. Idealnya, kandang baterai berukuran ± 30 x 45 x 45 cm/ekor ayam/kotaknya. Hal tersebut bertujuan untuk menjaga ketenangan dan kesehatan ayam petelur dari stres serta penyakit potensial lainnya.
Bagaimana pun juga cage layer fatigue atau lelah kandang menjadi salah satu kondisi yang perlu diperhatikan dalam pemeliharaan ayam ras petelur. jika tidak segera ditangani maka akan menimbulkan kerugian produksi telur hingga dapat menyebabkan kematian. Untuk itu, peternak perlu benar-benar memperhatikan manajemen pemeliharaannya, terutama dalam hal pakan dan perkandangan. *Mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Airlangga dan Ketua Pengurus Besar Ikatan Mahasiswa Kedokteran Hewan Indonesia (PB Imakahi)
Artikel ini merupakan rubrik Suara Mahasiswa pada majalah Poultry Indonesia edisi Mei 2023. Baca selengkapnya pada majalah Poultry Indonesia edisi Mei 2023. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasi@poultryindonesia.com