FLHS merupakan penyakit yang dapat merusak organ hati dan meningkatkan angka kematian dalam suatu flok
Oleh : drh. Agus Pratowo
Target bobot badan dan keseragaman menjadi syarat mutlak agar performa bisa tercapai dengan lebih mudah. Namun, adakalanya pada performa yang super tersebut muncul beberapa masalah metabolik, terutama kegagalan fungsi hati yang pada akhirnya menyebabkan kerugian berupa penurunan produksi dan kematian.

Puncak produksi dan persistensi produksi merupakan salah satu parameter performa dari ayam petelur, dan performa ini dimulai dari masa brooding sampai prelaying. Minimalkan risiko munculnya Fatty Liver Hemorrhagic Syndrome (FLHS)

Laju metabolisme yang tinggi, kemudian ketidakmampuan lipogenensis atau proses sintesis asam lemak di jaringan adiposa dan hanya bersandar di jaringan hati, menyebabkan organ tersebut menjadi tempat satu-satunya proses lipogenensis. Lemak yang disintesis di hati didapatkan melalui lemak pada pakan, deposit lemak dan juga pemecahan karbohidrat (de novo fatty acid synthesis).
Organ hati disamping sebagai tempat sintesis asam lemak juga merupakan organ yang berfungsi menyaring racun dalam darah. Tak hanya itu, hati juga berfungsi meregulasi kadar glukosa darah, metabolisme protein, sintesa asam amino, eksresi enzim pencernaan melalui empedu, berperan untuk metabolisme, dan penyimpanan beberapa vitamin serta bagian terpenting dari kerabang ayam petelur.
Baca Juga : Memanfaatkan Probiotik untuk Menekan Infeksi Salmonella
Ketika terjadi proses metabolik di dalam hati, yang terjadi adalah adanya peningkatan deposit lemak, salah satu alasannya adalah kemampuan ayam yang sangat efisien dalam merespon dan memobilisasi lemak dalam ransumnya, sehingga ketidakseimbangan proses ini akan melahirkan negative balance yang berakibat pada performa ayam itu sendiri.
Apabila hal ini berjalan terus – menerus maka hati akan memberikan kompensasi berupa proses pembesaran organ, fatalnya apabila terjadi oksidasi lemak pada organ tersebut akan menyebabkan rusaknya pembuluh darah yang dikenal sebagai Fatty Liver Hemorrhagic Syndrome atau yang lebih dikenal dengan sebutan FLHS, yang mana nantinya bisa disertai dengan kenaikan angka kematian dalam flok.
Ada dua usia yang rentan terkena FLHS, antara lain saat awal produksi, puncak produksi, kemudian di akhir siklus produksi. Pada fase awal usia produktif, untuk memenuhi proses vitellogenesis (deposit kuning telur) dipengaruhi oleh level estrogen yang akan menjalankan proses lipogenesis dalam hati, sedangkan sintesis yolk lipoprotein di hati jauh lebih besar dibandingkan dengan mobilisisai dari hepatosit.
Proses ini akan mengakibatkan organ semakin besar ditambahkan lagi pelepasan lemak dalam ovarium (VLDL) tidak seimbang seperti release yang dilakukan hati. Bayangkan apabila negative balance ini ditambahkan faktor presdisposisi yang lain makan kemungkinan proses FLHS akan semakin mudah terjadi. Kemudian pada ayam tua, transpor lemak ke luar hati tidak setara dengan influx ke dalam, hal ini erat kaitannya dengan feed intake yang tinggi tetapi HD yang sudah rendah.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap dari Majalah Poultry Indonesia edisi Oktober 2019 dengan judul “Waspadai FLHS Saat Puncak Produksi”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153