POULTRYINDONESIA, Jakarta – Dalam rangka memperingati Bulan Bakti Peternakan & Kesehatan Hewan ke-189, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan menyelenggarakan Webinar KesMavet Series #3 pada Kamis (11/9). Kegiatan berlangsung secara luring di Kantor Pusat Ditjen PKH, Jakarta, serta diikuti secara daring melalui Zoom Meeting dan siaran langsung kanal YouTube Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner.
Webinar ini diikuti ratusan peserta dari kalangan akademisi, praktisi, mahasiswa, pelaku usaha perunggasan, serta masyarakat umum, mengangkat tema “Fakta tentang Residu dan Hormon pada Daging Ayam” dipandu oleh moderator drh. Ira Firgorita selaku Ketua Kelompok Substansi Pengawasan Keamanan Produk Hewan. Turut hadir Dr. drh. I Ketut Wirata, M.Si selaku Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner, Ditjen PKH dan Dr.Yane Ardian Bima Arya, SE, M.Si selaku Staf Ahli Bidang Penguatan Ketahanan Pangan Keluarga Tim Penggerak PKK Pusat.
Acara dibuka dengan sambutan oleh Dr. drh. Agung Suganda, M.Si, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. Dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya edukasi publik untuk meningkatkan pemahaman mengenai keamanan pangan asal hewan, sekaligus meluruskan mispersepsi terkait residu dan hormon pada daging ayam.
“Dengan pemahaman yang benar, kepercayaan masyarakat terhadap produk unggas nasional dapat semakin kuat, dan harapannya akan meningkatkan konsumsi pangan protein asal hewani,” ujarnya.
Sesi pemaparan materi diawali oleh Dr. drh. Trioso Purnawarman, M.Si, anggota Komisi Bibit Ternak Kementan sekaligus Dosen SKHB IPB. Ia memaparkan fakta terkait residu dan hormon pada daging ayam, sekaligus menyinggung kondisi ketersediaan protein hewani di Indonesia. Menurutnya, pada tahun 2024 ketersediaan ayam dan telur sudah dalam kondisi surplus.
“Meski demikian, tetap ada tantangan seperti peningkatan kebutuhan, distribusi dan disparitas harga, isu keamanan pangan, ketergantungan impor, regenerasi peternak, hingga potensi investasi dan serapan tenaga kerja,” ungkap Trioso.
Ia menambahkan bahwa pemerintah terus memperkuat regulasi terkait penggunaan antibiotik di sektor peternakan. Data internal 2022–2024 menunjukkan bahwa 90–100% sampel daging ayam bebas residu antibiotik. Trioso juga menyebutkan bahwa Kesmavet memiliki website dengan fitur laporan masyarakat untuk menampung aduan jika ditemukan daging yang tidak memenuhi kriteria ASUH (Aman, Sehat, Utuh, Halal).
Sementara itu, Achmad Dawami, S.Pt, Ketua Umum GPPU sekaligus praktisi perunggasan, menyoroti isu keamanan pangan yang masih sering muncul di masyarakat, baik terkait hormon, residu antibiotik, maupun cemaran mikroba. Ia menekankan bahwa kualitas daging ayam sangat dipengaruhi oleh rantai distribusi.
“Semakin lama karkas sampai ke tangan konsumen, semakin besar risiko peningkatan jumlah bakteri. Karena itu, jaminan keamanan pangan harus menjadi prioritas agar daging ayam bebas residu dan cemaran. Hal ini sejatinya sudah dijamin negara melalui undang-undang dan peraturan turunannya,” jelas Dawami.
Di akhir pemaparannya, Dawami menegaskan pentingnya sinergi semua pihak dalam memastikan gizi, kesehatan, serta kepercayaan konsumen. Ia juga mengajak peserta webinar untuk menjadi agen edukasi pangan ASUH di tengah masyarakat.
Webinar ditutup dengan kesimpulan bahwa isu residu dan hormon pada daging ayam perlu terus diklarifikasi dengan data ilmiah yang akurat, serta ditekankan perlunya kerja sama antara pemerintah, akademisi, praktisi, dan masyarakat dalam menjamin keamanan pangan asal hewan.