POULTRYINDONESIA, Jakarta– Penyakit merupakan salah satu indikator yang memerlukan perhatian dan penanganan serius dalam proses budi daya perunggasan. Pasalnya, sukses tidaknya penanganan penyakit dalam kandang, akan sangat berpengaruh dalam keberhasilan performa produksi ternak. Menanggapi hal tersebut, Poultry Indonesia menggelar Poultry Indonesia Forum edisi ke-21 yang bertemakan “Kilas Balik dan Proyeksi Penyakit Unggas” melalui aplikasi Zoom, Sabtu (13/11).
Baca juga : Kementan Siap Perkuat Peran Bioinformatika Bidang Penyakit Hewan di ASEAN

Berdasarkan pemaparan dari Dr. drh. Nuryani Zainuddin, M.Si selaku Direktur Kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian Republik Indonesia, memaparkan bahwa pemerintah memiliki beberapa kebijakan dalam pengendalian penyakit unggas di Indonesia. Pengendalian dan penanggulangan tersebut tentu perlu didukung oleh otoritas veteriner sebagai penguatan peran masyarakat dan meningkatkan promosi pencegahan penyakit.

“Ditjen PKH memiliki sistem pengendalian dan penanggulangan penyakit hewan yang berupa pengamatan dan pengidentifikasian hewan, pencegahan penyakit hewan, pengamatan penyakit hewan, pemberantasan penyakit hewan, serta pengobatan hewan,” papar Nuryani.
Selanjutnya, sesi pemaparan materi dilanjutkan oleh drh. Hadi Wibowo selaku Ketua Umum Asosiasi Dokter Hewan Perunggasan Indonesia yang menyampaikan bahwa tren penyakit unggas tiap tahun selalu sama, mulai penyakit dari golongan virus, bakteri, protozoa, parasit darah, serta golongan cacing atau helmintiasis.
“Tren pelaporan penyakit unggas di lapangan dari tahun ke tahun selalu sama. Di tahun yang akan datang, mungkin hanya fokus untuk penyakit yang telah ada untuk menekan kasus-kasus penyakit tersebut,” beber Hadi.
Lebih lanjut lagi, Hadi mengatakan bahwa penggunaan pengganti AGP di lapangan masih belum terbukti optimal untuk menggantikan fungsi AGP pada performa ayam, baik ayam ras pedaging maupun ras petelur. Oleh sebab itu, pentingnya penggunaan AGP dengan catatan tetap memperhatikan dosis berdasarkan anjuran yang telah ditetapkan oleh dokter hewan.
Pemaparan dalam acara tersebut kemudian dilanjutkan oleh Prof. Dr. drh. Michael Haryadi Wibowo, M.S. selaku Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Gadjah Mada.
Michael membawakan materi mengenai manajemen penyakit pada unggas yang menerangkan bahwa semua elemen peternakan mulai dari kandang, tempat pakan dan minum, serta lalu lintas peternak merupakan faktor yang dapat menimbulkan penyakit. Selain faktor internal, terdapat juga faktor eksternal yang harus diwaspadai yaitu tantangan iklim yang memiliki curah hujan tinggi sehingga mempunyai dampak secara langsung maupun secara tidak langsung terhadap kesehatan unggas.
“Konsep pencegahan penyakit unggas yang pertama ialah penerapan biosekuriti sebagai garda terdepan seperti sanitasi, desinfeksi, dan kontrol bibit pembawa penyakit. Yang kedua, tingkatkan usaha pengebalan penyakit dengan vaksinasi dan kendalikan faktor stres dan imunosupresi. Kemudian yang terakhir, optimalkan tatalaksana peternakan seperti perhatikan kualitas pakan dan air minum, menjaga sirkulasi udara serta mengecek performa produksi individu,” terang Michael.
Masih dalam acara yang sama, drh. Ismail Kurnia Rambe selaku Veterinary Service Coordinator Ceva Animal Health Indonesia mengungkapkan bahwa terdapat 4 prediksi penyakit utama yang terjadi di tahun 2022.
“Berdasarkan dari data yang kami dapatkan dari 4 tahun ke belakang, kami prediksi terdapat 4 penyakit utama pada tahun 2022 ialah Newcastle Disease (ND), Infectious Bronchritis (IB), Infectious Bursal Disease (IBD), dan Inclusion Body Hepatitis (IBH),” ungkap Ismail.
Lebih lanjut dalam acara tersebut, Roni Maulana Yusuf T. selaku CEO Berkah Chicken Organik menceritakan pengalaman dan manfaat penggunaan herbal pengganti AGP untuk kesehatan dan performa ayam. Selain lebih menekan biaya produksi, penggunaan herbal juga sudah pasti daging ayam yang diperoleh aman dan sehat untuk dikonsumsi manusia karena penggunaan herbal tidak meninggalkan zat residu berbahaya.
“Penggunaan herbal ini tidak meninggalkan zat residu berbahaya, berbeda dengan antibiotik yang dapat memicu Antimicrobial Resistance (AMR). AMR ini menyebabkan ayam kebal terhadap pengobatan antibiotik,” ujar Roni.