Program Work Based Academy (WBA) yang diinsiasi oleh PT Charoen Pokphand Indonesia, Tbk dan Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada telah memasuki tahun ketiga. Setelah suskes menyelenggarakan WBA Batch ke-1 dan 2, semakin banyak antusiasme para lulusan sarjana peternakan mengikuti kegiatan ini.
Pada 25 Januari 2022, telah diselenggarakan Closing Ceremony Work Based Academy Batch 3 yang diselenggarakan secara daring, yang dihadiri oleh para peserta WBA Batch 3, jajaran Manajemen PT Charoen Pokphand Indonesia, Tbk dan Civitas Akademi Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada.
Turut hadir, Prof. Dr. Ali Agus, DAA., DEA., IPU., ASEAN. Eng. selaku Project Initiator dari WBA. Ia menyampaikan optimismenya mengenai program WBA yang merupakan sebuah prototipe yang digagas bersama dengan PT Charoen Pokphand Indonesia. “Saya sangat optimis para peserta yang telah mengikuti program ini memiliki banyak pengalaman dan banyak pelajaran berharga, baik teori maupun praktek yang akan bermanfaat bagi kemajuan perunggasan Indoneisa ,” ungkapnya.
Ali juga menyebutkan bahwa rangkaian program yang telah dilakukan dari proses magang, evaluasi dan diskusi dengan mentor di lapangan dapat memberikan pengalaman yang berharga bagi peserta. “Selain itu, hal teknis dan non teknis, bahkan ekonomis serta strategi bisnis telah didapatkan oleh para peserta pada program WBA ini,” ungkap Ali.
Ia berharap program ini dapat terus dilanjutkan dan bisa menjadi salah satu milestone peran bersama untuk menyiapkan SDM berkualitas di industri perunggasan. “Kami sangat berbahagia dan bergembira, semoga kerja sama ini dapat diteruskan untuk menyiapkan generasi yang akan datang untuk siap bertarung dan berkompetisi di dunia yang semakin kompetitif untuk memajukan industri perunggasan. Semoga bisa kita kembangkan menjadi program yang lebih terstruktur melalui program profesi insinyur peternakan,” terangnya.
Dalam kesempatan yang sama, Ir. M. Syafri Afriansyah, M.BA selaku General Manager Human Capital PT Charoen Pokphand Indonesia, Tbk menyampaikan laporannya terkait dengan penyelenggaraan program WBA Batch ke-3. Program WBA 3 yang dimulai sejak 25 Juli 2021 diikuti oleh 25 sarjana peternakan dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Diawali dengan masa orientasi selama 2 minggu dan diisi dengan pembelajaran, baik secara online berjadwal mandiri (Asynchronous) maupun sesi perkuliahan secara daring terjadwal yang dilakukan secara bersamaan (Synchronous), kegiatan tersebut telah berlangsung selama 6 bulan.
“Peserta WBA tahun ini, untuk pertama kalinya diikuti oleh dua orang peserta wanita. Selama program, keduanya membuktikan bahwa peserta perempuan mampu secara aktif di kandang dan mengikuti berbagai kegiatan pada satu kandang ke kandang lainnya untuk membantu performans peternak mitra,” tuturnya.
Menurut Syafri, kedua srikandi ini dapat menunjukan kemampuan lain yang tidak dimiliki oleh para peserta pria dengan kemampuan analisis, ketelitian, serta komunikasi yang baik dengan pekerja kandang. Hal ini menujukkan bahwa sarjana peternakan perempuan juga mampu untuk bekerja di bidang peternakan.
Syafri juga menyampaikan apresiasinya kepada seluruh rekan di UGM yang senantiasa berinovasi dan menciptakan program yang berdampak lebih luas. Syafri berharap apa yang sudah dilakukan dapat memberikan manfaat bagi kemajuan pendidikan peternakan, peningkatan kemampuan budi daya peternak, dan perkembangan industri perunggasan Nasional sehingga dapat bersaing di kancah global.
Selanjutnya menurut Dr. Muhsin Al Anas, S.Pt selaku dosen Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada sekaligus koordinator program Work Based Academy mengatakan bahwa saat ini dibutuhkan kemampuan penyelesaian masalah atau problem solving. Muhsin juga menyampaikan harapannya untuk pengadaan program lanjutan agar para lulusan peternakan memiliki gambaran lebih baik lagi mengenai industri perunggasan. Selain itu, Muhsin juga mengatakan bahwa saat ini tidak ada lagi batasan model pembelajaran, sehingga diharapkan semuanya bisa dilakukan melalui Kredensial Mikro Mahasiswa Indonesia (KMMI) agar mahasiswa dari ujung Barat hingga ujung Timur Indonesia dapat mengambil kurikulum mengenai closed house.
Dalam acara penutupan WBA Batch ke-3 ini, terdapat dua orang perwakilan peserta yang mempresentasikan proyek kecil hasil dari program pelatihan WBA yakni Siska Mardiana dengan judul “Menekan Angka Kematian pada Fase Brooding Melalui Lighting Program” dan Muhammad Ghufran dengan judul “Penggunaan Tunnel Door Sederhana di Kandang Semi Closed House untuk Menekan Penyakit CRD”.
Lebih lanjut menurut Dekan Fakultas Peternakan UGM, Prof. Budi Guntoro selaku Dekan Fakultas Peternakan UGM menyampaikan apreasiasinya kepada PT Charoen Pokphand Indonesia, Tbk yang telah memfasilitasi materi dan upaya yang diberikan kepada para peserta WBA. “Kerjasama antara UGM dan CPI ini tidak hanya untuk lulusan UGM saja, tetapi juga seluruh sarjana peternakan di Indonesia karena sudah menjadi tanggung jawab UGM untuk menyediakan SDM berkualitas di Indonesia,” ujarnya.
Masih menurut Budi, antusiasme para peserta yang begitu tinggi terhadap program WBA serta outcome dari program ini yang sangat signifikan, dimana para peserta mendapatkan pengetahuan dan skill di bidang industri, membangun jejaring, dan peningkatan kepercayaan diri, sehingga memperkuat karakter sebagai sarjana peternakan.
“Karena anemo yang sangat positif dan output dari program ini sangat bagus sekali, maka kami sangat merekomendasikan kegiatan ini untuk dilanjutkan dalam rangka menyiapkan SDM peternakan Indonesia,” tuturnya.
Apresiasi positif juga datang dari Presiden Direktur PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk, Dr. (H.C.) Tjiu Thomas Effendy, S.E., MBA. Thomas memberikan apresiasi atas suksesnya program WBA yang telah berlangsung hingga saaat ini. “Selama 6 bulan, adik-adik peserta WBA berada di lingkungan Charoen Pokphand, sehingga sebetulnya otomatis mengetahui sedikit banyak mengenai perusahaan in, mengetahui bagaimana proses budi daya unggas modern dan siap untuk terjun langsung pada industri perunggasan nasional,” terang Thomas.
Charoen Pokphand Indonesia berkomitmen untuk terus melanjutkan program Work Based Academy (WBA), yang merupakan salah satu program yang hasilnya nyata. Selain itu, Thomas pun menambahkan bahwa selain kegiatan ini, terdapat kegiatan lainnya bagi para mahasiswa perguruan tinggi, melalui program Charoen Pokphand Best Student Award (CPBSA). “Selain itu, kami juga bekerja sama dengan empat perguruan tinggi di Indonesia untuk program magang yang lebih intensif lagi dan silabusnya sudah tersusun, yaitu Entrepreneurship Teaching Centre (ETC),” tutupnya. Adv