Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas pelet beragam. Kualitas pakan pellet dapat dilihat dari konsistensi pellet; kerentanan, kekerasan, lalu kualitas fisik pellet seperti kilap, warna dan ada tidaknya retak pada permukaan, serta panjang pellet. Pengaruh kualitas bahan baku terhadap kualitas dan efisiensi pellet meliputi aspek-aspek berikut:
  1. Pengaruh Ukuran Partikel Bahan Baku pada Kualitas dan Efisiensi Pellet
Bahan baku dapat dibagi menjadi partikel kasar, sedang dan halus. Secara umum, partikel kasar memiliki diameter di atas 3mm. Partikel sedang dan halus memiliki khasiat pelet yang baik, konsumsi energi yang rendah dan abrasi yang lebih sedikit untuk mesin die and roller. Dibandingkan dengan partikel kasar, partikel sedang dan halus memiliki area permukaan yang lebih spesifik saat terkena uap selama masa conditioning. Uap mudah menembus inti partikel kecil dan menyebabkan perubahan fisik dan kimia, yang kemudian meningkatkan kualitas pellet.
Seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1, inti dari partikel sedang dan halus (dua kubus kecil di sebelah kiri) mudah ditembus oleh uap, tetapi uap tidak dapat menembus inti partikel kasar (kubus besar di sebelah kanan), sehingga meninggalkan inti yang kering.
Gambar 1. Penembusan uap ke dalam partikel yang berbeda
(a)Partikel halus (b)Partikel kasar
Selain itu, bahan baku partikel kasar cenderung lebih mudah retak setelah proses pelletting (seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2). Material sedang dan halus memiliki kepadatan yang tinggi dari partikel yang ditekan (seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3), dan kemampuan yang lebih baik untuk melewati lubang pencetak partikel pellet atau die (seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4), dengan abrasi pada lubang die yang lebih sedikit serta output yang lebih tinggi. Namun, jika bahan dihancurkan terlalu halus, biaya produksi akan meningkat. Ukuran partikel yang ideal adalah kombinasi yang wajar dari bahan baku kasar, sedang dan halus. Contohnya seperti produksi pakan ternak dan pellet berdiameter 6mm, distribusi ukuran partikel yang wajar ditunjukkan pada Gambar 5.
Gambar 2. Retak pada partikel setelah proses pressing
(a)Partikel Halus (b)Partikel Kasar
Gambar 3. Kepadatan partikel setelah proses pelleting
(a)Partikel Halus (b)Partikel Kasar
Gambar 4. Kemampuan partikel untuk menembus lubang die
(a)Partikel Halus (b)Partikel Kasar
Gambar 5. Distribusi ukuran partikel yang wajar
Untuk pakan udang berdiameter 2mm, sebanyak 85% dari bahan baku harus melewati saringan 40 mesh. Diameter minimum lubang die ring adalah 0,8 mm, jadi diameter maksimum bahan baku untuk pelet tidak boleh di atas 1/3 dari diameter lubang die, yang berarti bahan baku harus melewati saringan 60 mesh (0,267mm) setelah proses penghancuran untuk memenuhi persyaratan ukuran partikel.
  1. Pengaruh Kepadatan Pakan Terhadap Efisiensi Pellet
Efisiensi pellet juga dipengaruhi oleh kepadatan bahan baku. Material halus memiliki kepadatan kurang dari 0,33 t/m³; material kasar atau berat memiliki kepadatan lebih dari 0.4t/m³. Saat proses pelleting, material halus memiliki output rendah, tetapi material berat memiliki output tinggi. Contohnya, ketika menggunakan alfalfa dengan kepadatan 0,22 t/m³, maka outputnya 4t/jam. Saat menggunakan bubuk biji kapas dengan kepadatan 0,53t/m³, maka outputnya 16t/jam.
  1. Pengaruh Kandungan Protein pada Efisiensi Pellet
Bahan baku protein tinggi (dengan kepadatan tinggi), seperti bubuk kedelai dan bubuk biji kapas, dikeluarkan oleh die dan roller dalam proses pelleting, kemudia menghasilkan panas gesekan, yang kondusif untuk proses pelleting. Namun, untuk pakan berprotein tinggi (seperti pakan anak sapi dan pakan terkonsentrasi), sebagian besar bubuk atau urea harus ditambahkan selama proses pelleting, untuk mendapatkan efek yang lebih baik.
  1. Pengaruh Kadar Lemak pada Efisiensi Pelet
Lemak adalah pelumas yang bagus untuk pellet. Lemak dapat meningkatkan output, mengurangi abrasi dan memperpanjang umur mesin die and roller. Pakan itu sendiri sudah mengandung lemak, dan kita juga bisa menambahkan lemak sebelum proses pelleting. Terlalu banyak kandungan lemak, sebanyak 6%, akan mempengaruhi pellet, karena partikel-partikelnya bisa menjadi lunak dan sulit dibentuk. Jika partikel dengan kandungan lemak tinggi lebih dari 3% diperlukan, maka sebanyak 1% – 2% lemak dapat ditambahkan selama pencampuran, dan sisanya dapat ditambahkan dengan menyemprotkan setelah proses pelleting.
  1. Pengaruh Kadar Serat pada Efisiensi Pellet
Serat memiliki efek buruk pada pellet. Serat dapat mengurangi output dan mempercepat abrasi lubang die. Ada dua jenis serat, yaitu serat berserabut, seperti alfalfa, batang tunas manis, batang ubi jalar; dan serat bercangkang, seperti oat, kedelai, biji kapas, kulit kacang. Serat berserabut dapat menyerap uap dan menjadi lembut selama masa conditioning, dan memainkan peran sebagai pengikat dalam partikel, meningkatkan kekuatan partikel; sementara serat bercangkang tidak dapat menyerap uap, dan memainkan peran dalam penyebaran partikel, mempengaruhi kualitas partikel. PI