Kementerian Pertanian bersama dengan Badan Pangan dan Pertanian Dunia melalui Emergency Center for Transboundary Animal Diseases (FAO ECTAD) dan Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID), meluncurkan Program Ketahanan Kesehatan Global atau Global Health Security Programme (GHSP)
POULTRYINDONESIA,Jakarta – Ancaman berbagai penyakit kian melekat dan menampakkan wujudnya. Tak hanya ancaman wabah penyakit yang saat ini membuat gempar seluruh dunia, nyatanya ancaman penyakit “zoonosis”, yaitu penyakit yang menular dari hewan ke manusia dan juga sebaliknya wajib menjadi prioritas pemerintah di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Untuk menjaga agar dunia aman dari ancaman penyakit menular, Indonesia bersama 70 negara lainnya, bekerja sama  untuk mempercepat dukungan politik dan multi sektoral untuk kesiapan ketahanan kesehatan melalui inisiasi global, yang disebut Global Health Security Agenda (GHSA). Untuk mendukung GHSA ini, Kementerian Pertanian bersama dengan  Badan Pangan dan Pertanian Dunia melalui Emergency Center for Transboundary Animal Diseases (FAO ECTAD) dan Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID), secara resmi meluncurkan Program Ketahanan Kesehatan Global atau Global Health Security Programme (GHSP) hari Selasa, (29/06) secara daring.
Dr.Ir. Kasdi Subagyono, M.Sc., selaku Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian mengatakan bahwa GHSP ini merupakan salah satu program yang sangat strategis, dimana dengan keterlibatan semua pihak menjadi kunci terselenggaranya program ini dengan baik.
Baca Juga: FAO dan ADHPI Gelar Workshop Kurikulum Kesehatan Unggas
“Melalui program ini kita bisa menyampaikan berbagai hal khususnya terkait kesehatan hewan, dan ini merupakan salah satu cara memperkuat sektor kesehatan hewan kita, agar bisa mengurangi dampak penyakit yang ditimbulkan oleh berbagai hal termasuk zoonosis. Disini saya ingin sekali lagi tekankan bahwa marilah kerja sama ini kita angkat sebagai satu kerja sama yang strategis untuk kita perkuat dan kita lanjutkan, sehingga kita bisa memberikan manfaat yang besar kepada masyarakat, terutama masyarakat peternakan di Indonesia,” ucapnya.
Kasdi juga memberikan apresiasi kepada USAID, dengan pendanaannya sehingga kerjasama ini bisa digulirkan, selain itu Kasdi juga menyampaikan apresiasinya kepada para mitra yang sudah berkontribusi.
“GHSP ini kami luncurkan agar kami bisa memberikan informasi secara resmi kepada publik, utamanya untuk masyarakat kesehatan hewan dan masyarakat peternakan yang ada di Indonesia. Bahwa negara bekerja sama dengan mitra akan hadir membantu para peternak serta para pelaku di sektor kesehatan hewan. Saya berharap semua pihak bisa bersiap diri untuk meningkatkan kapasitas kesehatan hewan yang sudah kita rancang ini agar bisa dipahami dan nantinya bisa disampaikan dan diterapkan oleh masyarakat,” terang Kasdi.
Lebih lanjut dalam kesempatan yang sama Dr. drh. Nuryani Zainuddin, M,Si, selaku Direktur Kesehatan Hewan, yang mewakili Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian mengatakan jika GHSP ini merupakan program yang sudah lama berjalan, dan terus ditingkatkan setiap tahunnya.
“GHSP sebenarnya sudah diumumkan beberapa tahun yang lalu, dan sudah disepakati oleh berbagai negara di tingkat global. Sejalan dengan itu GHSP ini memang tujuannya berkaitan dengan pencegahan, bagaimana kita mendeteksi, dan bagaimana kita bisa merespon secara cepat, terkait dengan penyakit infeksi baik yang ada di tingkat regional maupun global. Sehingga kami mengucapkan terima kasih banyak untuk FAO dan USAID yang sudah sekitar 20 tahun membantu khususnya dalam pengembangan kesehatan hewan di Indonesia,” tutur Nuryani.
Dalam program barunya, GHSP yang merupakan kolaborasi panjang Kementerian Pertanian dan FAO ECTAD-USAID merupakan suatu program untuk mencegah pandemi. Kerja sama ini berawal saat  pandemi Avian Influenza pada tahun 2006, dimana Indonesia merupakan negara dengan kasus flu burung H5N1 dengan kematian manusia terbanyak hingga tahun 2014.
Sementara jumlah kasus flu burung pada manusia telah menurun secara signifikan, situasi endemik virus H5N1 masih menjadi ancaman bagi industri perunggasan dan kesehatan manusia. Selain flu burung, banyak daerah di Indonesia yang masih endemik penyakit zoonosis seperti rabies dan antraks.
Program Ketahanan Kesehatan Global ini  yang akan berjalan selama empat tahun ke depan berfokus pada dukungan teknis di empat area: a) Kolaborasi multi sektor dan pengembangan kebijakan; b) Surveilans, laboratorium dan identifikasi risiko; c) Kesiapsiagaan dan respons penyakit dengan One Health; d) Kesehatan unggas nasional dan pengendalian resistansi antimikroba.
Dukungan FAO dan USAID untuk program ini
FAO dan USAID bekerja sama dengan pemerintah membangun kapasitas untuk mencegah ancaman pandemi yang berasal dari Zoonosis di Indonesia, sehingga negara dapat dengan cepat merespon dan mengendalikan wabah zoonosis. Bersama dengan Pemerintah Indonesia, FAO memperkuat kapasitas kesehatan hewan di berbagai daerah dan memberikan pelatihan dan dukungan teknis pada surveilans penyakit, diagnostik laboratorium, pelaporan dan investigasi wabah, serta kesiapsiagaan dan respon melalui pendekatan One Health.
Selanjutnya menurut Richard Trenchard, selaku Perwakilan ad interim FAO untuk Indonesia, dalam acara tersebut mengatakan bahwa pandemi Covid-19 yang mewabahi seluruh dunia memberikan dampak yang besar.
“Selain dampak kesehatan yang luar biasa, COVID-19 telah mengganggu ketahanan pangan dan ekonomi dunia. Secara global, setidaknya lebih dari 132 juta orang diprediksi menderita sebagai akibat dari COVID-19. Kita tidak ingin keadaan darurat kesehatan global seperti ini terjadi lagi. Kita perlu mendeteksi potensi wabah sedini mungkin dan FAO selalu siap bekerja sama dengan Indonesia untuk merespon lebih awal dan secara efektif.” ungkap Richard.
Selain itu menurut Laura Gonzales, selaku Pelaksana Tugas Direktur Badan Pembangunan International Amerika untuk Indonesia, dari USAID, yang juga hadir dalam pernyataannya mengatakan melalui pendekatan One Health, Program Ketahanan Kesehatan Global USAID akan menurunkan risiko zoonosis dan penyakit infeksi, resistansi antimikroba, serta ancaman biologis lainnya dengan memperkuat sistem kesehatan hewan Indonesia.
“Merupakan suatu kehormatan untuk terus bekerja sama dengan Indonesia dalam menangani penyakit menular yang muncul. GHSP akan melanjutkan keberhasilan sebelumnya untuk melakukan pembelajaran dan lebih mengasah kemampuan deteksi, kesiapsiagaan, serta respon zoonosis dan penyakit infeksi di Indonesia.” kata Laura.