Industri pengolahan telur merupakan salah satu jalan keluar dari persoalan harga bagi para peternak layer
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Harga telur saat ini sedang mengalami penurunan di tingkat peternak. Hal tersebut terjadi karena banyak faktor, namun para peternak banyak yang menduga ada kaitannya dengan cutting telur Parent Stock yang digunakan untuk CSR. Menyikapi hal tersebut, Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (Pataka) menggelar Forum Diskusi Publik Bincang Bincang Agribisnis (BBA) yang bertema “Perintisan Industri Pengolahan Telur: Segera, Pasti bisa?” yang bertempat di Hotel Ibis Cawang, Kamis, 17 Oktober 2019.
Dalam sesi pandangan umum, yang mengundang Achmad Dawami selaku Ketua Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU), Fransiskus Welirang Selaku Komite Ketahanan Pangan Kadin, Yudianto Yogiarso selaku Ketua Umum Pinsar Petelur Nasional, dan I Ketut Diarmita selaku Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian.
Baca Juga : Membangun Cangkang Kuat untuk Peternakan Ayam Petelur
Dalam sesi tersebut, Achmad Dawami menyatakan bahwa memang saat ini sektor peternakan sudah tidak cocok lagi jika dilakukan secara backyard atau hanya sebagai usaha sampingan. Karena seiring perkembangan zaman, dari genetik maupun fisiologis ayam, membutuhkan kondisi yang nyaman agar dapat berproduksi secara maksimal. ”Peternakan sudah tidak cocok dijalankan secara backyard, sudah saatnya dijalankan secara industri,” ucap Dawami.
Lalu menurut Yudianto, komoditas telur selalu mengalami fluktuasi harga walaupun tidak se ekstrim ayam pedaging, sehingga perlu adanya solusi alternatif agar para peternak memiliki opsi selain menjual ke konsumen rumah tangga. ”Jatuhnya harga telur selalu terjadi berulang kali, sehingga dengan adanya industri tepung telur itu menjadi penyangga agar kami tidak terlalu jatuh dari segi harga,” ujarnya.
Senada dengan Yudianto, Fransiskus Welirang juga menyarankan kepada para peternak agar meningkatnkan nilai tambah dari komoditas telur. Dengan adanya nilai tambah dari suatu komoditas, tentunya peternak bisa mendapatkan keuntungan yang lebih daripada hanya mengandalkan penjualan barang komoditas. ”Sudah saatnya para peternak telur ini mencari cara agar komoditasnya bisa mendapatkan nilai tambah,” katanya.
Menurut I Ketut Diarmita, ada anomali di industri telur ini. produksi telur ayam ras dalam negeri selalu bertambah setiap tahunnya, namun ia juga mengatakan bahwa ada tren kenaikan impor tepung telur juga naik. “Telur makin lama makin banyak, tapi saya juga melihat impor telur kita naik. Ada keanehan. Telur meningkat tapi impor tepung naik, sehingga kami sebagai regulator akan mendukung dari segi regulasi dan fasilitasi. Kemampuan kita hanya mendorong integrator supaya mau berinvestasi,” pungkas Ketut.