POULTRYINDONESIA, Jakarta – Selama ini, enzim yang dipasarkan secara komersial di Indonesia didominasi oleh produk impor. Oleh sebab itu, sudah waktunya untuk menggunakan enzim produk lokal dalam negeri sendiri. Hal ini seperti disampaikan oleh Prof. (Riset). Dr. Ir. Arnold P Sinurat, MS, PhD, selaku peneliti utama bidang pakan dan nutrisi ternak, Balai Penelitian Ternak (Balitnak), dalam Seminar Berkala Pelayanan Informasi Inovasi TPV 2022 – Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (Puslitbangnak), yang berlangsung secara daring melalui aplikasi Zoom, Rabu ( 31/8).
Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa enzim merupakan salah satu bioteknologi yang banyak diterapkan di pakan. Penerapan bioteknologi lain pada pakan adalah meningkatkan produktivitas bahan pakan dengan rekayasa genetik, meningkatkan gizi bahan pakan, produksi bahan pakan berkualitas tinggi dan imbuhan pakan.
Arnold mengungkapkan bahwa Balitnak telah berhasil membuat enzim pemecah serat dengan sebutan BS4. Menurutnya enzim ini dihasilkan dari pembiakan Eupenicillium javanicum pada substrat bungkil kelapa.
Baca Juga: CPI Resmi Laksanakan Program Entrepreneurship Training Center (ETC)
“Enzim ini mampu untuk meningkatkan kecernaan gizi seperti bahan kering, energi serta protein dari bahan pakan. Selain itu, enzim ini mempunyai khasiat yang tidak berbeda dengan enzim komersial yang notabennya berasal dari impor,” tegasnya.
Ia melanjutkan, mekanisme kerja enzim ini adalah dengan melakukan perusakan pada dinding sel bahan pakan, melakukan stimulasi bakteri yang berkhasiat dengan merubah struktur serat kasar. Selain itu, enzim ini akan memperbaiki saluran pencernaan, seperti mengurangi kerusakan dinding usus akibat serat serta menurunkan kekentalan isi usus.
“Secara umum enzim ini mampu untuk memperbaiki performa dari unggas baik ayam petelur, pedaging, itik bahkan ayam KUB. Perbaikan itu terutama pada unsur Feed Conversion Rate (FCR),” pungkasnya.