Adanya pembatasan aktivitas diluar rumah, membuat peluang peminat ayam hias meningkat
Oleh : Ir. Sjamsirul Alam*
Semenjak Pandemi Covid 19 melanda dunia termasuk Indonesia dan para pekerja dianjurkan bekerja secara daring atau WFH (Work From Home), mahasiswa maupun pelajar belajar secara LFH/ SFH (Learn From Home/School From Home) ternyata bisnis ayam hias (fancy), maupun ikan hias serta tanaman hias mendapat peluang untuk pertambahan peminat. Hal tersebut tidak terlepas dari mereka yang sebagian besar waktunya di rumah saja, mencari kegiatan hiburan maupun rekreasi yang murah meriah serta positif untuk menekan stres dan kejenuhan. Alhasil, dengan memelihara hewan atau tanaman tersebut di lingkungan rumah menjadi solusi untuk menghabiskan waktu luang.
Baca juga : Lebih Dekat dengan Ayam Hias
Menurut catatan Prof. Dr. Ir. Sofyan Iskandar dan Dr. Ir. Tike Sartika dari Balitnak (Balai Penelitian Ternak) – Ciawi Bogor (2008), Indonesia merupakan Negeri yang kaya akan keanekaragaman hayati. Diantaranya yaitu jenis-jenis ayam, baik ayam lokal asli Indonesia maupun ayam lokal introduksi yang telah beradaptasi lama di Indonesia. Jenis-jenis yang biasa digunakan untuk ayam hias biasanya mempunyai penampilan cantik, selain itu ayam tangkas juga menjadi pilihan untuk dipelihara. Beberapa jenis ayam hias, antara lain ayam Kate, ayam Kapas, ayam Mutiara, ayam Poland (Kate Jambul), ayam Serama, ayam Bangkok, ayam Sumatera (Melayu), ayam Jalak Harupat dan ayam Bali (Olagan). Sedangkan ayam Brahma yang kakinya berbulu, bertubuh besar dan berpenampilan cantik belum masuk dalam catatan Balitnak.
Yang menjadi permasalahan kini bagi ayam hias, ialah ketersediaannya di pasaran sangat terbatas sehingga harganya melambung tinggi. Maka untuk itu perlu digalakkan dan diperkenalkan teknologi Inseminasi Buatan atau istilah asingnya adalah “Artificial Insemination” yang biasa disingkat IB ke kalangan peternak pebisnis ayam hias.
Keuntungan IB pada unggas.
Menurut Fifi Afiati, S.Pt., M.Si dkk (2013) selaku peneliti dari Puslitbang Bioteknologi LIPI, untuk meningkatkan populasi ternak unggas, usaha pembiakan unggas merupakan faktor penting yang perlu diperhatikan, dimana saat ini pembiakan ternak unggas dapat dilakukan secara perkawinan alami (menggabungkan unggas jantan dengan unggas betina) atau perkawinan buatan (menerapkan perkawinan Inseminasi Buatan. Adapun beberapa keuntungan perkawinan Inseminasi Buatan (IB) yakni, meningkatkan kemampuan unggas betina dalam menghasilkan telur tetas (Hatching Egg), meningkatkan jumlah jumlah produksi telur, karena seleksi induk betina dan pejantan dalam proses IB memiliki kemampuan tinggi dalam produksi telur dan daging. Keuntungan yang lain lewat perkembangbiakan secara IB adalah mempercepat pengadaan DOC (anak ayam umur sehari) dan bibit unggul dalam jumlah yang banyak, lalu yang terakhir meningkatkan kemampuan pejantan yang memiliki kualitas produksi unggul untuk mengawini sejumlah betina secara IB.
Tahap-tahap pelaksanaan IB
Beberapa Hal yang perlu diperhatikan sebelum melakukan IB yaitu pertama mengenali sistem reproduksi unggas. Sistem reproduksi unggas melibatkan organ jantan (testis), dan organ betina (ovarium/ oviduct). Pembuahan terjadi setelah adanya perkawinan spermatozoa (air mani) unggas pejantan yang sampai di infundibulum, dan akan menembus membran Vitelina Ovum untuk bertemu sel benih betina (Ovum) sehingga terbentuk embrio. Hanya beberapa lusin sel spermatozoa yang dapat mendekati ovum, dan hanya beberapa spermatozoa yang bisa masuk ke Zona Pelusida yang akhirnya 1 buah spermtozoa yang bisa membuahi ovum. Telur yang tidak dibuahi disebut “Telur Infertil” atau telur konsumsi, sedang telur yang dibuahi disebut “Telur Fertil” (bisa ditetaskan).
Organ Reproduksi Jantan, terdiri dari testis (yang terletak di rongga perut diatas abdominal ke arah punggung pada bagian interior akhir dari ginjal, berwarna kuning terang, berjumlah 2 buah), dengan epididimis (berjumlah 2 buah, terletak di bagian dorsal testis, tempat pematangan dan transpor spermatozoa serta menghasilkan cairan), ductus deferens (berjumlah 2, terletak ke arah kaudal menyilang ureter, bermuara pada kloaka sebelah lateral urodeum) dan alat kopolatoris (terdiri dari 2 papilae, rudimenter, berkembang) yang berbeda dengan penis pada manusia.
Sedangkan Organ Reproduksi Betina, terdiri atas 1 buah Ovarium dan 1 buah Oviduct (Saluran telur). Ovarium terletak di daerah kranial ginjal antara rongga dada dan perut pada garis punggung sebagai penghasil ovum (sel telur), sangat kaya kuning telur (yolk), terdiri atas 2 lobus besar yang mengandung folikel-folikel, bagian yolk memiliki lapisan yang tidak mengandung pembuluh kapiler darah dinamakan “stigma”, dimana disini akan terjadi perobekan selaput folikel yolk sehingga jatuh dan masuk ke Ostium (mulut Infundibulum).
Setelah ayam betina dewasa, ovarium memproduksi hormon estrogen yang berperan memacu pertumbuhan saluran reproduksi dan merangsang kenaikan Kalsium (Ca), protein, lemak dan substansi lain dalam darah untuk pembentukan telur. Oviduct berjumlah 2 buah tetapi hanya 1 buah yang berkembang, berbentuk panjang berkelok-kelok sebagai bagian dari Ductus Muller, ujungnya melebar membentuk corong dengan tepi berjumbai, terdiri atas 5 bagian yaitu infindibulum/funnell, magnum, ithmus, uterus/sel gland dan vagina. Oviduct mengalami perkembangan dan tumbuh sempurna saat ayam mulai bertelur dengan dihasilkannya hormon FSH (Folikel Stimulating Hormon). Pada Tabel 1 telah disajikan bagian organ reproduksi unggas betina dan Fungsinya.
Ayam betina mulai dewasa kelamin (saat bertelur pertama) pada umur 6 – 7 bulan, namun masa dewasa kelamin ini dipengaruhi oleh pemberian cahaya, maka bila ingin masa bertelur diperlambat 6 – 8 minggu dari yang normal maka ayam sebaiknya ditempatkan di dalam kandang gelap. Hal selanjutnya dalam proses inseminasi buatan yaitu dengan memilih pejantan unggul, proses ini sangat penting untuk mendapatkan spermatozoa unggul dalam Inseminasi Buatan ternak unggas, dengan persyaratan antara lain : Umur pejantan antara 12 – 20 bulan atau bertaji dengan panjang 0,5 – 1,5 cm, Libido seksual cukup baik, Penampilan bentuk tubuh kuat dan tegap, Sehat dan bebas dari penyakit menular.
Proses akhir setelah melalui serangkaian proses tersebut adalah melakukan Penampungan Semen. Semen (sperma) pejantan sebelum proses IB sebaiknya ditampung dulu, dengan memperhatikan beberapa tahapan agar proses IB berjalan sesuai dengan harapan. beberapa proses tersebut dijelaskan sebagai berikut
1) Persiapan : Sediakan corong ukuran 1 – 2 ml yang bertutup, spuit (alat suntik), tisu, lap dan alkohol 70%. Kemudian ekor pejantan dibersihkan dari kotoran unggas yang kemungkinan akan mengontaminasi semen yang akan ditampung.
2) Cara Penampungan Semen : Dengan jadwal 1 minggu sekali, dilakukan dengan cara pengurutan (massage) bagian punggung pejantan, dimana 1 orang bertugas memegang pejantan dan 1 orang lagi bertugas mengurut dan menampung semen yang keluar (telapak tangan kiri pada otot ekor mendorong bulu ekor ke atas untuk menyingkap kloaka, kemudian ibu jari dan telunjuk tangan kiri diletakkan pada kedua sisi kloaka, sedang tangan kanan untuk merangsang melalui pijatan ujung caudal tepat di bawah tulang pubis. Pemijatan harus dilakukan secara cepat, dan kontinu sampai pejantan memberikan respon dengan mengeluarkan papillae dari kloaka. Sewaktu palillae tersembul keluar, ibu jari dan telunjuk tangan kiri memerah keluar semen sampai refleks ejakulator menghilang. Semen ditampung menggunakan tabung penampung (tabung reaksi) dengan tangan kanan atau disedot dengan spuit suntik lalu dimasukkan dalam tabung reaksi.
3) Penanganan Semen : Semen unggas dapat diawetkan hingga beberapa hari, namun sebaiknya semen segera diinseminasikan ± 30 menit kemudian. Sebelum semen digunakan sebaiknya lebih dulu diencerkan dengan cairan fisiologis (NaCl 0,9%, ringer atau dextrose) + kuning telur konsentrasi 5% + antibiotika Dihydrostreptomycin konsentrasi 200 – 400 ug/ml. Sebaiknya semua pengencer boleh ditambahkan sesaat sebelum IB dilaksanakan agar daya hidup spermatozoa tetap dipertahankan, dan lebih baik lagi bila ditambahkan fruktosa.
Baca juga : Peternak dan Peneliti Berkomitmen Kembangkan Ayam Hias Indonesia
4) Pilih Induk Resipien yang tepat : Terdapat kriteria atau pedoman umum untuk pemilihan induk, yaitu memilih induk yang cerah dan mata bercahaya, Bersifat lincah dan penuh gairah, Paruh simetris dan relatif panjang biasanya memiliki nafsu makan yang tinggi, Lubang dubur besar, lebar berbentuk oval memanjang dan berpermukaan licin atau basah, Tulang pubis tipis, tajam dan lembut dengan lebar dari ujung ke ujung 3 – 4 jari tangan orang dewasa, Rongga perut lembut, Jarak antara tulang pinggul dengan tulang dada 4 jari orang dewasa, kulit lembut, halus dan longgar.
5) Lakukan Proses IB : IB dilakukan 1 minggu sekali (pada sore hari), keberhasilan IB ditentukan oleh kualitas semen, dosis yang tepat dan teknik IB yang dilakukan, dimana dosis spermatozoa tiap spesies unggas berbeda, seperti dosis untuk ayam berkisar 50 – 150 juta spermatozoa motil progresif dalam 0,05 – 0,1 ml, dosis untuk kalkun 0,025 ml, dosis untuk itik 0,3 ml dan dosis untuk angsa 0,05 ml. Pelaksanaan IB dilakukan oleh 2 orang petugas khusus melalui tahap-tahap sebagai berikut. Pertama pegang erat bagian bawah paha dengan tangan satu dan keluarkan saluran telur unggas betina dengan tangan yang satunya oleh petugas pertama, caranya tekan abdomen (bagian perut) unggas oleh jari dan telapak tangan, sedang ibu jari menekan diatas kloaka. Saluran telur terletak di sisi kiri kloaka, sedang pintu pada sisi kanan kloaka adalah ujung saluran pencernaan. Setelah saluran telur tampak, masukkan semen yang akan diinseminasikan dengan menggunakan spuit tuberculum sekitar 3 cm ke dalam saluran. Setelah semen dimasukkan, longgarkan tekanan bagian perut untuk mencegah pengeluaran semen dari saluran telur.
6) Peneropongan (Candling) Telur : Proses ini dilakukan hari ke-7 setelah IB, menggunakan alat teropong lampu senter (Egg Candling Lamp) dengan tujuan menyeleksi telur apakah dapat lanjut ditetaskan atau tidak. Bila diteropong telur tampak jernih atau terang berarti telur itu Infertil (tidak ada pembuahan/tidak berembrio) dan tidak dapat ditetaskan. Berlaku pula sebaliknya bila bagian tengah kuning telur ada titik berwarna merah yang dikelilingi serat rambut berwarna merah yang menandai adanya perkembangan pembuluh darah berarti telur Fertil (dibuahi) dan bisa lanjut ditetaskan. Demikianlah pembahasan tentang Inseminasi Buatan yang bisa diterapkan untuk peningkatan populasi ayam hias yang kini di saat Pandemi Covid 19 banyak diminati masyarakat. Semoga dapat menambah wawasan dan memberikan peluang bisnis yang menjanjikan dan kesempatan lapangan kerja bagi para generasi muda milenial peminat usaha ayam hias di tanah air. *Praktisi perunggasan, alumnus Fapet Unpad