Pihak pemerintah Taiwan dan pihak penyelenggara saat berkunjung ke setiap stand dalam acara VIP Tour
POULTRYINDONESIA, Taiwan – Livestock Taiwan Expo & Forum 2019 juga memberi wadah bagi pengunjung yang ingin menambah ilmu pengetahuannya melalui berbagai seminar teknis dari dunia pertanian, peternakan, dan perikanan selama 3 hari penyelenggaraan. Mr. Chi Chung Chen, Minister of Council of Agriculture Taiwan, mengatakan pameran ini tentunya membawa dampak positif bagi industri lokal maupun industri di kawasan Asia. Oleh karena itu, ia berharap kepada para pemain lokal Taiwan bisa memanfaatkan momen pameran untuk dapat melebarkan sayap ke pangsa pasar Asia maupun dunia.
Chi Chung Chen juga menambahkan, Council of Agriculture Taiwan (Kementerian Pertanian) juga fokus pada program PBB yaitu United Nations’ Sustainable Development Goals (SDGs). Program tersebut diimplementasikan oleh pemerintah Taiwan dengan cara mengadvokasi promosi “Deklarasi Aksi 3I (Inovasi, Intelijen, dan Implementasi)” ke para cendekiawan dan pakar agribisnis dari Taiwan, Belanda, dan Denmark untuk membahas peran pertanian sirkuler yang dapat dintegrasikan melalui berbagai kebijakan. Fokusnya adalah untuk mencapai tujuan seperti UN-SDGs nomor 2 yaitu Zero Hunger, nomor 12 yaitu Responsible Consumption and Production, dan nomor 17 yaitu Revitalize Global Partnerships. Nilai-nilai pertanian secara komprehensif dibahas dari berbagai sudut termasuk ekonomi dan tingkat keberlanjutannya.
Baca Juga : Livestock Taiwan Expo Forum 2019 Sajikan Teknologi Terkini
Ada sebuah hal yang menarik perhatian para pengunjung di penyelenggaraan pameran kali ini. Seperti diketahui bersama, perhatian dunia saat ini sedang tertuju pada sebuah wabah yang sangat mematikan dan mampu membunuh sebagian besar populasi babi di China. Wabah tersebut yaitu African Swine Fever (ASF).
Kasus African Swine Fever yang pertama kali mengguncang China pada bulan Agustus 2018 silam, membuat Taiwan yang wilayahnya dekat dengan China terlihat sangat ekstra hati-hati. Hal itu tampak dari panitia penyelenggara pameran yang menaruh perhatian besar terhadap masalah ini. Demi mencegah masuknya ASF ke Taiwan, mereka mengambil sebuah langkah pencegahan seperti membuat pintu khusus biosekuriti selama pameran berlangsung.
Mekanismenya yaitu setiap pengunjung, peserta pameran, maupun panitia yang ingin masuk ke area pameran harus melewati biosecurity tunnel terlebih dahulu. Dalam Biosecurity tunnel yang panjangnya sekitar 2 meter ini sudah tersedia sensor otomatis yang akan menyemprotkan desinfektan ke setiap orang yang melewati lorong tersebut. Harapannya, dengan biosecurity tunnel ini setidaknya mengurangi penyebaran mikroorganisme patogen yang besar kemungkinan dibawa oleh pengunjung dari luar area pameran.
Hal ini patut diapresiasi. Pihak penyelenggara tentunya tidak ingin ambil risiko besar. Biosekuriti yang ketat merupakan sebuah langkah kecil namun berdampak sangat besar terhadap penyebaran mikroorganisme patogen. Mengingat banyak sekali para pelaku industri yang berkumpul di dalam satu area tersebut maupun peralatan budi daya yang dibawa dari berbagai negara, membuat panitia mengambil langkah pencegahan yang patut dicontoh oleh penyelenggara pameran di seluruh dunia.
Meskipun sedang dirundung dengan isu ASF, namun hal tersebut tidak menyurutkan animo para pelaku usaha untuk ikut berpartisipasi dalam pameran tersebut. Buktinya, banyak dari perusahaan global yang ikut meramaikan pameran ini, sebut saja Buhler, Yeong Ming, Cargill, DSM, Jamesway, Kutlusan, Agci-GSI, Interheat, Eggtec, SKA Poultry Equipment, Big Ducthman, dan masih banyak lagi.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap dari Majalah Poultry Indonesia edisi Desember 2019 dengan judul “Livestock Taiwan Expo & Forum 2019, Sajikan Teknologi Terkini”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153