POULTRYINDONESIA,Jakarta. Kampanye Gizi dengan tema ‘Ayam dan Telur untuk Indonesia Sehat dan Cerdas’ dilaksanakan pada Kamis, (31/10), di Gedung Serbaguna, Lt.2, Gedung Dinas Teknis Jakarta, Jakarta Utara. Acara ini dilaksanakan bertepatan dengan Hari Ayam dan Telur Nasional (HATN) serta World Egg Day 2019.
Ricky Bangsaratoe, SH selaku ketua HATN mengawali rangkaian sambutan menyatakan bahwa HATN yang sudah dilaksanakan 9 kali ini memang dilaksanakan setiap tahunnya di setiap kota dan provinsi seluruh Indonesia. Sebelumnya, seminar HATN pada 28 Oktober yang lalu dilaksanakan di Pekanbaru. “Rencana tahun depan di Kalimantan Timur, Samarinda, dan DKI Jakarta pastinya,” ungkapnya.
Pada hari ayam dan telur nasional yang diperingati setiap tanggal 15 Oktober drh. Rahmat Nuryanto selaku dewan penasihat ASOHI mengatakan bahwa diharapkan dapat meningkatkan gizi masyarakat Indonesia terutama dengan konsumsi protein asal hewan Indonesia. “Harapan kami tentunya acara ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan tentunya bagi kemajuan konsumsi gizi, terutama protein hewani pada masyarakat Indonesia.”
Sambutan terakhir diberikan oleh Ismiarti Aida perwakilan dari Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta mengungkapkan bahwa Indonesia masih belum menerapkan gizi yang seimbang dalam kehidupan sehari-hari. “Menerapkan gizi yang seimbang salah satunya dapat dilakukan dengan mengonsumsi protein hewani,” jelasnya. Ismiarti mengatakan bahwa kurangnya konsumsi protein hewani Indonesia akibat miskonsepsi dari bahan pangan asal hewan tersebut. Ia berharap dengan kampanye ini dapat meningkatkan gizi masyarakat.
Para peserta dan pembicara dalam Kampanye Gizi berfoto bersama
Peresmian pembukaan acara dilakukan dengan makan telur bersama lalu dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh empat narasumber mengenai konsumsi ayam dan telur. Pemaparan pertama diberikan oleh drh. Gunawan selaku perwakilan dari FAO menyampaikan bahwa perunggasan di Indonesia sudah swasembada, namun konsumsinya masih lebih rendah daripada negara-negara di Asia. Ia menghimbau kepada para orang tua untuk meningkatkan asupan protein kepada anak-anaknya terutama asal hewan dan berpengaruh pada intelektualitas anak, karena anak merupakan aset bagi orang tua di masa depan.
Menyikapi masalah salah kaprah mengenai konsumsi protein asal hewan masyarakat Indonesia, drh Rahmat Nuryanto bahwa sejatinya, konsumsi protein digunakan sebagai bahan baku penyusun antibodi. “Kalau dilarang makan protein, bagaimana mau mendapatkan antibodi? Nanti malah sakit,” tukasnya. Konsumsi protein hewani pada negara-negara maju seperti Jepang dan Amerika juga memiliki pengaruh pada tinginya rentang umur masyarakat kedua negara tersebut.
Naryanto, B.Com selaku ketua bidang unggas lokal Pinsar menyatakan bahwa Indonesia memiliki berbagai macam jenis ayam lokal, salah satunya ayam cemani yang menjadi harga ayam termahal di dunia. Konsumsi daging ayam lokal di Indonesia sudah semakin meningkat dan terjangkau, dengan konsumsi terbanyak pada daerah Lampung “Saat ini sudah banyak dijual di pasar, supermarket, dan rumah makan,” ungkapnya.
Pemaparan terakhir diberikan oleh Pusat Pelayanan Kesehatan Hewan dan Peternakan yang diwakili oleh drh. Rani dalam presentasinya turut mensosialisasikan bagaimana penanganan daging mulai dari pembelian sampai dengan penyajiannya untuk mencegah adanya kontaminasi mikroorganisme yang berlebihan serta menjaga kualitas daging tersebut agar kandungan nutrisinya tidak cepat hilang.