Oleh : Ir. Indrawati Yudha Asmara, S.Pt., M.Si., Ph.D., IPM.*
Ayam lokal Indonesia memiliki nilai yang beragam, diantaranya nilai ekonomi dan sosial budaya. Ayam lokal menyediakan protein hewani dan memberikan kontribusi ekonomi bagi masyarakat pedesaan. Selain itu, ayam lokal merupakan bagian dari sejarah Indonesia yang peranannya penting dalam aspek sosial budaya dan kepercayaan masyarakat tertentu. Beberapa ayam lokal Indonesia dikembangkan  untuk tujuan hiburan atau kesayangan karena karakteristiknya yang unik seperti suara kokoknya yang khas.
Baca juga : Peningkatan Produktivitas Ayam Kampung Melalui Pemberian Pakan Sinbiotik Mixed Culture
Ayam pelung merupakan salah satu ayam lokal yang memiliki suara kokok yang unik. Dibanding ayam penyanyi lain seperti ayam kokok balenggek dan ayam ketawa (Gaga), ayam pelung memiliki durasi kokok yang lebih panjang. Ayam pelung bisa berkokok sampai dengan 11 detik, sedangkan ayam gaga dapat berkokok sampai 7,67 detik, sementara ayam kokok balenggek hanya dapat berkokok sampai dengan 4,43 detik.
Selain suara kokoknya yang unik, pelung memiliki ukuran tubuh yang lebih besar dibandingkan dengan ayam lokal lainnya. Ayam pelung jantan dewasa beratnya bisa mencapai 5.400 gr, sedangkan betina dewasa bisa mencapai 4.500 gr. Ayam pelung tidak memiliki corak atau warna bulu yang khas, akan tetapi bulu berwarna merah, hitam dan hijau banyak terdapat pada ayam jantan, sedangkan bulu berwarna hitam banyak dijumpai pada ayam betina.
Ayam pelung pada awalnya dipelihara dan dikembangkan oleh masyarakat di Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Keputusan Menteri Pertanian Nomor 2918/2011 secara resmi menyatakan bahwa ayam pelung merupakan salah satu ayam asli Indonesia yang perlu dilindungi dan dilestarikan. Dilaporkan bahwa data populasi ayam pelung belum diketahui dengan pasti, namun diperkirakan keberadaaannya cukup terancam (Asmara, 2014).
Sejalan dengan hal tersebut, kehadiran kontes Pelung dianggap dapat mengurangi ancaman kepunahan karena kontes mempromosikan keberadaan ayam Pelung. Kontes juga dianggap sebagai pasar di mana penggemar dan peternak akan menemukan ayam yang unggul. Dalam kontes, ayam jantan bersaing untuk memenangkan kategori kokok dan performa.
Durasi, intensitas (volume), dan pola suara kokok yang khas merupakan indikator ayam pelung yang baik. Bobot badan dan fenotipe ayam merupakan faktor penting untuk memenangkan kategori performa. Pemelihara pelung percaya bahwa umur, bobot badan dan status kesehatan mempengaruhi durasi dan intensitas (volume) berkokok. Ayam yang lebih tua dan sehat akan memiliki durasi kokok yang lebih lama, sedangkan ayam yang lebih berat akan memiliki volume suara yang lebih rendah.
Kajian tentang ayam penyanyi seperti ayam pelung masih terbatas di Indonesia. Penelitian mengenai karakteristik ayam pelung seperti durasi, volume, dan frekuensi berkokok telah dilakukan dari tahun 2019-2020. Untuk daerah penelitiannya sendiri diantaranya Kabupaten Cianjur, Sukabumi dan Bandung yang diperkirakan merupakan wilayah penyebaran ayam pelung dengan populasi yang cukup tinggi di Jawa Barat.
Objek penelitiannya adalah ayam pelung jantan berumur lebih dari enam bulan (dewasa). Pengumpulan data dilakukan dengan metode purposive sampling karena keterbatasan informasi populasi. Pelaksanaan pengumpulan data dibantu key informant dari pengurus Himpunan Penggemar Pecinta Ayam Pelung Indonesia (HIPPAPI) di lokasi penelitian.
Peubah yang diamati adalah karakteristik berkokok yang meliputi durasi, frekuensi dan intensitas (volume) berkokok. Durasi adalah lamanya waktu berkokok yang diukur dengan satuan detik. Dalam penelitian, durasi awal, tengah dan akhir (suku kata) diukur. Frekuensi adalah jumlah kokok dalam waktu tertentu yang diukur dengan waktu. Intensitas adalah besarnya kokok yang diukur dengan desibel.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa umur, bobot badan dan beberapa bagian tubuh ayam pelung berkorelasi dengan karakteristik berkokok seperti durasi dan volume. Durasi kokok ayam pelung di semua wilayah cenderung meningkat seiring dengan bertambahnya umur ayam. Ayam Pelung yang lebih tua akan memiliki durasi berkokok yang lebih lama karena paru-paru dan kantung udara cenderung sudah tumbuh secara maksimal. Menariknya, ayam yang lebih berat cenderung memiliki durasi yang lebih singkat,  sehingga bobot badan dapat menjadi faktor penghambat durasi berkokok.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Februari 2022 dengan judul Karakteristik Kokok Ayam Pelung Berdasarkan Perbedaan Umur dan Bobot Badan. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silakan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153