Karkas ayam yang digantung (sumber gambar: www.thegrocer.co.uk)
Oleh : Amira Nadia Prastuti*
Pada tanggal 31 Oktober 2020, Bureau of Animal and Plant Health Inspection and Quarantine (BAPHIQ) di bawah CoA (Council of Agriculture) memberlakukan larangan impor unggas hidup, telur, dan pupuk yang mengandung kotoran unggas dari Belanda setelah menghapus negara tersebut dari daftar negara yang bebas dari Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI). Hal ini disebabkan karena Netherlands Food, Consumer Product Safety Authority (NVWA) mendeteksi adanya strain H5N2 yang sangat menular di sebelah timur Kota Altforst, Belanda dan dilakukan pemusnahan 35.700 ekor ayam pedaging (broiler).
Selain Belanda, beberapa negara dihapuskan dari daftar negara yang bebas infeksi Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI). Pada 4 November 2020, CoA (Council of Agriculture) Taiwan menghapus Inggris (UK) dari daftar negara yang bebas dari Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI) dan melarang impor unggas hidup dari negara tersebut setelah konfirmasi wabah di peternakan unggas Inggris.
Satu hari kemudian yakni pada tanggal 5 November 2020, CoA (Council of Agriculture) Taiwan menghapus Jepang dari daftar negara yang bebas dari Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI) setelah adanya laporan dari Ministry of Agriculture, Forestry and Fisheries (MAFF) Jepang, adanya HPAI H5 pada 330.000 ekor layer di Prefektur Kagawa. Kemudian diikuti oleh Corsica (Haute-Corsica) pada 19 November 2020, lalu Prancis dan Belgia pada 24 November 2020.
Baca Juga: Sejarah Perkembangan Avian Influenza
Menurut data dari Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE) menyebutkan selain negara yang disebutkan di atas, negara-negara seperti Rusia, Israel, Kazakhstan, dan Vietnam juga melaporkan infeksi flu burung awal bulan Oktober 2020. Sebelumnya pada 21 Oktober 2020, otoritas Korea Selatan mengkonfirmasi infeksi flu burung H5N8 di antara burung liar di Cheonan, selatan Seoul.
Pemberlakuan larangan impor bertujuan untuk melindungi Taiwan dari virus flu burung. Akibat dari larangan tersebut, dikhawatirkan Belanda akan mengalami kerugian yang besar. Menurut Hsu Jung-pin, Wakil Direktur Jenderal BAPHIQ, sejak 2018, Taiwan telah mengimpor 63.306 ekor ayam dan 183 ekor unggas hidup lainnya dari Belanda, sementara telah membeli 11.518 metrik ton pupuk yang mengandung kotoran unggas dari negara Eropa tersebut. Selain Belanda, tentunya negara-negara lain yang dihapus dari daftar bebas HPAI akan mengalami kerugian yang besar.
Virus flu burung paling umum terjadi selama musim gugur dan musim dingin. Taiwan harus bersiap menghadapi kemungkinan pandemi flu burung karena ribuan burung biasanya terbang di atas negara itu pada musim gugur saat mereka bermigrasi ke selatan selama musim dingin. Selain itu, dilakukannya perluasan wilayah pantauan burung migrasi liar, peternakan unggas dan peternakan unggas air untuk memudahkan deteksi virus secara tepat waktu. *Mahasiswa Master of Science in Veterinary Medicine di National Pingtung University of Science and Technology, Taiwan
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Februari 2021 dengan judul “Perjalanan Flu Burung di Negeri Formosa”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153