POULTRYINDONESIA, Surabaya – Sebagian besar peternak ayam ras pedaging di Jawa Timur (Jatim) berafiliasi dengan kemitraan baik kemitraan yang terintegrasi maupun non integrator. Hal ini disampaikan oleh Rahmad Cahyadi, Peneliti ISEI (Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia), cabang Surabaya, dalam webinar yang bertajuk “Pola Usaha dan Rantai Pasok Ayam Ras Pedaging di Jawa Timur” yang diadakan oleh Bank Indonesia KPw Provinsi Jawa Timur dan ESEI Cabang Surabaya secara daring Via aplikasi Zoom, Kamis (11/8).
Menurut Rahmad, sesuai dengan penelitian yang dilakukan diketahui bahwa 68 % peternak ayam ras pedaging telah berafiliasi dengan kemitraan, sementara sebanyak 25% peternak ayam ras pedaging adalah internal farm dan hanya 7% yang merupakan peternak mandiri.
Rahmad menjelaskan secara umum pola usaha peternakan ayam pedaging di Jatim ada lima. Pertama internal farm, di mana kegiatan peternakan dilakukan perusahaan dengan kategori integrator maupun tidak. Kedua, kemitraan integrasi penuh atau ada pola kemitraan dengan perusahaan inti dan menjalankan usaha peternakan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Ketiga kemitraan semi integrasi, di mana ada pola kemitraan yang dilakukan dengan perusahaan inti dan menjalankan usaha peternakan sebagian dari integrasi. Selanjutnya kemitraan non integrasi, yakni ada pola kemitraan yang dilakukan dengan perusahaan inti, namun tidak menjalankan usaha peternakan selain menjadi inti. Dan kelima mandiri, yakni kegiatan usaha budidaya yang dilakukan secara mandiri, tanpa menjalin kemitraan dengan perusahaan inti.
Alumnus Universitas Indonesia ini juga mengungkapkan sejumlah temuan berdasarkan fakta yang diperoleh di lapangan perihal peternakan ayam pedaging di Jatim, seperti terjadinya pergeseran daerah pemasok ayam, dari daerah Gresik, Lamongan ke daerah Magetan, Ponorogo, Jombang. Sedangkan untuk Malang masih menjadi pemasok ayam yang penting di Jawa Timur.
Lebih lanjut, menurut Rahmad temuan lain yang penting adalah adanya perdagangan ayam lintas wilayah (Jawa Tengah – Jawa Timur). Di mana adanya pergerakan ayam pedaging secara dinamis untuk memenuhi kebutuhan pasar di Jawa Timur. “Ini bukan berarti Jawa Timur kekurangan stock. Namun, lebih pada jalur perdagangan, di mana Jawa Timur yang nantinya akan memenuhi kebutuhan wilayah luar pulau yang kekurangan.” tegasnya.
Baca Juga: Kiat Sukses Ekspor Produk Unggas ke Singapura
Sementara itu, menurut Ir. Indyah Aryani,MM,Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur, produksi ayam ras pedaging di Jawa Timur terbilang cukup bahkan surplus. Adanya pergerakan dari Jawa Tengah lebih disebabkan oleh adanya pasar di Indonesia Timur yang cenderung masih kurang, sehingga adanya pergerakan itu lebih disebabkan untuk memenuhi kebutuhan Indonesia bagian timur.
Masih dalam forum yang sama, Achmad Dawami, Ketua Umum Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) mengungkapkan bahwa Jawa Tengah memang sedang terjadi pertumbuhan dalam bidang budi daya ayam ras pedaging. Banyak investor yang sengaja membangun kandang serta RPA baru di Jateng.
” Menurut pengetahuan saya, para investor terjun ke Jateng karena tanah di Jateng lebih murah, lingkungan masih bagus, udara masih segar, dan orangnya tidak rewel. Selain itu selama ini seringkali performa ayam bagus,” katanya
Ia juga mengungkapkan bahwa ada kemungkinan bahwa, nantinya Jateng bisa menjadi sentra produksi ayam ras pedaging, seperti halnya sentra ayam petelur yang ada di Blitar. Sedangkan untuk mengurangi susut maka dibangun RPA. Sebab, kalau sudah dipotong, maka susutnya akan semakin sedikit. Yafi