Broiler rawan terkena penyakit pernapasan, terutama jika cara pemeliharaanya masih perlu banyak perbaikan
Saluran pernapasan merupakan salah satu sistem organ yang memiliki krusial untuk menunjang fungsi fisiologis dari hewan. Fungsi dari saluran pernapasan bagi hewan di antaranya untuk pertukaran oksigen dan karbon dioksida, termoregulasi, dan mengatur keseimbangan asam-basa tubuh. Secara anatomi, unggas memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan mamalia.

Selain penyakit pernapasan akibat bakteri, penyakit pernapasan akibat virus juga perlu diwaspadai karena penularannya yang terbilang cepat dan dapat memberikan dampak ekonomi yang cukup besar bagi peternak.

Prof. Dr. drh. I Wayan Wibawan T, MS selaku Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan IPB University mengatakan bahwa saluran pernapasan unggas cenderung unik dan efisien. Masih menurut Wayan, saluran pernapasan diibaratkan sebuah gudang penyimpanan oksigen, nantinya, oksigen tersebut harus dibawa menuju sel untuk menyuplai kebutuhannya.
Saluran pernapasan juga memiliki barier melalui filtrasi terhadap material seperti debu yang dapat membawa atau menyebabkan penyakit. Barrier pertama yaitu pada rongga hidung tersebut yaitu permukaan epitel bersilia yang dilapisi mukus. Bagian dari saluran respirasi ini menjadi lini pertahanan utama untuk partikel sekitar 4 mikrometer, tetapi tidak dapat menangkap partikel kurang dari 0,2 mikrometer (Hayter dan Besch 1974). Pada trakea, bronkus primer, dan cabang dari bronkus sekunder, mayoritas dilapisi oleh sel epitel kolumnar bersilia (Fedde 1998).
Pertahanan selanjutnya yang ada dalam saluran respirasi yaitu dari makrofag. Wandering macrophage terbilang jarang ditemukan pada unggas yang sehat, namun macrophage tersebut memiliki reaksi fagositosis yang kuat pada berbagai substansi dan mikroorganisme dan dapat langsung menuju ke sistem saluran pernapasan ketika ada substansi kemotaksis yang sesuai (Toth et al. 1988).
Saluran pernapasan merupakan organ yang paling krusial, akan tetapi tidak terlepas dari ancaman agen patogen penyebab penyakit. Sebagai salah satu saluran yang terbuka, saluran pernapasan secara kontinyu terekspos bibit penyakit dari lingkungan, sehingga rawan terhadap serangan virus, bakteri, dan fungi. “Ada mikroorganisme yang memiliki predileksi pada kantung hawa, misalnya Mycoplasma atau Escherichia coli,” kata Wayan.
Ragam penyakit saluran pernapasan
Mikroorganisme patogen lainnya yang juga dapat menyerang saluran pernapasan ayam di antaranya Haemophilus paragallinarum (coryza), Pasteurella multocida (fowl cholera), Avian paramyxovirus (Newcastle Disease), Avian gammacoronavirus (Infectious Bronchitis), Alpaherpes virus (Infectious Laryngotracheitis), avian pneumovirus, dan orthomyxovirus (Avian Influenza) (Tabbu 2002; Shane 1998).
Berdasarkan Global Protection Service Disease Surveillance yang dimiliki oleh PT Ceva Animal Health Indonesia, sejak tahun 2018 – Oktober 2020, penyakit saluran pernapasan menempati posisi yang tertinggi. Pada posisi 1-3 yaitu ND 22,79%, CCRD 10,75%, dan IB 8,29%. Disusul pada posisi 7, 8, 12, dan 14 yaitu Coryza 5,43%, CRD 4,86%, AI H5 2,66%, serta penyakit lain yang di dalamnya ada Aspergillosis, AI H9, dan ILT. Data tersebut diperoleh dari sentra-sentra peternakan di Sumatra dan Jawa.
Sementara itu, laporan kasus penyakit pernapasan pada dua bulan pertama yang dimiliki Ceva juga cenderung tinggi, yaitu sekitar 56% dari 137 kasus penyakit yang dilaporkan. Data tersebut menunjukan penyakit pernapasan pada ayam ras tertinggi masih dipegang oleh ND.
Saat memberikan keterangan pada Poultry Indonesia secara tertulis, Rabu (24/3), drh. Ismail Kurnia Rambe selaku Veterinary Service Coordinator PT Ceva Animal Health Indonesia menyatakan bahwa faktor yang memicu tingginya kasus pernapasan adalah cuaca ekstrem di awal tahun. Curah hujan yang sangat tinggi di Januari diikuti gelombang panas disertai hujan deras di Februari dan Maret membuat peternak kelimpungan menjaga kondisi ideal sirkulasi udara dalam kandang.
Berkenaan dengan mortalitas dan morbiditas, Ismail menyatakan bahwa mortalitas penyakit pernapasan bisa sangat tinggi, yaitu 30-70% bila melibatkan infeksi virus seperti ND dan AI. Angka kematian juga akan semakin tinggi 50-100% jika ternak juga terserang oleh infeksi sekunder seperti E. coli dan penyakit pernapasan lain. Sedangkan angka morbiditas juga bisa sangat tinggi 30% terutama karena sifat dari penyakit pernapasan yang menular sangat cepat akibat shedding virus oral dan kloakal. Sifat virus yang dapat menular via udara (airborne) akan mempercepat morbiditas penyakit pernapasan (>30%).
Selanjutnya, ragam penyakit saluran pernapasan turut disampaikan drh. Christina Lilis selaku Technical Support Manager PT Medion Farma Jaya. Lilis menyatakan bahwa kejadian penyakit yang menyerang sistem pernapasan di Indonesia masih cukup tinggi. Berdasarkan laporan penanganan kasus yang dikirimkan oleh tim teknis Medion yang tersebar di Indonesia, dapat dilihat bahwa penyakit pernapasan pada ayam pedaging dominan menduduki peringkat 5 besar terutama untuk penyakit bakterial seperti CRD, CRD kompleks dan coryza. Serta penyakit pernapasan pada ayam pedaging yang disebabkan oleh virus dengan kejadian cukup tinggi yaitu ND dan AI. Sementara itu untuk penyakit pernapasan juga masih mendominasi untuk peringkat penyakit pada ayam petelur.
Laporan mengenai penyakit saluran pernapasan lainnya juga disampaikan oleh drh. Hario Prananditya Munif Adinegoro selaku Technical Service PT Hipra Indonesia. Hario menyatakan bahwa gangguan pernapasan yang menyerang ayam ras selama 2020 dan awal 2021, perbandingannya dengan penyakit bukan pernapasan masih sama. Serupa dengan Ismail, Hario mengatakan bahwa cuaca ekstrem mendukung tingginya kasus penyakit saluran pernapasan.
Baca Juga: Ceva Gelar Seminar Seputar Penyakit ND
Masih menurut Hario, jenis penyakit pernapasan prevalensi avian metapneumovirus (AMPV) yang cukup tinggi, terutama pada layer dan sebagian ayam breeder. Selain itu, penyakit-penyakit bakterial seperti Chronic Respiratory Disease (CRD), Coryza, dan Chronic Respiratory Disease Complex (CCRD) juga terdeteksi
Berbeda dengan Ismail, Hario mengungkapkan bahwa penyakit bakterial seperti Coryza dan CRD kompleks, mortalitas mendekati 0% dengan morbiditas 10-20%. Selain itu, penyakit viral seperti ND, AMPV, dan IB, mortalitas sekitar 0,17-0,9 % dengan morbiditas 30-40%. “Faktor yang memperparah penyakit terutama adalah cuaca yang tidak menentu dan cukup ekstrim. Data penyakit pernapasan yang kami terima sebagian besar berasal dari kandang terbuka (open house system), sehingga sangat terpengaruh perubahan cuaca,” ujarnya.
Perubahan cuaca yang ekstrem ini dapat menyebabkan penurunan sistem imun pada ayam, sehingga berpengaruh pada kerentanan ayam terhadap penyakit. Apalagi disertai dengan pengaturan lingkungan dalam kandang yang kurang tepat
Hario mengatakan bahwa penyakit saluran pernapasan mudah menyebar ketika penerapan biosekuriti yang kurang optimal, seperti desinfeksi kandang rutin dan pembatasan lalu lintas orang menjadi faktor penting dalam penyebaran penyakit pernapasan. Selain itu, jika ayam yang menunjukkan gejala pernapasan tidak segera diisolasi, dapat menjadi penyebab penyakit mudah menular dari satu ayam ke ayam lainnya
Sementara itu, menurut drh. Agus Wiyono selaku dokter hewan praktisi peternakan dan kesehatan hewan yang tinggal di Mojokerto mengatakan bahwa peluang terjadinya penyakit saluran pernapasan tidak begitu tinggi, namun sering terjadi. Penyebaran dari penyakit saluran pernapasan antarindividu ayam, kandang, maupun peternakan dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung. Agus mengatakan bahwa penyakit saluran pernapasan ini dapat menyebar melalui berbagai media, di antaranya dapat melalui udara atau debu yang tercemar mikroorganisme patogen, kotoran ayam yang sakit, atau melalui pakan dan air minum yang tercemar, orang, maupun peralatan yang tidak steril. Tambahan lainnya yaitu adanya vektor pembawa penyakit seperti serangga maupun tikus.
Sedangkan menurut drh. Eko Prasetio selaku Private Commercial Broiler Consultant Tri Group mengatakan mengatakan bahwa terjadinya penyakit dan penyebaran penyakit sebagian besar disebabkan oleh manajemen pemeliharaan yang kurang apik, serta deteksi dini penyakit. Esti, Yafi, Zain, Ashariah
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi April 2021 dengan judul “Kenali Bahaya Penyakit Saluran Pernapasan”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153