POULTRYINDONESIA, Jakarta – Wajah baru Indo Livestock 2022 tercermin dalam penyelenggaran seminar berseri dengan tajuk International Integrated Forum, Sustainably Integrated Animal Industry Forum. Seminar ini mempertemukan berbagai stakeholders bidang peternakan, mulai dari akademisi, praktisi, swasta hingga pemerintah.
Dalam video sambutannya, Kasdi Subagyono, Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian (Kementan) mengingatkan betapa pentingnya sektor pertanian bagi negara di era pandemi Covid 19 ini. Dimana saat ekonomi menunjukkan tren penurunan, sektor pertanian justru secara makro menunjukkan pertumbuhan yang menggemberikan, baik dari peningkatan PDB, ekspor dan penyerapan tenaga kerja. Hal ini menunjukan bahwa pertanian merupakan sebuah bantalan ekonomi bagi Indonesia. Untuk itu Kementan berkomitmen untuk mengakselerasi pembangunan pertanian yang modern, sesuai dengan tuntutan pasar global. Tak terkecuali subsektor peternakan.
Baca Juga: Pendekatan Satu Kesehatan untuk Kesejahteraan Manusia, Hewan, dan Lingkungan
“Keberhasilan pembangunan peternakan diperlukan dukungan dari berbagai pihak. Untuk itu saya berharap seminar ini bukan hanya berhenti di ide semata, namun juga bisa membuahkan sebuah rekomendasi gagasan pengembangan pertanian terkhusus peternakan yang bisa diberikan kepada kami,” jelasnya.
Sesi pertama seminar berseri ini mengangkat tema terkait “Market Update Of Indonesia’s Potential Livestock & Fisheries” yang dilaksanakan di Jakarta Convention Center, Jakarta, pada hari Kamis (7/7).
Deputi Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan, Badan Pangan Nasional, Andriko Noto Susanto dalam materinya menyampaikan bahwa secara nasional, ketersedian bahan pangan yang menjadi fokus dari badan pangan nasional yaitu beras, jagung, kedelai, gula konsumsi, bawang, telur dan daging unggas, daging ruminansia dan cabai dalam kondisi positif atau surplus. Namun dari kondisi tersebut ada bahan pangan yang dapat dipenuhi oleh produksi dalam negeri, tapi juga ada komoditi yang harus diperkuat oleh importasi dari luar negeri. Beberapa komoditas yang masih memerlukan penguatan dari impor antara lain kedelai, bawang putih, daging sapi dan gula konsumsi. Selain itu dirinya juga menjelaskan bahwa masih ada tantangan ketidakmerataan bahan pangan di Indonesia, serta fluktuasi harga yang tinggi pada beberapa komoditas bahan pangan.
“Kami telah membuat beberapa renncana aksi dalam rangka stabilisasi pasokan dan harga pangan seperti memobilisasi komoditas dari daerah surplus ke daerah defisit, operasi pasar dengan melibatkan berbagai stakeholders, monitoring ketersediaan pasokan dan harga pangan serta evaluasi dan pelaporan. Kami juga telah membuat skema penguatan stok pangan nasional dengan melibatkan berbagai stakeholders,” jelasnya.
Pada kesempatan ini turut hadir Ujang Komarudin Asdani selaku Direktur Pakan dan Obat Ikan, DJPB, Kementerian Perikanan dan Kelautan. Dalam materinya, Ujang banyak menjelaskan terkait gambaran ketersediaan perikanan dan dinamika usahanya.