Sekitar 90 persen serapan pakan itu berada pada bidang perunggasan
POULTRYINDONESIA, Batu – Sektor usaha bidang perunggasan ternyata menjadi sektor yang paling banyak mengonsumsi pakan yang dihasilan oleh pabrikan.
Menurut Desianto B Utomo, Ketua Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) demisioner, mengatakan bahwa ada sekitar 90 persen serapan pakan itu berada pada bidang perunggasan. Hal ini sejalan dengan peran perunggasan sebagai penyumbang terbesar protein hewani untuk masyarakat.
“Sebesar 65 persen dari protein hewani yang dikonsumsi oleh masyarakat berasal dari perunggasan, khususnya daging ayam maupun telur,” jelasnya dalam pembukaan Kongres GPMT ke-XIV yang Berlangsung di Hotel Singhasari, Kota Batu, Jawa Timur, Kamis (12/3).
Kongres yang direncanakan berlangsung selama 3 hari sejak tanggal 12-14 Maret 2020 ini mengangkat tema “Memantapkan Peran GPMT sebagai Mitra Strategis Pemerintah, Peternak, dan Pembudidaya dalam Era Industri 4.0.”
Saat membuka kongres, Ir. Fini Murfiani, M.Si, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan yang mewakili Dirjen PKH yang berhalangan hadir, dalam sambutannya sangat mengapresiasi GPMT yang mengambil tema tentang Industri 4.0. Menurutnya industri pakan sudah waktunya untuk melakukan percepatan usaha, dengan didukung oleh teknologi yang semakin canggih akhir-akhir ini.
Baca Juga: Kilas Balik Teknologi Digitalisasi Perunggasan
Selain itu, ia mengungkapkan bahwa tidak dapat dipungkiri, adanya wabah corona yang sedang melanda sekarang ini akan berdampak pula pada tumbuh kembangnya industri pakan ternak, ada kecenderungan penurunan permintaan produk peternakan baik daging maupun telur untuk sejumlah hotel maupun katering, yang disebabkan oleh berkurangnya wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia.
“Oleh karena itu, saya berharap ada terobosan baru untuk membuka pasar domestik lebih luas lagi, mengingat rentang waktu wabah ini yang tidak bisa diprediksi kapan selesainya,” katanya.
Fini juga mengapresiasi pabrik pakan ternak dalam penggunaan jagung lokal untuk produksi pakannya. Menurut data yang ia terima, ada sekitar 6,63 juta ton jagung lokal yang terserap atau setara dengan uang sebanyak 26 triliun rupiah. Jumlah tersebut meningkat tajam bila dibandingkan sebelum adanya larangan impor jagung.
Sementara itu, Ketua GPMT Komda Jawa Timur, Edy Suryanto, yang juga merupakan Ketua panitia kongres, menjelaskan kongres kali ini dihadiri 85 anggota dari total anggota yang jumlahnya sebanyak 91, yang mana setiap anggota diwakili oleh dua peserta.
“Kongres kali ini untuk memilih kepengurusan masa bakti 2020-2024. Kami berterima kasih kepada semua pihak yang mendukung acara ini,” ujarnya. Yafi