POULTRYINDONESIA, Jakarta – Tak bisa dipungkiri bahwa pandemi yang terjadi berpengaruh secara langsung terhadap sektor ekonomi. Dampak nyata pun jug dirasakan oleh industri perunggasan. Industri yang sejatinya mempunyai peluang besar ini masih mempunyai berbagai tantangan, seperti tingkat konsumsi masyarakat yang masih rendah, terlebih ketika pandemi terjadi. Melihat hal tersebut Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta menggelar acara webinar bertema “Bersama Daging Ayam dan Telur Dapat Meningkatkan Perekonomian Rakyat pada Masa Pandemi” melalui Zoom, Kamis (4/11).
Baca juga : Perangi Stunting dengan Konsumsi Gizi Seimbang
Parlin Siahaan, Area Head Production Broiler West Java PT CPI menjelaskan bahwa kemitraan ayam pedaging merupakan salah satu cara untuk meningkatkan perekonomian rakyat pada masa pandemi. Hal ini dikarenakan masih rendahnya tingkat konsumsi ayam di Indonesia, sehingga kedepan potensi bisnis ayam potong di Indonesia masih baik dan terus berkembang.
“Berdasarkan data dari BPS, konsumsi daging per kapita masyarakat kita masih rendah. Hanya berkisar 12,79 kg/kap/tahun, dan sangat jauh tertinggal dengan negara tetangga, seperti Malaysia yang telah mencapai 38 kg/kap/tahun. Dengan program kampanye dan edukasi mengonsumsi ayam seperti Gemaya yang semakin gencar, maka potensi ini akan semakin terbuka lebar,” ungkapnya.
Dalam acara tersebut Parlin banyak menjelaskan terkait kemitraan, closed house, poultry equipment, vaksin dan obat serta livebird.
Hal senada disampaikan oleh Joko Susilo, selaku Sekretaris Jenderal Perkumpulan Insinyur dan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI). Dalam materi yang dibawakan, dirinya menyebut bahwa konsumsi daging ayam di Indonesia masih sangat rendah. Terlebih dengan adanya pandemi yang membawa kondisi sulit bagi masyarakat, membuat angka konsumsi kian turun menjadi 7,8 kg/kap/tahun pada tahun 2020. Kondisi tak jauh beda terjadi pada telur yang angka konsumsinya juga masih sangat rendah, dengan berada di kisaran 17,77 Kg/Kap/Tahun.
“Apabila hal ini terus dibiarkan maka serapan produksi peternak akan terganggu, iklim usaha akan memburuk yang berkorelasi langsung terhadap kecukupan pangan kita. Untuk itu, salah satu strategi untuk peningkatan konsumsi telur dimasyarakat dengan cara pemanfaatan daging ayam dan telur untuk keperluan medis khusus dalam pencegahan gizi buruk dan stunting, seperti bekerja sama dengan posyandu untuk edukasi kepada ibu rumah tangga,” jelasnya.
Joko meneruskan tentu dalam upaya peningkatan konsumsi ayam dan telur perlu adanya partisipasi dari semua pihak, termasuk didalamnya pemerintah, swasta dan masyarakat.