Oleh: Ferdalia Nur Azizah*
Salah satu usaha di bidang peternakan yang mampu menyediakan kebutuhan protein hewani bagi manusia adalah unggas, terutama kebutuhan akan daging ayam. Pasalnya daging ayam merupakan bahan pangan sumber protein hewani yang sangat mudah didapatkan dan harganya relatif terjangkau disemua kalangan masyarakat.
Keberadaan peternakan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari
manusia. Terlebih seiring perkembangan zaman, kesadaran masyarakat akan kebutuhan protein hewani semakin meningkat
Kendati produk unggas sangat penting bagi masyarakat, namun beberapa waktu terakhir para peternak dihadapkan pada realita yang kurang kondusif. Pasalnya pada tahun 2020 terjadi penurunan permintaan akan daging ayam yang merupakan imbas dari pandemi covid-19. Tingginya supply akan daging ayam yang mencapai 304,3 ribu ton per bulan tidak diimbangi dengan permintaan masyarakat yang hanya mencapai 161,5 ribu ton. Sehingga mengakibatkan masih tingginya surplus akan daging ayam yang mencapai 142,8 ribu ton. Hal tersebut kemudian mendorong Dirjen PKH menerbitkan Surat Edaran (SE) No. 09246T/SE/PK/230./F08/2020 tentang pengurangan DOC FS melalui Cutting Hatching Egg (HE) umur 18 hari, penyesuaian Setting HE dan Afkir Dini Parent Stock (PS).
Namun aksi pengurangan populasi pada ayam potong ini tidak diikuti dengan penurunan harga sarana produksi peternakan (sapronak), sehingga mengakibatkan biaya pokok produksi melambung tinggi. Hal ini dapat dilihat dari fenomena harga ayam DOC mencapai Rp 7000/ekor untuk pulau Jawa. Harga DOC tersebut sangat menyimpang dari Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 7 Tahun 2020 tentang harga acuan pembelian di tingkat petani dan harga acuan penjualan di tingkat konsumen, yaitu harga batas bawah DOC sebesar Rp 5.000 per ekor dan harga batas atas Rp 6.000 per ekor.
Belum lagi harga pakan yang juga mengalami kenaikan. Padahal pakan memegang peranan penting dalam dunia peternakan karena biaya pakan merupakan komponen terbesar yang harus dikeluarkan oleh para peternak dengan persentase mencapai 60–70 persen dari total biaya produksi. Menurut Direktur Jendral Perdagangan Dalam Negeri, harga pakan mengalami kenaikan sebesar 30% sejak pertengahan tahun 2020, hal tersebut diduga karena harga jagung lokal yang juga mengalami kenaikan. Jika hal tersebut terus terjadi dan tidak adanya jalan keluar yang dapat ditempuh, tidak dipungkiri akan lebih banyak peternakan ayam rakyat dan mandiri mengalami kebangkrutan.
Disinilah peran mahasiswa peternakan dibutuhkan untuk ikut serta dalam upaya menjaga kestabilan dunia perunggasan. Menurut penulis, saat ini merupakan waktu yang tepat bagi para mahasiswa peternakan dalam menerapkan teori, mempelajari lebih lanjut, dan mengkaji ulang sehingga mampu menciptakan sebuah terobosan dan inovasi yang tentunya dapat bermanfaat bagi para peternak. Banyak sekali hal yang dapat dilakukan oleh mahasiswa peternakan dalam berkontribusi dibidangnya. Sebagai contoh, mahasiswa peternakan dapat mencari bahan pakan alternatif yang tersedia dalam jumlah banyak dimasing-masing daerah tempat tinggalnya untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak sekaligus dan menekan biaya jagung yang semakin mahal. Selain itu mahasiswa dapat melakukan riset mengenai perbaikan mutu bahan pakan alternatif tersebut melalui berbagai perlakuan yang tentunya dapat membantu menyelesaikan permasalahan yang terjadi.
Lebih lanjut penulis melihat bahwa pengembangan inovasi di dunia perunggasan tidak harus menunggu menjadi sarjana peternakan terlebih dahulu, namun dapat dimulai dari sekarang. Hal senada pernah disampaikan oleh I Ketut Diarmita selaku Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan periode 2016 – 2020 yang mendorong mahasiswa untuk dapat berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan pengembangan pertanian termasuk di dalamnya peternakan. Tujuan yang ingin dicapai tentu agar akademisi dan peternak mampu bersinergi dalam mengembangkan sub-sektor peternakan Indonesia. Partisipasi mahasiswa tersebut dapat disampaikan melalui riset-riset atau kajian ilmiah yang hasilnya dapat ditindaklanjuti pemerintah untuk meningkatkan produksi dan kualitas peternakan Indonesia.
Untuk dapat mengembangkan inovasi, terlebih dahulu mahasiswa harus bangga menjadi bagian dari peternakan, karena semua aspek kehidupan manusia tidak dapat terlepas dari hasil olahan peternakan. Selagi masyarakat Indonesia masih mengonsumsi daging, susu dan telur maka peran dari mahasiswa peternakan tidak akan pernah mati. Selain itu peluang kerja dan berwirausaha bagi lulusan peternakan masih terbuka sangat lebar. Sehingga mari bersama-sama berjuang demi kestabilan dunia perunggasan. Kalau bukan kita siapa lagi, kalau tidak sekarang kapan lagi. *Mahasiswi Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta-Magelang, Jurusan Peternakan
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Agustus 2021 dengan judul “Kontribusi Mahasiswa Peternakan pada Dunia Perunggasan”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silakan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153
Menyukai ini:
Suka Memuat...